Budaya Sungkeman Di Hari Raya

RUPANYA telah menjadi bagian dari tradisi Gus Fadil, setiap Lebaran Idul Fitri, beliau pulang ke daerah asalnya, untuk sungkem kepada orang tua. Sehingga kalau kita hendak sowan pada Gus Fadil, musti menunggu seminggu setelah Lebaran.

Tentang Sungkeman itu sendiri, Gus Fadil pernah menerangkan, bahwa tradisi masyarakat Jawa tersebut, sungguh sangat luar biasa dan penuh berkah. Betapa tidak, sebab sungkem kepada orang tua, merupakan perintah langsung dari Allah SWT.

Kitab Risalatul Mu’awanah karya Sayyid Abdullah al-Hadad, misalnya, menurut Gus Fadil, didalamnya menerangkan bahwa berbakti kepada kedua orang tua hukumnya adalah wajib, sedangkan durhaka kepada kedua orang tua adalah termasuk dosa besar. Ini didasarkan kepada Firman Allah SWT: “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu tidak menyembah selain Allah, dan hendaklah kamu berbuat baik kepada kedua orang tua dengan sebaik-baiknya” (QS. Al-Isra’, 17:23). Dalam ayat lain juga ditegaskan: “Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu” (QS. Luqman, 31:14).

Dari kedua ayat tersebut, betapa jelas dan tegasnya Allah SWT menyertakan perintah berbakti kepada kedua orang tua dengan bertauhid kepada-Nya, juga menyertakan syukur kepada kedua orang tua dengan syukur kepada-Nya.

Dalam kitab Durrotun Nasihin karya Syaikh Usman Al-Khaubawi, terdapat sebuah kisah tentang hubungan seorang anak dengan kedua orang tuanya atau salah satu daripadanya, yang mungkin hal ini juga acapkali terjadi di kalangan masyarakat umum, namun jarang atau bahkan tidak dimengerti.

Kisah ini terjadi pada zaman Khalifah Umar bin Khattab. Suatu hari seorang ibu mendatangi rumah anaknya untuk meminta sesuatu sebagai nafkah dirinya. Belum bertemu anaknya, di depan rumah ibu itu ditemui oleh istri anaknya dengan muka cemberut, bahkan ia berkata kepada suaminya dengan menyindir kepada ibunya: “Sungguh ibumu rupanya menghendaki kita ini menjadi miskin sepeninggalnya, sebab ia terus menuntut belanja kepada kita.”

Tentu, mendengar hal tersebut, sang ibu langsung menangis sedih, sehingga ia pun pulang, dengan tangan hampa.

Suatu hari, si suami (anak ibu tersebut) pergi berdagang ke luar kota. Di tengah jalan ia dicegat oleh para penyamun, seluruh barangnya dirampas, bahkan tangannya dipotong. Untunglah tidak lama setelah itu, lewat rombongan kafilah yang menolongnya, hingga membawanya pulang kembali ke rumahnya.

Tatkala sanak saudara dan handai tolan menjenguknya, ia pun berkata: “Semuanya ini aku akui sebagai kesalahanku sendiri, lantaran aku tidak memberi kebutuhan ibuku tatkala beliau datang kepadaku. Seandainya aku memenuhi permintaan sebagai kebutuhan beliau, tentu barangku tidak akan dirampok dan diriku tidak akan sampai mendapat luka seperti ini.”

Tatkala sang ibu menjengkuknya, rupanya beliau sangat berbelas kasihan kepada anaknya dengan menyumpah-nyumpah para penyamun yang telah melukai anaknya itu. Namun si anak dengan penuh kesadaran dan penyesalan mengakui, bahwa semuanya ini adalah akibat dosa dan kesalahan kepada ibu. Maka ia pun meminta maaf dan meminta ridlo ibunya itu. “Wahai anakku,” demikian kata ibunya, “Sungguh ibu telah memaafkanmu dan meridloimu.”

Setelah ibunya memaafkan dan meridloinya, berangsur-angsur tangannya pulih kembali. Dan sejak itu, ia tak berani lagi, demikian juga istrinya, bersikap yang tidak patut kepada ibunya. Sehingga seluruh kebutuhan dan keperluan ibunya, ia penuhi. Dan sejak itu pula usahanya menjadi lancar, hidupnya pun jadi makmur.

Kisah tersebut, menurut Gus Fadil, sangat relevan dengan kondisi dunia dan masyarakat zaman ini. Bisa jadi, banyaknya bencana, kemiskinan, maupun kerusakan rumah tangga, perceraian, dan sebagainya, adalah akibat dari sikap-sikap yang tidak patut atau tidak semestinya kepada kedua orang tua.

Dengan kisah tersebut, Gus Fadil berharap, momentum Hari Raya Idul Fitri dengan tradisi Sungkeman yang selama ini telah menjadi bagian dari budaya masyarakat, tidak hanya semata-mata dipahami dan diyakini menjadi bagian dari budaya, melainkan terutama harus dipahami dan diyakini sebagai perintah dari Allah SWT, sehingga Sungkeman tersebut betul-betul berpahala dan membawa barakah yang besar dalam hidup kita. []

*) KH. Zainal Arifin Thoha, Pengasuh PPM. Hasyim Asy’ari Yogyakarta.

**) Tulisan ini diunggah sebagai bakti abadi terhadap Gus Zainal yang wafat pada Rabu, 14 Maret 2007.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s