Tradisi Bola di Tubir Modernisasi

JOHANNESBURG’S Soccer City Stadium menjadi saksi gegap gempitanya pembukaan Piala Dunia 2010 pada 11 Juni lalu. Puluhan ribu penonton tertumpah ruah, ditingkahi bunyi trompet vuvuzela yang saling bersahutan. Meski tak dihadiri Nelson Mandela yang tengah berkabung atas kematian cicitnya, Zenani Mandela, karena kecelakaan mobil pada Kamis malam (10/6), pembukaan Piala Dunia tetap berlangsung khidmat. Laga Afrika Selatan versus Meksiko yang berakhir dengan skor berbagi satu angka pun menjadi awal dimulainya peneguhan eksistensi, harkat, martabat, dan kehormatan suatu bangsa melalui pertandingan sepak bola.

Dalam konteks demikian, sepak bola bukan sekadar olahraga dua puluh dua pemain yang saling berebut si kulit bundar dan beradu taktik serta strategi meraih kemenangan. Sepak bola menjelma menjadi simbol prestisius, membuat suatu bangsa bisa berjalan dengan kepala tegak di antara bangsa-bangsa lain. Sekadar tamsil, pertandingan Inggris dengan Argentina di Stadion Etienne pada Piala Dunia 1998 adalah laga dramatis, sarat gengsi, dan emosi, terutama saat David Beckham dikartu merah oleh wasit Kim Nielsen karena ”menendang” Diego Simeone. Laga berakhir imbang 2-2, dilanjutkan adu penalti yang memaksa Inggris, jawara Piala Dunia 1966, angkat koper lebih dahulu di putaran kedua setelah kalah 3-4.

Kultur Bola

Hanya, jika dikulik lebih mendalam, peneguhan eksistensi, harkat, martabat, dan kehormatan suatu bangsa lewat sepak bola tidak diperoleh semudah membalik telapak tangan. Ada rentang waktu berproses yang relatif panjang. Benang merah yang merajut proses itu tak lain adalah tradisi sepak bola yang telah menjadi bagian dari kultur hidup keseharian.

Negara-negara Amerika Latin seperti Brazil dan Argentina sudah membuktikan itu. Brazil yang sampai saat ini masih memegang rekor jawara Piala Dunia terbanyak (lima kali) atau Argentina yang dua kali mengangkat trofi memiliki akar tradisi sepak bola yang sangat kuat. Di dua negara itu, bermain sepak bola sama pentingnya dengan makan-minum. Bisa dikata, serupa kebutuhan primer, sehingga menjadi bagian konsumsi dan pola hidup yang tak bisa diabaikan begitu saja.

Kultur gila bola di negara-negara Amerika Latin itu perlahan-lahan tumbuh menjadi ritus. Barangkali setingkat di bawah ritus peribadatan. Dengan begitu, aktivitas bermain sepak bola bisa saja dihelat di berbagai ruang publik, misalnya di pinggir-pinggir jalan, kawasan perbelanjaan, atau gedung perkantoran. Itu bukan pemandangan langka.

Tradisi bola yang sudah dimapankan itulah yang pada akhirnya melahirkan para legenda yang merumput di berbagai penjuru dunia. Brazil melahirkan banyak pemain besar, antara lain, Pele, Ronaldinho, Ronaldo, dan Kaka. Sedangkan Argentina melahirkan Maradona, Messi, Milito, Zanetti, dan Tevez. Kultur bola yang mentradisi tersebut tidak hanya menciptakan karakter khas dalam jagat teknika sepak bola, tapi juga menggembleng mentalitas jawara. Keahlian pemain individu dengan sendirinya tertempa.

Tampaknya, bangsa kita perlu becermin ke sana untuk mengurai seluruh nilai filosofi sepak bola. Sebab, sulit dimungkiri bahwa sepak bola nasional sampai saat ini belum bisa menunjukkan prestasi yang menggembirakan. Jika dulu Jepang, Singapura, Vietnam, Thailand, dan Malaysia berguru sepak bola ke Indonesia, kini sebaliknya, Indonesia acap kali bertekuk lutut di tangan mereka. Itu berarti, di kawasan Asia saja prestasi sepak bola Indonesia selalu terpuruk.

Memang, Indonesia pernah mengikuti Piala Dunia di Prancis pada 1938. Meski saat itu belum merdeka, Indonesia mengusung nama Nederlandsche Indiesche atau Netherland East Indies atau Hindia Belanda. Mereka datang ke Prancis dengan mengandalkan pemain seperti Bing Mo Heng (kiper), Herman Zommers, Franz Meeng, Isaac Pattiwael, Frans Pede Hukom, Hans Taihattu, Pan Hong Tjien, Jack Sammuels, Suwarte Soedermandji, Anwar Sutan, dan kiri luar Nawir yang juga bertindak sebagai kapten. Walaupun dipaksa pulang lebih awal setelah ditekuk Hungaria dengan skor telak 6-0 di Stadion Velodrome Municipal, Reims, pada 5 Juni 1938, capaian perdana berlaga di ajang internasional itu terus dikenang hingga sekarang.

Pada 1956 tim sepak bola Indonesia di bawah asuhan Toni Pogacnik kembali masuk Olimpiade di Australia dan berhasil menahan imbang raksasa sepak bola dunia (saat itu), Uni Soviet. Setelah itu, prestasi tim sepak bola bola Indonesia semakin terpuruk di ajang prestisius level internasional.

Belajar dari Garuda

Jika diurai secara detail, memang akan ditemukan banyak hal sebagai bahan evaluatif yang mengakibatkan Indonesia selalu tunduk di jagat sepak bola dunia. Salah satunya ialah tradisi sepak bola yang terus terdesak ke pinggir modernisasi sehingga tradisi, karakter, dan mental sepak bola andal pelan-pelan memuai.

Dalam hal ini, film Garuda di Dadaku mengirim pesan yang lantang mengenai keroposnya tradisi bola Indonesia di tubir modernisasi itu. Film besutan Ifa Isfansyah tersebut mengisahkan betapa susahnya menemukan tanah lapang untuk bermain bola. Ruang publik kian sempit setelah arus modernisasi datang secara bergelombang dengan ditandai berdirinya gedung-gedung tinggi pencakar langit. Kisah-kisah penggusuran lapangan bola senantiasa berulang di berbagai tempat. Penggusuran Stadion Menteng, Jakarta, untuk sarana perkantoran dan Stadion Merdeka, Cirebon, yang disulap menjadi area pertokoan modern adalah sekelumit kisah penggusuran yang bisa jadi merupakan fenomena gunung es.

Karena itu, sangat beralasan ketika Iwan Fals merilis lagu Mereka Ada di Jalan dalam album Belum Ada Judul pada 1992. Iwan Fals berkisah tentang sepak bola yang semakin tersisihkan di kota-kota besar karena sarananya tergusur oleh pembangunan yang dipayungi modernitas. Tanah lapang menjadi rebutan untuk didirikan gedung. Anak-anak kecil di perkotaan pun kesulitan mendapatkan sarana berolahraga.

Iwan seolah menyuarakan kritik para pencinta sepak bola bahwa ada ketakseimbangan logika pembangunan dengan mengorbankan sarana sekaligus mematikan tradisi sepak bola. Pembangunan senantiasa menghamba modernitas yang berorientasi pada keuntungan materi belaka.

Dalam lagu Mereka Ada di Jalan, Iwan Fals bercerita tentang anak-anak kecil yang bermain bola di lapangan yang terbentuk dari bekas penggusuran. Mereka begitu bersemangat bermain bola hingga Iwan Fals mengandaikan seperti tokoh legenda sepak bola Indonesia masa lalu yang mampu mengharumkan nama bangsa seperti Ramang, Abdul Kadir, Rully Rudolf Nere, Ricky Yacob, Ronny Pattinasarani, Herry Kiswanto, Nobon Kayamudin, Marzuki Nya Mad, Sutjipto Soentoro, Iswadi Idris, Yudo Hadianto, dan Ronny Pasla.

Maka, hal yang patut diinsafi bersama adalah menumbuhkan kembali tradisi sepak bola sehingga menjadi kultur yang melekat dalam kehidupan. Tentu, hal tersebut sekadar isapan jempol jika bangsa Indonesia masih sibuk menganakemaskan modernitas. Rasanya, rekaman pesan Nelson Mandela yang diputar pada pembukaan Piala Dunia penting direnungkan, ”Kemurahan hati roh manusia dapat mengatasi kesulitan semua. Melalui kasih sayang dan perhatian, kita ciptakan harapan.”.

Semoga. (*)

*) Saiful Amin Ghofur , pengamat bola dan peneliti muda MSI UII Jogjakarta

*)Dimuat Jawa Pos, 18 Juni 2010

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s