Turuo Longan Sanguo Cengkir

GEMPA dan bencana yang menimpa Yogya serta daerah sekitarnya, sungguh bukan hanya meluluh-lantakkan rumah-rumah atau pun gedung-gedung, melainkan juga meluluh-lantakkan hati saya. Tiba-tiba saya merasa jadi linglung, apa yang musti saya perbuat, apa yang harus saya lakukan? Semuanya serba semrawut dan tak kunjung menemu jawaban, tak kunjung mendapat pawedar.

Pada saat seperti itulah saya teringat akan kakek yang menjadi tetangga Gus Fadil di daerah Kediri itu. Kudatangi dan kuntanyakan kepada beliau, apa atau bagaimana sikap saya atas gempa dan bencana yang menimpa Yogya itu?

“Apa yang Sampean lakukan selama ini sudah benar, tinggal meneruskan,” ucap kakek itu.

“Apa yang telah saya lakukan selama ini, Kek?”

“Sampean telah dilatih oleh Gus Fadil untuk turu-longan sangu-cengkir.”

“Maksudnya bagaimana, Kek?”

“Tanyakan saja kepada Gus Fadil, beliau telah mengerti itu.”

Akan halnya dengan Gus Fadil, sungguh saya tidak terlalu berani mengganggu beliau. Semenjak gempa dan bencana menimpa Yogya, beliau banyak merenung, bersedih, kemudian terlihat tenggelam dalam zikir, baik sesudah melaksanakan shalat atau pun saat duduk-duduk atau pun bepergian.

Namun demikian, rasa penasaran saya tidak terbendung lagi. Kepada beliau saya menanyakan apa yang telah disampaikan sang kakek itu.

Turu-longan itu,” ucap Gus Fadil, “bukan sekedar mengurangi tidur, dalam makna yang harfiah, sebab pada zaman ini kita lebih banyak membutuhkan kesehatan diri untuk beribadah di berbagai bidang kehidupan, dan itu dibutuhkan stamina, serta cukup istirahat. Turu-longan itu, secara hakiki, tidak lain adalah mengurangi ketidak-sadaran serta menambah kesadaran, yakni memperbanyak sadar kepada Allah SWT. Tidur yang dimaksud disitu adalah ora-eling atau ketidaksadaran diri akan Allah. Itulah yang harus dikurangi. Sehingga kita harus memperbanyak eling kepada Gusti, yakni dengan zikrullah.

Sedangkan sangu-cengkir, adalah memaksimalkan pikiran untuk berefleksi, untuk merenung, terutama mengenai hakikat kehidupan ini; mengapa kita diciptakan, mengapa kita dihidupkan, dan untuk apa kita dihidupkan, dan seterusnya. Apabila kita betul-betul merenungkan hal itu, dan kita memohon petunjuk serta bimbingan dari Allah SWT, Insyaallah kita akan mendapatkan cahaya, ilmu dan petunjuk dari-Nya. Dan apabila kita telah diberi petunjuk oleh-Nya, maka perjalanan hidup kita akan bermanfaat, bukan hanya bagi diri sendiri dan keluarga, melainkan juga bagi sesama, termasuk alam dan lingkungan kita.”

Karena kurang puas, maka saya memohon kepada Gus Fadil untuk menambah ilmu dan wawasan lagi kepada saya, terutama mengenai zikrullah yang kerap beliau haturkan itu.

“Begini,” ucap Gus Fadil, “Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur’an: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut Allah, gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka dan kepada Tuhanlah mereka bertawakal, yaitu orang-orang yang mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya, juga mendapatkan ampunan serta rezeki atau nikmat yang mulia (QS. Al-Anfal, 8:2-4).

Hati yang gemetar itu tidak lain adalah hati yang senantiasa ingat atau berzikir kepada Allah. Para ulama menyebut zikir itu meliputi tujuh arah, yakni: 1) zikirnya kedua belah mata adalah menangis, menangisi dosa-dosa dan kezaliman diri; 2) zikirnya kedua belah telinga adalah mendengarkan penuh perhatian, yakni atas ajaran, nilai, dan hikmah dari agama yang mendekatkan diri kita kepada Tuhan dan menjauhkan diri dari kemaksiatan; 3) zikirnya lisan adalah menyanjung, yakni menyanjung dan mengagungkan Allah SWT; 4) zikir kedua belah tangan adalah memberi, yakni bersedekah dan membantu sesama dalam kebaikan; 5) zikir badan adalah setia dan menepati janji, yakni bersikap amanah; 6) zikir ruh adalah rasa takut dan penuh harap kepada Allah; dan 7) zikir hati adalah pasrah dan ridlo kepada Alah SWT.”

Sampai di sini, hati saya tiba-tiba jadi tenteram. Alhamdulillah Allah SWT telah memberi ilham lewat hati saya, apa yang harus saya lakukan, bagimana sikap saya terhadap gempa atau pun musibah yang menimpa masyarakat Yogya dan sekitarnya. Turuo-longan sanguo-cengkir, ternyata membuahkan cahaya petunjuk bagi kita, sebab zikrullah itu sendiri pada dasarnya mengingat dan mensyukuri karunia yang diberikan Allah kepada kita, yakni melalui ibadah kepada Allah SWT lewat pengabdian terhadap sesama. Sebagaimana Rasulullah Saw telah bersabda: “Khairunnaas anfa’uhum linnaas; Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya.” []

*) KH. Zainal Arifin Thoha, Pengasuh PPM. Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

**) Tulisan ini diunggah sebagai bakti abadi terhadap Gus Zainal yang wafat pada Rabu, 14 Maret 2007.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s