Pergolakan Bali Di Simpang Globalisasi

TENTU masih belum lekang dari ingatan ketika Amit Virmani merilis Cowboys in Paradise pada Mei silam. Film dokumenter ihwal lelaku para gigolo di kawasan Pantai Kuta itu tak urung membuka selubung kotak pandora Pulau Dewata. Meski sempat menyulut kontroversi, namun tak sedikit yang diam-diam mengamini bahwa Bali kini mengalami penggerusan budaya dan pergulatan identitas. Globalisasi telah menusuk jauh dalam relung jantung kehidupan masyarakat Bali.

Dalam konteks demikian, karya Professor Nengah ini menautkan signifikansinya. Buku ini mendaraskan kajian antropologi-budaya hatta mampu menyibak tabir gelap anomali kehidupan masyarakat Bali. Tak hendak menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, lelaki kelahiran Tabanan, 17 Februari 1951, ini menyuguhkan informasi berbasis riset yang objektif sehingga menjadi otokritik-evaluatif bagi masyarakat Pulau Seribu Pura sendiri.

Menurut Professor Nengah, akar tunjang pergolakan kultural Bali bermula tumbuh ketika rezim Orde Baru mengarusutamakan kebijakan pembangunan ekonomi di sektor pariwisata. Simsalabim. Dalam tempo relatif cepat, pariwisata Bali tumbuh serupa gadis perawan nan elok jelita—meski untuk itu terjadi eksploitasi besar-besaran. Lahan pertanian berubah fungsi menjadi resort wisata. Dan, payung industrialisasi pariwisata pun terkembang dengan jumawa (hal. 65).

Kondisi tersebut menimbulkan keterasingan bagi masyarakat Bali. Tak ubahnya tamu di rumah sendiri. Identitas kultural Bali yang khas (indigenous culture) perlahan meruap di tengah migrasi para pendatang yang terus bergelombang. Hingga tahun 2006, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Bali telah mencapai 3.310.307 jiwa—jumlah yang jauh dari ideal mengingat luas pulau Bali 563.282 hektar persegi dan semestinya dihuni oleh sekisar 2.4 juta jiwa. Dan, dari keseluruhan jumlah penduduk Bali ini, hampir separuhnya digenapi para pendatang.

Fenomena itu memunculkan paradoks yang luar biasa dalam berbagai bidang kehidupan. Para pendatang dari pelbagai wilayah di Indonesia dengan latar belakang yang beragam membaur dengan masyarakat lokal, sehingga tak jarang menimbulkan gap dan memunculkan konflik. Ibarat api dalam sekam, ketegangan ini pun terpatri dalam segala bentuk relasi para pendatang dan masyarakat lokal saban hari. Dalam konteks ini terjadilah apa yang oleh Claude Lévi Strauss sebagai kebudayaan panas (hot culture), yakni kebudayaan yang bergesekan satu sama lain dengan epistemologi budaya yang beragam.

Buku ini berhasil menyibak fakta betapa parahnya perkelahian kepentingan di Pulau Dewata. Bali yang oleh sejumlah antrolopog Barat dalam karya-karya etnografisnya digambarkan penuh gairah dan pesona karena relasi sinergis antara masyarakat lokal Bali, budaya, agama serta alamnya sebagai suatu ciri arkais kebudayaan Bali, saat ini mulai tergerus oleh kapitalisme yang digerakkan oleh ekonomi pariwisata. Naga-naganya, lahirlah agama pasar dan masyarakat konsumtif (hal. 73-89).

Kawasan pariwisata di seputar Denpasar, Kuta, Sanur, dan Badung misalnya, diserbu oleh pernak-pernik reklame yang carut-marut sekaligus bancuh dalam penataan ruang publik yang acakadut. Di sekitar kawasan pariwisata itu pula berjajar kafe-kafe temaram di mana transaksi harga diri secara permisif menyalurkan libido acapkali terpancang sehingga kian melengkapi potret suram citra Bali sekarang. Maka, kisah industri seks yang bersimaharajalela bukan lagi mitos belaka (hal. 171-248).

Penelusuran Professor Nengah dengan sangat telaten ke dalam gorong-gorong antropologi-budaya Bali menemukan fakta yang menyesakkan dada. Di satu sisi, ada pergelutan yang terus memanas antara etnisitas masyarakat Bali dengan para pendatang. Posisi para pendatang yang semula di pinggir, kini mulai merangsek mendominasi sektor perekonomian di lokasi yang cukup strategis di sekitar kawasan pariwisata. Kondisi ini pada akhirnya melahirkan ketegangan yang serius (hal. 366).

Di sisi lain, melalui buku ini Professor Nengah ingin menegaskan adanya paradoksal antara nilai-nilai tradisi Bali dan globalisasi. Masyarakat Bali dengan tatanan nilai-nilai tradisi yang adiluhung tak bisa mengelak dari (dan mesti berhadapan dengan) nilai-nilai baru yang diembuskan globalisasi. Paradoksal tersebut tak harus diperhadapkan secara diametral, akan tetapi perlu diberi pemaknaan baru, disikapi secara kritis, sekaligus dalam waktu bersamaan dibutuhkan reintepretasi terhadap nilai-nilai lama yang kurang relevan.

Atas dasar itulah buku ini patut diapresiasi. Buku ini nyata-nyata memberi warna baru terhadap kajian antropologi-budaya Bali. Dibanding beberapa buku yang mengkaji Bali, misalnya Geoffrey Robinson, Sisi Gelap Pulau Dewata; Sejarah Kekerasan Politik (2006) dan Yudhis M Burhanuddin, Bali yang Hilang (2008), buku ini menawarkan perspektif yang berbeda ketika mengkaji Bali.

Membaca buku ini kita seperti mengikuti langsung ekspedisi Professor Nengah meniti piranti perubahan ketika bertatap muka dengan masyarakat Bali sekaligus juga dengan para pendatang. Bahasa yang lincah dan cair—meski semula buku ini adalah disertasi—serta diselingi narasi elegi masyarakat Bali tak pelak merapatkan jarak psikologis pembaca. Kita serasa dipandu menyirapkan emosi, mengetam keprihatinan, dan mengentalkan risau manakala menyimak bait-bait ujaran yang menyiratkan galau.

Tapi sayang, banyak istilah lokal bahasa Bali bertebaran di buku ini dibiarkan apa adanya tanpa diberi penjelasan memadai, sehingga bagi pembaca yang tidak memiliki ikatan emosional, setidaknya kurang berkarib dengan kosakata Bali, akan mengalami keterputusan informasi.

Namun demikian, kekurangan itu takkan menggerus kontribusi positif buku ini. Bahwa nilai-nilai tradisi Bali merupakan kesatuan komitmen yang mengendap pada zamannya, bukan sesuatu yang nirkonflik dan stagnan, melainkan tatanan sistem kebudayaan yang aktif dan dinamis serta terus terlibat dalam pergulatan tatanan nilai global seiring dengan kebutuhan masyakarat Bali yang berkembang menyesuaikan tuntutan zaman. Inilah seruan moral buku ini untuk mengentaskan Bali dari rampatnya pergolakan di simpang globalisasi. []

Judul Buku: Ajeg Bali: Gerakan, Identitas Kultural, dan Globalisasi

Penulis: Prof. Dr. Nengah Bawa Atmadja, MA

Penerbit: LKiS, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, Juni 2010

Tebal: xxvi + 550 halaman

*) Saiful Amin Ghofur, Redaktur Jurnal Millah MSI UII Yogyakarta.

**) Digunting dari Jawa Pos, 8 Agustus 2010

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s