Jin Prewangan

SIANG itu, sepulang dari mengajar jam pertama dan kedua, belum sempat Gus Fadil beristirahat, dari pintu terdengar orang bersalam.

“Wa’alaikumsalam…” jawab Gus Fadil sambil keluar dari kamar.

“Oh, Bude Sri, monggo Bu, pinarak,” Gus Fadil mempersilahkan tamunya, “monggo Mas, silahkan duduk dulu.”

Gus Fadil kembali ke kamar, berganti kaos, mengambil sigaret, sambil merokok menemui dua tamunya itu.

“Maaf lho, Gus. Siang-siang kami mengganggu,” ucap Bude Sri.

“Ah, sudah biasa kok, Bude.”

Orang yang disebut Gus Fadil sebagai Bude Sri itu, tidak lain adalah tetangga dekat Gus Fadil sendiri. Beliau biasa memanggilkan untuk putra-putrinya dengan sebutan itu.

“Gus, kedatangan kami ke sini, pertama untuk silaturrahim. Juga, saya mengantar keponakan saya ini,” Bude Sri memegang bahu keponakannya, “nah, kamu sendiri saja yang bicara langsung,” ucap Bude pada keponakannya.

Orang yang disebut sebagai keponakan itu, terlihat agak gugup, sesekali menundukkan wajah. Gus Fadil sendiri sempat mengamati secara sekilah wajah orang tersebut, dan dari wajah orang tersebut yang tersaput rona hitam, Gus Fadil dapat menyimpulkan bahwa orang tersebut tengah dirudung masalah berat.

“Asmanipun Panjenengan sinten, Mas?” Gus Fadil mencairkan suasana.

“Kulo Antok,” ucap orang tersebut agak gugup.

“Alhamdulillah, kulo Fadil,” ucap Gus Fadil sambil tersenyum, “ada masalah apa, kok kelihatannya Panjenengan agak susah?”

“Inggih, Gus. Saya itu punya istri dan dua anak. Yang jadi masalah, istri saya itu jarang pulang, padahal anak-anak kan butuh perhatian ibunya.”

“Antok, kamu jangan hanya menyalahkan istri,” ucap Bude Sri agak gusar, “mbok kamu juga introspeksi dirimu sendiri. Lha kamu tidak bekerja, dan juga tidak memberi nafkah pada istri, maka wajar jika istrimu jarang pulang, sebab dia yang cari nafkah untuk kamu dan anak-anakmu.”

“Tapi, masalahnya tidak sekedar itu, Bude,” elak Antok, kemudian kembali memandang Gus Fadil. “Istri saya itu kalau di rumah kerap aneh-aneh, kerap kejang-kejang, dan jika sudah begitu suaranya berubah seperti nenek-nenek. Dugaan saya, istri saya itu menggunakan jin prewangan. Sebab kalau suaranya sudah berubah, wajahnya jadi agak seram.”

“Kalau begitu itu, bagaimana Gus Fadil?” tanya Bude Sri pada Gus Fadil.

Gus Fadil tidak langsung menjawab, melainkan tersenyum, kemudian menghela nafas sejenak, bahkan agak mendalam, dan terlihat matanya sejenak terpejam. “Apa istri Sampean kerap marah-marah kepada Sampean, Mas Antok?”

“Ya, begitu itu, Gus. Kalau pikirannya sudah bunek, biasanya istri saya menuju kamar, dan di dalam kamar ia seperti semadi, lalu omong sendiri. Dan saya tidak tahu, apa sebenarnya yang tengah dilakukannya itu.”

“Sampean pernah menanyakan kepadanya?”

“Sudah, Gus. Tapi katanya hal itu hanya untuk menenangkan diri.”

“Dugaan saya, orang tuanya atau terutama neneknya, dulu juga punya ilmu seperti itu,” ucap Gus Fadil.

“Memang benar, Gus. Neneknya yang punya. Dan saya tidak suka istri saya mempergunakan ilmu-ilmu seperti itu,” kali ini Antok agak terengah-engah, mungkin dia berusaha untuk mengendalikan dirinya. “Bukankah ilmu semacam itu syirik, Gus?”

“Iya, iya,” Gus Fadil mencoba menenangkan Antok, “tapi sebenarnya syirik dan tidak itu tergantung niat dan keyakinannya. Sebab pada kalangan kiai sepuh, ada di antara mereka yang pernah berkata langsung kepada saya, bahwa mereka memiliki atau memelihara jin-jin.”

“Itu kan sama saja, Gus. Namanya juga jin prewangan,” ucap Antok agak penasaran.

“Sebenarnya berbeda. Istilah jin prewangan yang kerap diungkapkan masyarakat itu, tidak lain adalah jin yang dipuja oleh seseorang untuk dimintai pertolongan berkenaan dengan urusan atau kebutuhannya. Bahkan terhadap jin-jin seperti itu, mereka juga memberikan sesaji atau makanan yang sebelumnya dilakukan semacam pemujaan.” Sejenak Gus Fadil menghentikan apa yang disampaikannya, hal itu agar yang mendengar dapat memikirkan atau merenungkan atau membandingkannya.

“Sedangkan di kalangan para kiai sepuh tadi, tidak begitu,” ucap Gus Fadil melanjutkan, “jin-jin tadi itu sendiri yang meminta ijin kepada kiai tersebut untuk nderek, untuk menjadi khadam, dan untuk membantu keperluan kiai. Jadi, sama sekali para kiai itu tidak memuja jin, sebab para kiai tadi telah mengerti ilmu serta kedudukan para jin di hadapan manusia, meski memang para kiai tetap waspada terhadap jin-jin. Sebab para kiai itu menyadari, bahwa sebaik-baik jin, tetaplah makhluk yang diciptakan dari api itu, suka berbohong. Itu sebabnya, meski di antara jin ada yang alim atau berilmu atau ahli ibadah sekali pun, derajat mereka tetap lebih rendah dibandingkan manusia yang baik.”

“Oh, di antara mereka ada alim atau ahli ibadah ya, Gus?” Antok penasaran.

“Oh, iya. Sebab jin dan manusia itu, sebagaimana tertera dalam Kitab Suci Alquran, sama-sama berkewajiban beribadah kepada Allah SWT. Mereka, para jin, yang beragama Islam, tetap diwajibkan menjalankan shalat, zakat, puasa, maupun haji, sama seperti manusia yang beragama Islam. Dan sebagaimana manusia pula, di antara jin-jin itu tidak sedikit yang jahat.”

“Lalu, bagaimana deng_n istri saya?”

“Insyaallah, jin yang ikut istri Sampean itu, tidak termasuk jin yang jahat. Dan agaknya, jin itu dulu pernah juga ikut dengan neneknya istri Sampean.”

“Lalu, kenapa istri saya kok bisa berhubungan dengan jin itu?”

“Begitulah, kalau seseorang berhubungan akrab dengan jin, kemudian orang tersebut meninggal, biasanya jin yang ikut dengannya berpindah kepada anak atau cucunya.”

“Tapi, anak atau cucunya itu, sadar atau tidak, kalau dia diikuti jin?”

“Ada yang sadar, tapi juga ada yang tidak.”

“Kalau istri saya?”

“Insyaallah, dia sadar,” ucap Gus Fadil tandas, “cuma masalahnya tidak sekedar itu. Jika Sampean bertanggung-jawab sebagai seorang suami dan sebagai kepala rumah-tangga, yang harus bekerja untuk mencukupi nafkah keluarga, Insyaallah masalahnya tidak sampai separah sekarang ini.”

“Lalu, jika sudah begini, apa yang musti saya lakukan, Gus?”

“Lunasi hutang Sampean kepada Allah, yakni shalat lima waktu, lalu berdoa dan mintalah pertolongan kepada-Nya, dan jangan lupa harus giat bekerja. Insyaallah, kalau Sampean sudah melaksanakannya dengan baik, perlahan-lahan kondisi ekonomi maupun rumah-tangga Sampean akan juga dipenuhi oleh Allah SWT.”

“Amin…”[]

*) KH. Zainal Arifin Thoha, Pengasuh PPM. Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

**) Tulisan ini diunggah sebagai bakti abadi terhadap Gus Zainal yang wafat pada Rabu, 14 Maret 2007.

1 Comment

  1. ….???…..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s