Sepasang Suami-Istri di Idul Fitri

SUATU hari, bersama saya ada juga sepasang suami-istri yang juga tengah sowan kepada Gus Fadil. Lalu Gus Fadil –tentu sambil mempersilahkan kepada kami untuk menikmati hidangan di Ndalem-nya—bercerita bahwa beliau bersama istrinya beberapa saat sebelumnya sowan kepada Gurunya dan bertanya tentang hubungan antara suami dengan istri.

Kepada Gurunya, seorang Kiai Tarekat yang sudah sepuh, Gus Fadil bertanya tentang apakah seorang istri boleh marah kepada suaminya? Gurunya menjawab, bahwa seorang istri sama sekali tidak boleh marah kepada suaminya. “Walau pun suaminya itu termasuk orang yang tidak baik atau suka berbuat yang kurang baik kepada istrinya?” tanya Gus Fadil penasaran. “Iya, walau pun suaminya adalah tipe suami yang kurang baik, atau tipe suami yang kurang bertanggung-jawab terhadap istrinya, seorang istri tetap tidak boleh marah kepada suaminya,” tegas sang Guru.

Waktu itu, cerita Gus Fadil, beliau melirik kepada sang istri. Tapi sang istri rupanya tengah menunduk. Dan memang, dalam pandangan saya, istri Gus Fadil memang tipe istri yang sholehah, sehingga dugaan saya, bahwa yang ditanyakan Gus Fadil itu berkenaan dengan kasus-kasus suami istri yang kerap cekcok dan mengadu kepada Gus Fadil.

Gus Fadil juga bercerita, bahwa kepada sang Guru, beliau juga bertanya, apakah seorang suami boleh atau harus melaksanakan usulan-usulan dari istrinya? Di luar dugaan Gus Fadil, ternyata sang Guru menjawab, bahwa seorang suami hanya berhak menerima usulan dari istrinya, tapi tidak wajib melaksanakannya. Sebab, ucap sang Guru, hak seorang istri itu adalah setengah atau separo. Karena itu, usulannya hanya berhak diterima, tapi tidak wajib dijalankan. Bahkan, menurut sang Guru, seorang suami yang kerap tunduk dan selalu meluluskan usulan istrinya, yang kerap terjadi justru tidak membawa kemaslahatan.

Sampai di sini, suami-istri yang juga sowan bersama saya di Ndalem Gus Fadil, terlihat selalu menunduk. Entah apa yang ada dalam benak dan pikiran keduanya.

Kalau kita renungkan dengan hati yang sumeleh, apa yang disampaikan Gus Fadil dari Guru beliau tersebut, memang banyak benarnya. Banyak kasus perceraian, acapkali karena faktor kurang hormatnya seorang istri kepada suaminya. Sebaliknya, jika istri di rumah sangat menghormati dan menghargai suaminya, walau pun seperti apa pun kondisi suaminya, Insya Allah sang suami pun akan menjaga hati istrinya serta menghormatinya pula.

Dan kalau kita renungkan pula makna tradisi dalam Hari Raya Idul Fitri, dimana seorang istri terlebih dahulu harus sungkem kepada suaminya, memohon maaf dari suaminya, baru kemudian ganti suami meminta maaf pula, maka di sini nilai pentingnya seorang istri harus benar-benar menjunjung tinggi dan menghormati suaminya.

“Ayo, monggo disambi…” ucap Gus Fadil mengagetkan saya. “Wah Sampean itu kalau merenung seperti tukang filsafat saja…”

Kami bertiga pun tertawa mendengar ungkapan Gus Fadil tersebut.

“Apa yang saya sampaikan tadi, jangan terlalu diambil hati. Silahkan Panjenengan masing-masing menimbang-nimbang sendiri,” ucap Gus Fadil, “sebab dalam pernikahan pun saya juga belum terlalu berpengalaman, baru sembilan tahun, dan anak kami baru empat.”

“Hah, empat itu masih baru, Gus?” kali ini si suami yang sowan bersama kami mulai angkat bicara, berkomentar, “memangnya Gus ingin punya anak berapa?”

“Kalau anak sih, maunya sebanyak-banyaknya. Sebab semakin banyak anak semakin banyak yang mendoakan.”

“Ha, ha, ha…” []

*) KH. Zainal Arifin Thoha, Pengasuh PPM. Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

**) Tulisan ini diunggah sebagai bakti abadi terhadap Gus Zainal yang wafat pada Rabu, 14 Maret 2007.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s