Puasa dan Konstruksi Moralitas Bangsa

ADA dua peristiwa penting yang menyambut ibadah puasa kita di bulan Ramadan tahun ini, yaitu tragedi peledakan bom di Bali dan kebijakan pemerintah menaikkan harga BBM. Uniknya, kedua peristiwa itu nyaris terjadi bersamaan, yakni pada 1 Oktober lalu, dan terulang untuk kedua kali. Kita pasti belum lupa bom Bali meledak pertama kali pada 12  Oktober 2002 dan harga BBM juga sempat (di)naik(kan) per Maret 2005.

Kedua peristiwa itu pada makna yang terdalam adalah sama-sama merupakan teror bagi kita. Bom Bali meneror atmosfer kehidupan bangsa Indonesia dari perspektif kemanusiaan, sedangkan kenaikan harga BBM menjadi teror bagi (kebanyakan) rakyat Indonesia dari perspektif ekonomi. Naga-naganya, kita merasa “tidak aman”. Mental dan psikologi kita merasa selalu gelisah dengan bayang-bayang aksi terorisme yang bisa terjadi kapan pun dan di mana pun.

Di sisi lain, naiknya harga BBM memaksa kita untuk mereview (hingga meng-cancel) alokasi kebutuhan sehari-hari. Dan hingga pada titik yang paling nadir, naiknya harga BBM diikuti secara berjamaah oleh jutaan rakyat terperosok ke dalam jurang kemiskinan. Meski diiming-imingi dana kompensasi, nyatanya justru tak menyelesaikan persoalan sebab disunat oleh tangan-tangan jahil dengan dikorupsi, hingga kartu dana kompensasi bagi keluarga miskin itu dibeli (Kompas, 8/10).

Oleh karena itulah, kali ini kita “dipaksa” untuk benar-benar puasa. Artinya, puasa kita bukan saja untuk memenuhi perintah syariat (Q.S. 2: 183) tetapi lantaran dipusingkan oleh kondisi moralitas bangsa yang kadung berkarat. Gejala demoralisasi ini, meminjam bahasa Michael Foucault, jelas terbentang di depan mata kita. Kejahatan struktural seperti korupsi, diskriminasi hukum, dan penggusuran (yang dilegalkan) menjadi ikon kriminalisasi kelas elit. Sementara tawuran massa, pembunuhan gara-gara rebutan lahan kerja, dan sabotase sesama kaum pekerja (buruh) adalah potret kriminalisasi wong cilik.

Hal ini semakin menegaskan alienasi moralitas bangsa kita. Karena desakan beruntun kebutuhan yang tak terpenuhi akan menggiring terbentuknya sebuah masyarakat yang menghalalkan segala cara (permissive society). Akhirnya, rambu-rambu moralitas yang sepatutnya ditaati ditabrak dan menjadi kehilangan arti.

Inilah fakta yang sulit kita pungkiri. Padahal bangsa ini dihuni oleh mayoritas penduduk yang beragama Islam. Dan yang membuat kita terhenyak, pengungkapan kasus peledakan bom Bali mengarah dilakukan oleh kelompok tertentu yang berafiliasi pada agama Islam. Gejala permisivisme akut tampaknya telah menggerogoti sendi-sendi keberhidupan kita.

Sebagai orang yang tengah menjalankan ibadah puasa, kita patut bertanya dosa-dosa apakah yang telah kita berbuat? Bagaimana semestinya kita jalankan ibadah puasa agar benar-benar mengarah pada rekonstruksi moralitas kita? Untuk itu, puasa kali ini mestinya bisa menjadi media refleksi untuk merajut kembali moralitas bangsa yang telah terkoyak. Sehingga kita bisa menginsafi segenap kebebalan kita sebagai bangsa yang konon beradab ini.

Substansi Puasa

NABI Muhammad saw. pernah mengultimatum bahwa berapa banyak orang berpuasa tak mendapatkan apa-apa kecuali rasa lapar dan dahaga. Sungguh, ultimatum Nabi ini mengandung makna yang paling dalam. Nabi seperti mengisyaratkan agar kita menggali lebih dalam, meminjam istilah Frijcouf Schoun, filosofi perenial puasa agar puasa kita betul-betul bermakna.

Terkait hal ini penting kita kutip pendapat al-Ghazali dalam Ihya al-‘Ulumuddin. Al-Ghazali membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Pertama, puasa umum (shaum al-‘am), yaitu puasa yang hanya sebatas menahan lapar dan haus serta hal-hal yang bisa membatalkan puasa seperti aktifitas seksual. Puasa pada tingkatan ini cuma memerhatikan aspek lahiriyah dan mengabaikan aspek batiniyah. Di sinilah ultimatum Nabi terasa relevansinya.

Kedua, puasa khusus (shaum al-khawas) yang selain menahan lapar dan haus juga menahan panca indera dan seluruh badannya. Perilaku amoral semacam menghasut, memfitnah, dan berbuat maksiat harus dihindari untuk menyelamatkan (pahala) puasa.

Ketiga, puasa istimewa (shaum al-khawasi al-khawas). Tingkatan tertinggi puasa ini mengharuskan kita tidak saja menahan lapar, haus, dan seluruh panca inderanya dari segala bentuk dosa tetapi juga “puasa hati nurani” (al-shaum al-qalb), yakni mengelola emosi dan sikap mental dari segala hal yang destruktif, seperti korupsi, budaya konsumtif, anarkis, dan sikap-sikap patologis lainnya. Di sini dimensi esoterisme puasa bisa terselami.

Jadi, jelas ibadah puasa menjadi media bagi kita untuk mengaktualisasikan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan puasa moralitas konstruktif akan tertata sekaligus mengakhiri perilaku destruktif yang bisa mengancam eksistensi kemanusiaan kita. Pada gilirannya, puasa benar-benar akan mengantarkan kita sebagai insan kamil yang bertakwa (Q.S. 10: 62).

Bertakwa, dengan demikian, merupakan hasil pencapaian tertinggi dari makna puasa itu. Kepatuhan vertikal yang tercermin dalam kesalehan individual semestinya bisa ditarik dalam ranah kehidupan sosial. Sehingga hakekat takwa akan melempangkan jalan untuk memperoleh bimbingan Tuhan dalam mengarungi kehidupan ini.

Bermula dari sinilah kesalehan sosial yang menjadi ciri khas kepatutan horizontal dapat dikembangkan. Tuhan akan selalu terasa sangat dekat (Q.S. 2: 186), bahkan sangat dekat daripada urat leher (Q.S. 50: 16). Tuhan akan menjelma sebagai kekuatan adikodrati yang senantiasa mengawasi seluruh tindak-tanduk kita sehari-hari (Q.S. 4: 1; 82: 10; dan 89: 14). Dengan begitu, kita akan cenderung berbuat baik yang mengedepankan maslahat baik bagi diri sendiri dan lebih-lebih bagi masyarakat.

Konstruksi Moralitas

PENCAPAIAN makna tertinggi puasa tersebut ujung-ujungnya diharapkan mampu merekonstruksi moralitas (bangsa) kita dalam berbagai dimensi kehidupan. Sebab hingga saat ini masih banyak masalah dalam pelbagai aspek kehidupan yang perlu segera dibenahi melalui momentum ibadah puasa ini.

Pertama, beragam konflik dan tindak kriminal terutama kasus peledakan bom Bali adalah sebagian bukti nyata bahwa loyalitas kita terhadap moralitas sudah demikian rapuh. Jika ibadah puasa benar-benar dihayati akan mengajari kita untuk menahan nafsu yang memang cenderung selalu mengajak ke arah kerusakan.

Kedua, bila inti puasa ingin mewujudkan keseimbangan antara nilai-nilai material dan spiritual hendaknya dapat diterjemahkan dalam pencarian model pendidikan nondikotomis. Ini yang paling penting. Sebab masih kita saksikan adanya dikotomi pendidikan. Misalnya, ketika pendidikan agama lebih ditekankan pada formalisme belaka, maka tak ayal lahirnya generasi bersumbu pendek yang mengalami keterbelahan kepribadian (split personality) sudah terasa. Mereka inilah yang berdiri paling depan untuk melegitimasi aksi-aksi pemboman dengan membawa bendera agama.

Di sisi lain, nilai-nilai material yang terkesan dikedepankan dalam kelangsungan pendidikan berakibat pada keringnya karakter sosial out put-nya. Orientasi materi (materialism oriented) pada akhirnya “menghalalkan” penindasan ekonomi seperti terlihat dalam budaya korupsi dewasa ini. Karena itu, substansi puasa akan memberikan energi pada pencarian visi pendidikan yang religius sekaligus humanis.

Ketiga, ketimpangan sosial-ekonomi yang makin merebak terutama dipicu oleh kenaikan harga BBM. Sekali lagi, saat ini kita menyaksikan jutaan rakyat tergelontor menuju kubangan kemiskinan absolut. Dan puasa akan menanamkan sikap peduli dan peka (sense of aware) terhadap sekitar kita. Kesadaran bahwa harta hanyalah titipan Tuhan, dalam pencapaian makna tertinggi puasa menjadi daya dorong untuk bahu-membahu mengentas kemiskinan.

Dengan begitu, struktur ekonomi yang terpusat pada segelintir kalangan, ekploitatif, dan menindas perlu dirontokkan dengan mengembangkan sistem ekonomi yang egaliter dan berkarakter sosial-religius. Ada sebuah hadis Nabi yang menjelaskan, bahwa ”Tidak sempurna iman seseorang yang giat beribadah tetapi membiarkan tetangganya kelaparan.”

Walhasil, kita tentu tak ingin ibadah puasa kali ini cukup dihayati sebagai ruang individu (private space) untuk mendapatkan ketenangan personal serta media penebus dosa. Sebab jika ini yang terjadi, puasa kita tak lebih sekadar rutinitas yang tak menghasilkan perubahan apa-apa. Dan gejala demoralisasi dalam setiap lini kehidupan akan terus terjadi. Semoga bukanlah demikian kenyataannya. @

*)Saiful Amin Ghofur, Peneliti Pusat Studi Islam (PSI) UII Yogyakarta.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s