Hus, Huculo.. Huntalen…

ALKISAH, Gus Fadil mulai bercerita di hadapan para santrinya, “suatu hari Sunan Kalijaga mengawali perjalanannya. Sebagaimana biasa, beliau tidak ditemani oleh pengikut atau pun santrinya, sebab perjalanannya memang tak bisa diterget; kemana, berapa hari, untuk apa, dan lain sebagainya. Sehingga beliau lebih bebas untuk melakukan perjalanan sendirian.

Nah, tatkala hendak memasuki sebuah hutan, beliau terhentak menyaksikan seekor katak hendak diterkam seekor ular yang mengintai dari semak-belukar. Sontak dalam kondisi kritis itu, Sunan Kalijaga berucap: Hu…

Demi mendengar suara Sunan Kalijaga itu, ular pun kaget. Kekagetan ular yang menimbulkan suara gemerisik dedaunan, ternyata didengar katak, sehingga katak pun segera ambil langkah seribu, melarikan diri dari terkaman ular.

Sunan Kalijaga meneruskan perjalanan memasuki hutan. Memang pada saat itu, untuk mengadakan perjalanan, orang-orang biasa melewati hutan, sebab saat itu belum ada jalan-jalan yang lempang seperti sekarang. Namun tak ayal, Sunan Kalijaga dihadang oleh ular yang tadi merasa dirugikan.

“Maaf, Kanjeng Sunan,” ucap ular tersebut.

“Iya, ada apa, ular?”

“Kanjeng Sunan tak perlu pura-pura tidak tahu, sebab Panjenengan telah mengerti, bahwa katak itu telah menjadi rezeki saya dari Allah SWT. Tapi kenapa Kanjeng Sunan menghalanginya, sehingga jatah rezeki saya itu melarikan diri?”

“Begini, wahai ular, saya tidak bermaksud menghalangi rezeki yang diperuntukkan Allah kepadamu. Bahwa saya mengucap Hu, itu maksudnya agar engkau segera bertindak: Huntalen! Yakni, segera telan katak itu.”

Demi mendengar jawaban Sunan Kalijaga, ular merasa bersalah dan malu, karena ia telah berprasangka burung kepada orang mulia itu. Maka ia segera meminta maaf dan pergi dari hadapan Sunan Kalijaga.

Setelah jauh melangkah ke tengah hutan, ternyata katak pun menghadangnya.

“Wahai Kanjeng Sunan Kalijaga?!”

“Iya, ada apa, katak?”

“Kenapa Panjenengan membiarkan saya diincar dan hendak dimangsa oleh ular tadi?”

“Ketahulah olehmu, wahai katak, sungguh aku tidak bermaksud membiarkanmu ditelan oleh ular itu. Ketika aku berucap Hu, itu maksudny agar: Hucula! Yakni segeralah engkau melepaskan diri dari incaran ular itu.”

Demi mendengar penjelasan Sunan Kalijaga tersebut, katak merasa bersalah dan malu. Ia lalu meminta maaf dan segera pergi dari hadapan Sunan Kalijaga.

Sampai di sini Gus Fadil menghentikan ceritanya, dan mempersilahkan kepada para santri untuk mengapresiasinya.

“Maaf, Gus,” demikian seorang santri mengacungkan jarinya, bertanya, “bukankah sikap yang ditunjukkan Sunan Kalijaga itu berarti tidak konsisten, tidak jujur?”

Astaghfirullahal’adhiim, para Wali Allah tidak pernah tidak konsisten, apalagi tidak jujur,” jawab Gus Fadil, “para Wali Allah, yang setiap denyut jantungnya senantiasa berzikir kepada Allah, maka seluruh hidupnya, sikap, ucapan dan tindakannya senantiasa bergantung, dikendalikan, dan diarahkan oleh Allah. Tatkala Sunan Kalijaga mengucap Hu, itu pun dari Allah. Dan tatkala beliau menjelaskan Huntalen atau pun Hucula, itu pun dari Allah jua datangnya.”

“Kalau memang demikian, lalu apa hikmah yang bisa kita petik dari kisah itu, Gus?”

“Hikmah utama yang bisa kita petik dari kisah itu, adalah eling total kepada Allah SWT. Bahwa apa pun yang berlangsung dan terjadi dalam kehidupan, baik yang berkenaan maupun yang melintas di hadapan kita, semuanya itu tidak lain dari Allah SWT, agar kita bisa mengambil ibrah atau pelajaran yang berguna bagi kita.

Termasuk dalam konteks Huntalen maupun Hucula di atas. Kalau kisah di atas kita tafsiri sebagai rezeki, maka harus kita sadari, bahwa rezeki yang terlepas atau pun rezeki yang kita peroleh, kedua-duanya tidak lain adalah kekuasaan dan kebijaksanaan dari Allah SWT. Sebab rezeki itu pada dasarnya adalah milik Allah, diberikan kepada kita adalah untuk beribadah kepada Allah.

Jika kita menyadari hal ini, maka dalam kehidupan ini kita tidak akan susah, dan memang tak perlu susah, lantaran sesungguhnya rezeki kita telah dijamin oleh Allah SWT. Kita hanya diwajibkan berupaya dengan kesungguhan kita, sebagai bentuk ibadah kita kepada-Nya. Perihal beroleh-tidaknya atas rezeki itu, maka ketahuilah; apabila rezeki itu memang telah menjadi hakmu, jika engkau tidak mendatanginya, maka rezeki itu akan mendatangimu.

Engkau boleh membuktikan, mana di antara makhluk di dunia ini yang tidak memperoleh rezeki dari-Nya. Seluruh “kebutuhan” makhluk dipenuhi oleh-Nya. Namun berkenaan dengan “keinginan”, engkau sendirilah yang cenderung menyusahkan diri, untuk memiliki.”

Wallahu a’lam. []

*) KH. Zainal Arifin Thoha, Pengasuh PPM. Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

**) Tulisan ini diunggah sebagai bakti abadi terhadap Gus Zainal yang wafat pada Rabu, 14 Maret 2007.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s