Obama, Pagi Kedelai Sore Tempe

OBAMA itu sihir dunia. Terpilihnya sebagai orang nomor wahid di negeri Paman Sam sekaligus meneguhkan diri sebagai presiden kulit hitam pertama di sana merupakan capaian gemilang karir politik yang susah dicari padanan. Dunia pun bersorai. Hatta menjalar ke Indonesia. Lebih-lebih lantaran Obama sempat mencecap nasi goreng, bakso, dan sederet menu kuliner khas nusantara selama beberapa warsa tinggal di daerah Menteng Dalam.

Optimisme pun meruyak. Dunia menaruh ekspektasi luar biasa bahwa Obama sanggup meneluhkan kebijakan revolusioner dalam merekonstruksi wajah  bopeng perdamaian terutama Israel-Palestina di kawasan Timur Tengah. Dus, kerampatan emosional dengan Indonesia diharapkan mengubah arah biduk kepentingan luar negeri Amerika terhadap Indonesia.

Tapi, sungguhkah gayung bersambut? Buku ini membabar jawaban-jawaban krusial seturut informasi akurat nan lengkap yang selama ini jarang terungkap. Tanpa berpretensi apa-apa, buku ini menyodorkan fakta dan data yang amat sayang dilewatkan pembaca.

Sebab sukar ditangkal, menapak dua warsa kepemimpinan Obama tak kunjung terjadi perubahan radikal. Kebanyakan janji politik semasa kampanye yang kerap membius logika akal budi tak ubahnya sekadar pepesan kosong. Jauh panggang dari api. Kepercayaan masyarakat dunia yang terlanjur menggumpal perlahan mencair menjadi bongkah-bongkah keraguan.

Lihat saja, insiden berdarah Mavi Marmara. Kapal dengan misi kemanusiaan untuk rakyat Palestina itu tiba-tiba disergap dan dibombardir tentara Israel dengan sangat brutal pada pagi buta di penghujung Mei 2010 (hal. 135). Obama mafhum, tapi bereaksi sebatas maklum. Bahkan pernyataan resminya justru menyiratkan dukungan terhadap aksi biadab Israel tersebut. Dan, tragedi Mavi Marmara menjadi noktah hitam kepercayaan masyarakat dunia kepada Obama.

Buku ini segera menggedor nurani kesadaran pembaca bahwa Obama sesungguhnya bukan siapa-siapa di tengah kuatnya lobi dan konspirasi Israel-Amerika yang telah berlangsung puluhan warsa. Sebelum Obama, semua presiden Amerika—kecuali John F. Kenedy dan Abraham Lincoln—hampir bisa dipastikan membangun komitmen tersembunyi untuk selalu mendukung Israel.

Semenjak era Presiden Harry S. Truman pada 1940-an hingga sekarang, Israel menikmati fasilitas tak terbatas dari Amerika berupa bantuan ekonomi, militer, perlindungan diplomatik, hingga dukungan perang. Hal ini tidak semata-mata lantaran kesamaan kepentingan, namun akibat pertautan doktrin “Kehendak Tuhan” dalam Kitab Suci, terutama Kitab Kejadian pada Perjanjian Lama. Maka, JFK dan Abraham Lincoln adalah tumbal dari konspirasi “Kehendak Tuhan” tersebut (hal. 50-60).

Obama sejatinya sama sekali tak punya nyali sebagaimana dua presiden naas itu. Apalagi jika menilik latar belakang keluarga yang dikerumuni kerabat berdarah Yahudi. Sebut saja Capers Funye yang tak lain sepupu istrinya, Michelle Obama. Funye inilah yang memediasi kontrak politik Obama dengan masyarakat Yahudi Chicago sekaligus menjadi piranti lobi politis dengan Israel. Maka tak heran bila popularitas Obama meroket di Chicago.

Dukungan luas masyarakat Yahudi yang mendudukkan Obama di kursi kepresidenan Amerika tentu tidaklah gratisan. Ada imbalan yang mesti ditunaikan. Pada posisi demikian, Obama kerapkali menerapkan standar ganda dalam menyikapi pelbagai aksi teror di pelbagai belahan dunia. Di satu sisi, ia berteriak lantang dengan retorika berapi-api mengutuk serangkaian aksi terorisme. Namun di sisi lain, ia seolah menutup mata, membisu, dan tak melakukan apa-apa atas kekejaman dan kebiadaban Israel terhadap warga Palestina. Betapa kasat mata hipokritisme Obama. Sebab ia membiarkan kebrutalan Israel namun menyumpahserapah aksi kekerasan oleh pelaku berbeda (hal. 255).

Standar ganda itulah yang meneguhkan imperalisme demokratik Amerika. Tindak kekerasan ditabalkan untuk mendakwahkan dan menyebarluaskan wacana sekaligus praktik demokrasi. Demokrasi yang semestinya bertumpu pada kebebasan dan otonomi dicangkokkan dengan kekuatan militer yang bersandar pada jalan perang dan penaklukan.

Kasus invasi Amerika ke Afghanistan pasca tragedi 11 September 2001 selama tak kurang dari sewindu dengan dalih memerangi terorisme merupakan pijar imperialisme demokratik itu. Padahal ada agenda terselubung yang tak terendus. Invasi ke Afghanistan adalah perintah para konglomerat Zionis yang menguasai lobi Yahudi di Kongres AS. Tujuannya jelas, ingin menguasai tambang logam mulia dan migas di Asia Tengah, terutama di Afghanistan  yang melimpah ruah.

Buku setebal 296 halaman ini bakal menuntun pembaca menyusuri lorong gelap kecamuk pertikaian kawasan Timur Tengah. Dipilah berdasar pemaparan fakta dan ada apa di balik fakta, konflik dan ketegangan begitu terasa, sehingga pembaca serasa terlibat dan mengalami langsung kepedihan tanpa ada jarak psikologis.

Ditulis dengan gaya reportase jurnalistik, bahasa yang renyah dan energik khas liputan media, buku ini mencuatkan beragam kemungkinan logis yang dilatari kemesraan Amerika-Yahudi serta ketidaktegasan Obama untuk menindak arogansi Israel. Maka, wajar bila Obama dinilai tidak bisa konsisten: pagi kedelai sore tempe. []
Judul Buku: Obama Di Balik Aksi Yahudi
Penulis: Ruslani & Toto Suparto
Penerbit: Galangpress Yogyakarta
Cetakan: Pertama, 2010
Tebal: 296 halaman

*) Saiful Amin Ghofur, Redaktur Jurnal Millah MSI UII Yogyakarta.
**) Dimuat Jawa Pos, 6 Februari 2011

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s