Mbah Wo Ethek

— guru, izinkan kuposting cerpenmu sebab rindu ini sekian lama membatu. dan, kau di sana tentu bergumam: gak popo, pul! aku yakin.

[…]

SAYA dan keluarga, biasa menyapanya dengan sebutan Mbah Wo Ethek. Tiap kali terdengar dari kejauhan suara: ethek…ethek…ethek…ethek, saya dan istri biasanya secara spontan langsung bersipandang, lalu mengucap: “Mbah Wo Ethek.”

Kami menandai betul, setiap Jum’at pagi, kira-kira pukul 9, Mbah Wo Ethek akan lewat rumah kami dengan suara dagangannya yang khas: ethek…ethek…ethek…ethek. Dagangan itu berupa manisan, seperti mie tapi sangat tipis bak rambut, warnanya merah, rasanya manis. Dagangan ini di tempatkan dalam dua buah kotak seng yang dipanggul menggunakan bamboo di kiri dan di kanan. Selain dagangan itu, Mbah Wo Ethek juga menjual kipas-kipsan yang terbuat dari kertas dengan warna-warni kombinasi merah, kuning dan hijau, dijepit dengan ruasan bambu tipis.

Entah apa sebabnya, meski menurut kami rasanya sebenarnya biasa-biasa saja, hanya manis belaka, namun anak-anak kami sangat menyukainya. Biasanya kalau membeli manisan itu, sekaligus juga membeli kipas-kipasan yang diselipkan pada kotak seng itu dengan menggunakan karet ban.

Kami punya dugaan kuat, faktor pendorong yang membikin anak-anak kami senang membelinya, bukanlah semata-mata rasa manisnya dagangan ethek itu, atau pun k_rena eloknya kipas-kipsan tersebut, melainkan lebih karena si penjualnya, yakni Mbah Wo Ethek itu, begitu tulus dan sayang kepada anak-anak. Ditambah lagi, wajah Mbah Wo Ethek yang tua itu, memancarkan kelembutan, kearifan, dan pancaran aura yang sulit dikatakan; misterius nan indah dan indah nan misterius.

Tiap kali kami cegat di depan rumah, pertama-tama respon yang diberikannya adalah senyum, dan senyum itu selalu mengingatkan kami akan wajah dan senyum khas guru. Terus terang, saya dan istri punya guru spiritual di pesisir utara (kami tak perlu menyebut kotanya, sebab beliau ndak suka dipamerkan atau disebarluaskan). Nah, yang khas pada guru kami adalah wajah dan senyumnya.

Usia guru kami, kira-kira sama dengan usia Mbah Wo Ethek itu, yakni 70 tahunan. Anehnya, postur tubuh antara guru kami dengan Mbah Wo Ethek pun hampir sama, begitu pula dengan warna kulit maupun raut-raut wajahnya. Itu sebabnya, kami selalu penasaran: siapa sesungguhnya Mbah Wo Ethek ini? Adakah ia sebenarnya guru kami (yang menyamar)? Atau kah ia sebenarnya orang lain, namun memiliki kesamaan maqam (secara spiritual)?

***

Kami sekeluarga telah tinggal di kampung Minggiran ini, kurang lebih empat tahun_n. Baru dua tahun belakangan ini, kami sekeluarga kerap dimuat terheran-heran atau dimisteriuskan oleh kedatangan tamu-tamu tua (usia 70 tahunan) yang kehadirannya hampir bersamaan, yakni dalam rentang waktu dua tahun belakangan.

Pertama, kami kehadiran orang tua (kami sekeluarga biasa menyebut orang-orang seusia itu sebagai wong sepuh) yang aneh. Suatu pagi, di hari Jum’at, orang tua aneh itu datang sebagai peminta-minta (ngemis) namun tanpa mengucapkan sepatah kata permintaan pun, melainkan hanya menengadahkan tangan di pagar rumah kami yang tingginya hanya satu meteran. Saat itu, sayalah yang memberinya uang, tanpa sebelumnya saya hitung berapa uang yang saya berikan itu. Setelah memberi, saya sempat tertegun, sebab orang tua itu tidak mengucapkan terimakasih sebagaimana lazimnya para peminta-minta; setelah diberi, dia pergi begitu saja.

Sebulan kemudian, dia datang lagi, juga pada hari Jum’at pagi, dan masih dengan modus yang sama. Yakni, menengadahkan tangan, diam dan hanya memandang saja. Saya pula waktu itu yang memberinya uang, dan lagi-lagi saya tidak menghitungnya terlebih dahulu, pokoknya ada tumpukan recehan di atas meja, saya ambil dan saya berikan begitu saja. Dan lagi-lagi, ini yang membuat saya agak jengkel dan sekaligus penarasan, orang tua itu pergi begitu saja, tanpa mengucapkan terimakasih, setelah diberi uang.

Saya masih ingat betul wajah orang tua itu. Kelak, setahun kemudian, orang tua ini menjadi guru saya, juga guru dari istri dan keluarga saya. Rumah saya berada di lintasan selatan pulau Jawa, sedangkan rumah orang tua itu berada di pesisir utara. Bayangkan saja, bagaimana semuanya itu bisa? Inilah misteriusnya kehidupan dunia.

Hampir sebulan kemudian, saya menunggu lagi kedatangan orang tua itu. Namun nihil. Malahan yang datang, dan kelak menjadi guru kami yang lain, adalah orang tua yang hampir sama umurnya dengan orang tua yang pertama. Orang tua yang ini bernama Mbah Bilal, dia menunjukkan KTP-nya saat pertama kali datang ke rumah kami. Berasal dari satu daerah dengan kami, namun rumahnya jauh di pelosok selatan, di da_rah pegunungan, dekat dengan pantai selatan.

Sore hari, di hari yang sama dengan orang tua yang pertama, yakni Jum’at, dia datang dengan memanggul goni. Mengenakan celana pendek selutut berwarna hitam dan kaos oblong yang sudah kusam warna putihnya. Mulanya kami menganggap orang  tua ini adalah peminta-minta. Tapi tidak? Ia mengucapkan kulonuwun, bertamu. Kami sekeluarga mempersilahkannya masuk, lalu kami suguhi minuman kopi dan makanan kecil layaknya tamu. Dia bertanya nama saya dan nama istri saya yang turut menemani, lalu ia menunjukkan KTP-nya. Setelah itu, dengan rileks dan leluasa, ia menggendong satu persatu anak kami dan diajaknya bermain di halaman. Orang tua ini, memang sok akrab dan mudah akrab dengan anak-anak kami layaknya orang sepuh pada umumnya.

Semenjak itu, Mbah Bilal ini rutin datang ke rumah kami setiap 40 hari sekali, yakni pada hari Jum’at. Dan penampilannya tidak pernah berubah, mengenakan celana pendek warna hitam dan kos oblong warna putih kusam.

Hampir bersamaan kehadirannya dengan Mbah Bilal, tidak lain adalah Mbah Wo Ethek itu. Cuma bedanya, Mbah Wo selalu lewat depan rumah kami pada hari Jum’at pagi, dan tidak pernah mampir atau masuk rumah kami, sebab dia menjajakan dagangan. Sedangkan Mbah Bilal pada sore hari, sama-sama Jum’atnya, namun pada hari yang berbeda.

***

Kami sekeluarga cepat berhubungan secara akrab dengan Mbah Wo Ethek, apalagi kami selalu memberi uang yang lebih tatkala membeli dagangannya. Tapi faktornya, ya itu tadi, karena dia misterius dan dia mirip dengan guru kami. Karenanya, kami harus hati-hati, jangan sampai salah sangka dan salah bersikap lagi, seperti terhadap orang tua yang pertama di atas yang kelak menjadi guru kami.

Suatu kali, pernah Mbah Wo Ethek ini, berhenti agak lama di depan rumah kami. Dan kami terlibat perbincangan yang akrab.

“Mbah, panjenengan ini namanya siapa? Supaya kami bisa menyapa secara baik,” Tanya saya.

“Nama saya Marto, Nak,” jawabnya lugu sembari malu-malu, santun, penuh misteri.

“O…Mbah Marto, tho,” saya dan istri bersamaan mengucap, lalu bersipandang dan tersenyum.

“Boleh, Mbah, kalau kami memanggil dengan Mbah Wo?” ucap saya.

Ndak apa-apa, Nak.” Lagi-lagi dia tersenyum, sejuk sekali.

“Rumah Mbah, dimana?” istri saya menyusul bertanya.

“Aslinya di daerah selatan sana…” Mbah Wo menunjuk arah yang membuat kami teringat dengan alamat rumahnya Mbah Bilal, “tapi saya ngontrak rumah di dekat sini saja, di barat perempatan, dekat jembatan Ring Road selatan.”

“Lalu, istri dan anak-anak Mbah Wo?” istri saya makin penasaran bertanya.

“Istri tinggal di desa bersama anak bungsu, sedangkan kakak-kakaknya sudah pada mandiri dan beberapa ada yang tinggal di Jakarta.”

Lagi-lagi, saya dibikin penasaran dengan jawaban Mbah Wo ini, sebab ada kemiripan dengan Mbah Bilal, baik dari senyumnya maupun tentang keluarganya.

“Mbah Wo kenal dengan Mbah Bilal?” tanya saya.

“Kenal.”

Wah, pendek sekali jawabannya, ucap batin saya. Jangan-jangan Mbah Wo ini sebanarnya adalah juga Mbah Bilal.

“Kerap bertemu, Mbah?”

“Sering bersama satu bus, kalau sama-sama berangkat ke kota.”

Sudahlah, mungkin memang lain antara Mbah Wo dengan Mbah Bilal. Lagi pula, untuk apa saya tidak mempercayai jawaban Mbah Wo.

Tapi, kok mirip sekali wajah, senyuman dan penampilan Mbah Wo ini dengan Mbah Bilal maupun guru kami? Sungguh, sampai detik ini pun saya dan istri belum benar-benar mengerti. Walau pun kerap kami menyadari, bahwa dunia ini memang tidak semuanya dan tidak harus semuanya kami mengerti; ada hal-hal yang mengungkapkan dirinya dengan jelas, dan juga ada hal-hal lain yang terselimuti misteri. Seperti Tuhan Sang Pencipta itu sendiri; Dia Dhahir dan Dia Batin, Dia Gamblang dan sekaligus Penuh Misteri. [zainal arifin thoha]

2 Comments

  1. Jek hidu tah mas mbahq wo ether karo mbahq nikale.??

  2. Sepetinya mereka malikat..😀


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s