Menikmati Godaan Tuhan

“TUHAN, aku ingin berbicara dengan Engkau dalam suasana bebas. Aku percaya bahwa Engkau tidak hanya benci pada ucapan-ucapan munafik, tapi juga benci pada pikiran-pikiran munafik, yaitu pikiran-pikiran yang tidak berani memikirkan yang timbul dalam pikirannya, atau pikiran-pikiran yang pura-pura tidak tahu akan pikirannya sendiri.”

Itulah setangkup kegelisahan Ahmad Wahib dalam catatan harian Pergolakan Pemikiran Islam tertanggal 9 Juni 1969 yang bertudung “Tuhan, Maklumilah Aku”. Dalam larit-larit kalimat itu jelas membekas gurat-gurat kegalauan seorang pemuda kelahiran Madura terhadap nalar ketuhanan. Wahib tenggelam dalam sebuah renungan kelam di mana tidak sembarang orang berani menyelam ke sana.

Ritme kegalauan tersebut serasa dilantangkan kembali oleh Arief Budiman dalam Tuhan Sang Penggoda. Memang, sejak membuka halaman pertama buku ini kesan Wahibian sama sekali tak bisa dielakkan. Ruh kemerdekaan berpikir yang diletupkan Wahib di era 1970-an benar-benar merasuki logika berpikir Budiman.

Hanya saja, jika dibandingkan dengan catatan harian Ahmad Wahib, konstruksi logika berpikir Budiman dalam buku ini masih kurang sistematis. Setidaknya ini bisa diurai dari latar keilmuan dan faktor lingkungan. Logika berpikir Budiman diasah di lingkungan akademik Institut Seni Indonesia (ISI), sehingga ia bisa menjaring serangkum peristiwa dengan cara jenaka.

Justru, di sinilah kelebihan buku Budiman. Ia tidak terjebak pada formalitas doktrinal serta mampu mengesampingkan batas-batas idelogis dan akademis, sehingga catatannya meski meruang-mewaktu namun serasa bernyawa, segar, selalu hidup dan berdialektika dengan pembaca di ruang-waktu yang lain.

Apalagi Budiman kerap menggunakan pronomina saya. Dengan begitu, ia telah menerabas rentang psikologis pembaca buku. Walau semula saya merujuk pada Budiman, namun saya akan merepresentasikan masing-masing eksistensi pembaca, sehingga seolah-olah pembaca terlibat dalam setiap peristiwa yang berkelebat dan mengalami langsung perjalanan ruhani di mana kesadaran nurani yang paling hakiki menemukan kesejatian makna. Setiap pembaca adalah saya yang senantiasa bergerilya dalam rimba belantara kehidupan. Dengan begitu, ketika membaca Tuhan Sang Penggoda peluang berinstrospeksi dan mengevaluasi diri pun terasa amat lempang.

Buku ini merupakan cermin pergulatan hidup Budiman yang terserak dalam rentang waktu 11 tahun, sejak 1998-2009. Waktu yang tidak terlampau panjang sebenarnya bila menggambarkan secara utuh pola konstruktif kedirian, namun dengan kejelian ektrim ia sanggup merekam puzzle-puzzle pemikiran atas sengkarut nomena dan fenomena yang dialami saban hari. Hanya saja, puzzle pemikiran itu tak disusun secara kronologis, tetapi tematis dengan 4 klusterisasi besar: Mencari Jalan Pulang, Menuju Batas Langit, Mencari Rumah Tuhan, dan Mengais Remah Kehidupan.

Masing-masing kluster berbicara tentang satu bahasan khusus, sehingga satu sama lain dihubungkan seutas benang merah yang membentuk gambaran besar mengenai upaya serius untuk mewujudkan impian dalam kehidupan. Budiman merentangkan impian itu sepanjang jangkauan. Namun seperti lazimnya mimpi, tak semua mudah dinyata.

Budiman mengobarkan semangat alang-alang. Sebagian besar catatan pemikirannya dilandasi optimisme yang begitu teguh. Nyali yang kokoh. Simak selarit catatan tersebut: “Tuhan, Engkau baik hati meskipun kadang kurang ajar. Saya tahu Engkau tidak akan menghadirkan keajaiban pada hamba-Mu yang lemah. Karena itu, saya tidak menyerah.” (hlm. 92)

Begitulah kegundahan optimistis yang tanpa malu-malu diungkap secara telanjang. Budiman mengemas kegundahan yang bertalu-talu menjadi sebongkah rindu yang begitu menggebu-gebu kepada Tuhan. Persoalan ketuhanan yang selama ini diasumsikan rumit dan berbelit-belit di tangan ajaib Budiman berubah menjadi hal yang mudah seperti air yang mengalir dari dataran tinggi menuju dataran rendah.

Hal lain yang tak kalah dilantangkan Budiman terutama terkait dengan otokritik sosial. Budiman lihai membidik perisitiwa anomali sosial secara kocak. Slengekan. Tapi malah menyemai benih-benih edukatif secara substansial. Laiknya melakukan tembakan ribon, kesalahan seolah ditimpakan liyan namun justru kembali tertuju kepada diri sendiri.

Lihat misalnya, kegelisahan Budiman terhadap budaya instan televisi yang telah meracuni karakter anak-anak: “Bahwa lingkungan dan media televisi telah mengajari mereka secara otomatis tanpa disadari. Terkadang merasa sebagai Sun Goku, Ksatria Baja Hitam, Saras 008, atau yang lain. Dan, anak-anak hanyalah sekadar kaca jernih pemantul realitas.” (hlm. 255).

Menyimak aliran catatan Budiman dalam buku ini kita serasa dituntun untuk mengeja kembali kenaifan, memakzulkan kealpaan, mengevaluasi diri seraya berbenah dan berubah. Masih terbuka kesempatan lempang untuk menginsyafi kekeliruan sembari mengangsur perubahan yang lebih baik. Dan, Budiman telah menggarisbawahi bahwa setiap peristiwa yang terjadi, betapapun buruknya, mesti disyukuri dan diterima dengan besar hati. Sebab, pada akhirnya akan ditemui sintesis betapa Tuhan sebenarnya hanya menggoda.

Rasa-rasanya membaca Tuhan Sang Penggoda kita tersundut pada sebuah keniscayaan sebagai seorang manusia yang terus berkelana, mengembara dalam alunan simponi merdu alam raya demi mengulik misteri kehidupan. Dan, kita patut angkat topi tinggi-tinggi atas kebersahajaan Budiman memandu kita melakukan ziarah spiritual menikmati godaan Tuhan yang sangat mengasyikkan. Sungguh!

Judul Buku      : Tuhan Sang Penggoda
Penulis             : M. Arief Budiman
Penerbit           : Galangpress, Yogyakarta
Cetakan           : Pertama, 2010
Tebal               : 298 halaman

*) Saiful Amin Ghofur, Redaktur Jurnal Millah MSI UII Jogjakarta.
**) Dimuat Jawa Pos, 24 Oktober 2010

1 Comment

  1. hmm….sip…salut…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s