Zikir Mipil Jagung

SAYA termasuk beruntung, lantaran saya didaup Gus Fadil untuk nderekke beliau sekeluarga ke Kediri. Maka pada hari Jum’at, 26 Mei 2006, kurang lebih pukul 10 siang, kami berangkat ke Kediri. Hingga ketika azan shalat Jum’at terdengar, kami mampir ke masjid di daerah Sragen timur. Hal paling indah, adalah apa yang disampaikan Khatib di mimbar, agar manusia senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT, terutama melalui zikir.

Zikir, ucap sang Khatib, tidak hanya bisa dikerjakan sesudah melaksanakan shalat fardlu, melainkan di tiap-tiap waktu dan di tiap-tiap tempat, baik dalam keadaan berjalan, duduk, atau pun berbaring, zikir bisa dikerjakan. “Ingatlah Allah selalu, maka Allah akan mengingatmu selalu, dan bersyukurlah kepada-Nya,” demikian ucap sang Khatib menukil sebuah ayat dalam Kitab Suci Al-Qur’an, tepatnya berbunyi:

Fadzkuruunii adzkurkum wasykuruulii wa-laa takfuruun; karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku” (QS. Al-Baqarah, 2:152).

Saya baru menyadari, terutama atas apa yang sejak mulai berangkat dari Jogja dilakukan Gus Fadil, dimana beliau memegang tasbih dan terus-menerus memutarnya dengan bibir mimil, mengucapkan zikir kepada Allah SWT. Dan Alhamdulillah, bukan hanya Gus Fadil saja yang merasakan ketenangan, melainkan kami semobil serombongan juga turut merasakan kenikmatan dan ketenangan dari zikir yang senantiasa beliau lakukan.

Dalam perjalanan itu, saya melihat Gus Fadil kerap memperhatikan alam, yang terlewati di sisi kanan dan kiri, lantas beliau tersenyum-senyum sendiri, atau jika tidak begitu, terlihat di wajah beliau tiba-tiba sedih, hendak menangis. Begitu seterusnya berganti-ganti, antara sedih dan gembira, antara senyuman dan kepedihan.

Karena penasaran, maka saya pun memberanikan diri bertanya. “Maaf, Gus, dari tadi saya perhatikan Panjenengan melihat alam di sisi kanan dan kiri, lalu tersenyum sendiri, bersedih sendiri, dan seterusnya. Apa sesungguhnya yang Panjenengan lihat atau rasakan?”

Gus Fadil tidak langsung menjawab, beliau sekali lagi memandang ke arah alam, di samping kiri dan kanan, lalu memandang ke depan, kemudian tertunduk, seperti merenung.

“Begini, Mas Arif, kalau Sampean mirsani, sesungguhnya alam pun berzikir kepada Tuhan. Tanaman-tanaman itu berzikir, burung-burung atau binatang-binatang itu berzikir, bahkan tanah, udara, atau api pun berzikir. Semuanya memuji Allah, mengagungkan Allah, semuanya tunduk, memohon dan bersyukur kepada Allah. Hanya manusia saja, manusia seperti kita, yang kerap lalai dan tidak berzikir, apalagi bersyukur kepada Allah.

Jika saya tersenyum atau bergembira, itu karena saya mengingat karunia yang telah Allah berikan kepada saya, berupa ingatan akan Kekuasaan-Nya, ingatan akan kelebihan yang diberikan kepada saya, juga termasuk kekuatan untuk senantiasa berzikir kepada-Nya. Itulah yang membuat saya bergembira, dan saya pun tersenyum tatkala melihat dan merasakan betapa alam pun juga berzikir kepada-Nya.

Apabila saya bersedih atau hendak menangis, itu karena saya teringat akan perbuatan-perbuatan saya, betapa banyak waktu dan hari-hari yang telah saya sia-siakan, entah untuk maksiat atau pun aktivitas yang lainnya yang membuat saya lupa, bahkan sombong, sehingga mengingkari secara tidak sadar akan karunia Allah SWT. Padahal, alam itu, pohon-pohon dan tetumbuhan itu, demikian pula halnya tanah, udara, dan binatang-binatang itu tak pernah lupa kepada Sang Penciptanya, mereka pun juga tak pernah bermaksiat kepada-Nya. Inilah yang membuat saya menyesal, sedih, memangis. Betapa selama ini saya telah menzalimi diri saya sendiri dan juga menzalimi sesama atau menzalimi makhluk Allah yang lain. Sungguh amal-ibadah saya tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan kesalahan dan dosa-dosa saya.”

Saya pun tertunduk, sedih, dan tiba-tiba seperti ada gunung yang ditumbukkan ke kepala saya, dan gunung itu tidak lain adalah dosa-dosa dan kesalahan saya. Maka saya pun berusaha terus-menerus beristighfar, mohon ampunan dari Allah SWT atas kezaliman diri saya. Hingga tak terasa, kami telah memasuki kota Kediri.

Karena kecapekan, malam itu saya lelap tertidur. Hingga Sabtu pagi hari, 27 Mei 2006, pukul 6 kurang sedikit, bumi terasa gergoyang-goyang, dan ternyata ada lindu. Dugaan saya terarah kepada gunung Kelud di timur kota Kediri, namun kata orang-orang hal itu tidak mungkin. Lalu saya teringat gunung Merapi yang kami tinggalkan di Yogya; mungkin saja, kata orang-orang.

Siang ketika televisi menyiarkan berita yang bersifat News, barulah saya tahu, ternyata Yogyakarta dan sekitarnya diguncang oleh gempa, hingga terjadilah bencana. Ribuan orang berlari tunggang-langgang oleh isu Tsunami, ribuah rumah berobohan, dan ribuan mayat bergelimpangan, ribuan lainnya berjajar dan bertubrukan di rumah-rumah sakit. Tiada kata yang terucap, kecuali Inna-Lillah, sekaligus juga Alhamdulillah.

Dan ada yang menterjagakan saya, ketika seorang kakek tetangga Gus Fadil mengatakan kepada saya: “Orang yang suka ‘mipil jagung’ Insyaallah diingat dan diselamatkan oleh Allah.”

Dan ketika saya tanyakan kepada Gus Fadil mengenai apa yang disampaikan kakek itu, beliau menjawab: “Mipil jagung itu tidak lain adalah zikrullah.”

Kembali air mataku meleleh dan hatiku kian berguncang-guncang. Allahu Akbar!!! []

*) KH. Zainal Arifin Thoha, Pengasuh PPM. Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

**) Tulisan ini diunggah sebagai bakti abadi terhadap Gus Zainal yang wafat pada Rabu, 14 Maret 2007.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s