Tjap Orang Jadzab

KEBANYAKAN tamu yang sowan ke Ndalem Gus Fadil selalu terpancang dengan sebuah stiker yang tertempel di pintu, sebuah gambar aneh yang dibawahnya terdapat tulisan Tjap Orang Jadzab.

“Maksudnya ‘orang jadzab’ itu apa tho, Gus?” demikian seorang tamu muda bertanya kepada Gus Fadil.

“Jadzab itu merupakan istilah dalam dunia sufi atau tasawuf,” jelas Gus Fadil, “artinya kurang lebih adalah orang yang tercerap dalam mahabbah atau kecintaan kepada Allah SWT. Karena tercerap, tentu saja sikap hidup dan tutur katanya bagi orang kebanyakan jadi terasa ora lumrah atau tidak umum. Sehingga orang semacam ini kerap dianggap gila.”

“Apakah di zaman sekarang ini, ada orang yang jadzab seperti itu?” Tanya tamu muda itu lagi.

“Insya Allah masih banyak, hanya saja kita sulit membedakan, sebab yang gila sungguhan juga tak kalah banyaknya.”

“Maksudnya gila sungguhan itu apa, Gus?”

“Gila sungguhan itu, ya gila karena pengaruh setan. Sehingga akal pikirannya tidak karuan, begitu pun tindakannya jauh dari cerminan Ketuhanan. Bagi orang umum, keduanya memang agak sulit dibedakan, namun bagi orang yang telah memiliki ilmu tasawuf dan memiliki mata batin yang jernih, keduanya sangat mudah dibedakan. Sebab pada dasarnya antara jadzab dan gila itu sangat jauh bedanya.”

Gus Fadil sendiri memang dikenal oleh masyarakat kerap kedatangan tamu yang aneh-aneh, artinya tidak lumrah bagi umumnya tamu yang datang kepada orang seperti Gus Fadil yang dikenal sebagai pengasuh Pesantren yang sekaligus juga seorang dosen itu.

Tidak jarang tamu Gus Fadil adalah orang-orang tua, yang sudah lanjut usia, dengan pakaian yang macam-macam; ada yang berjubah, ada yang berpakaian tambalan, ada yang seperti petani desa, pun juga ada yang seperti pencari rumput, maupun seperti pengemis. Namun semuanya diterima oleh Gus Fadil secara wajar, bahkan Gus Fadil cenderung lebih menghormat kepada orang-orang seperti ini, ketimbang kepada tamu pada umumnya. Hal inilah yang kerap membuat penasaran para tetangga Gus Fadil.

Kepada tetangga yang memiliki pengetahuan terhadap ajaran tasawuf, Gus Fadil menjelaskan bahwa tamunya itu memang termasuk istimewa. Karena itu sebaiknya jangan sampai orang seperti itu dicela, malahan sebaliknya mustinya kita meminta agar beliau (tamunya itu) sudi mendoakan kita, sebab bisa jadi beliau itu memang diutus Tuhan untuk menolong kita.

Sedangkan kepada tetangga yang tidak atau kurang memiliki wawasan tasawuf, Gus Fadil biasanya menjelaskan, bahwa tamunya itu orang dari desa yang suka silaturrahim. Sehingga kita pun musti menerimanya secara baik, sebagaimana kepada tamu pada umumnya.

Ada pun kepada para santrinya, Gus Fadil kerap membandingkan tamu-tamu seperti itu dengan kisah-kisah sufi dalam dunia tasawuf.

Tersebutlah Abu Hafs, ucap Gus Fadil kepada para santrinya, nama lengkap beliau ini adalah Abu Hafs al-Haddad an-Naysaburi. Beliau adalah sufi besar yang sezaman dengan Syaikh Junaid al-Baghdadi (guru agung para sufi). Meski seorang yang terpandang di kalangan para sufi sezamannya, namun Abu Hafs ini lebih cenderung tidak menunjukkan diri, apalagi menonjol-nonjolkan diri. Malahan sebaliknya beliau kerap bekerja di pasar-pasar sebagaimana layaknya masyarakat pada umumnya, bahkan beliau kerap terlihat sebagai seorang pembersih pasar atau pun pembersih toilet. Sehingga kebanyakan orang tidak tahu, bahwa sebenarnya beliau adalah seorang aulia atau ulama besar. Dan hanya orang-orang tertentu, yang maqam (tingkatannya) sederajat di sisi Allah yang mengetahuinya.

Adalah Abu Muzahim asy-Syirazi, seorang aulia dan ulama besar, suatu hari beliu mengadakan perjalanan ke luar daerah. Saat tiba di sebuah pasar, dan demi mengetahui Abu Hafs mengenakan pakaian amat sangat sederhana dan tengah bekerja membersihkan toilet, maka Abu Muzahim pun segera mencopot pakaian kebesarannya dan kemudian mengenakan pakaian amat sederhana pula, lalu membantu Abu Hafs bekerja sebagai pembersih toilet.

“Itu hanya satu cerita dari banyak cerita sufi,” tandas Gus Fadil kepada para santri, “tapi intinya, saya ingin menyampaikan kepada Sampean semua, jangan sampai kita ini memandang rendah orang lain, apalagi menghina, kepada orang-orang yang secara fisik terlihat seperti peminta-minta atau pekerja rendahan. Karena kita cenderung tidak tahu, siapakah ia sebenarnya. Kalau sampai kita tergelincir memandang rendah terhadap Kekasih (Wali) Allah, maka celakalah nasib kita. Sebab bagaimana mungkin kita merendahkan orang yang ditinggikan derajatnya oleh Allah.”

“Bagaimana cara kita mengetahui, bahwa orang ini Kekasih Allah, dan orang itu bukan kekasih-Nya?” Tanya seorang santri kepada Gus Fadil.

“Pertama-tama, tanyakanlah kepada hatimu, bagaimana harusnya kamu bersikap kepada orang tertentu yang membuatmu penasaran itu.”

“Kalau kita ragu terhadap jawaban hati kita sendiri, lantas kita harus bagaimana, Gus?”

“Kalau engkau ragu, maka bersikaplah wajar, sebagaimana engkau bersikap baik kepada umumnya orang, yang penting jagalah hatimu jangan sampai merendahkan orang. Sebab sikap kita adalah cermin dari pribadi kita; apabila kita cenderung merendahkan orang, maka ketahuilah sesungguhnya dirimu sendiri masih rendah. Sebaliknya, apabila dirimu cenderung menghormati atau memuliakan orang lain; Insya Allah engkau termasuk orang yang mulia pula.” []

*) KH. Zainal Arifin Thoha, Pengasuh PPM. Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

**) Tulisan ini diunggah sebagai bakti abadi terhadap Gus Zainal yang wafat pada Rabu, 14 Maret 2007.

3 Comments

  1. semoga allah menjadikan kita wali sirr

  2. hmm….

    • kenali Habieb Abu bakar Assegaf di Ponpes Sabililil muttaqin 100 m barat stasiun nganjuk, Seorang Wali Majdub


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s