Prostitusi dalam Lanskap Fotografi

PROSTITUSI memang susah diatasi. Tempat wisata berahi yang senantiasa menjadi jujugan pemuja kenikmatan dunia itu ternyata menyulam pelbagai kepentingan—mulai dari ekonomi, sosial, dan budaya—yang saling melengkapi. Karena itu, tak usah heran bila beragam upaya yang dilakukan dengan tujuan agar prostitusi itu lenyap tak ubahnya menggantang asap. Prostitusi pun bertiwikrama dalam berbagai rupa: panti pijat, salon kecantikan, ruko-ruko fiktif, warung remang-remang, dan sebagainya.

Para pekerja seks komersial (PSK), pelacur, perex, lonte, sundal, ciblek, cewek plat kuning, atau apapun namanya juga segendang sepenarian. Walau berkali-kali dirazia, mereka tak jera-jera. Barangkali ambisi hedonistik dan tuntutan pemenuhan kebutuhan materilah yang kerap memanggil mereka kembali. Dus, jumlahnya pun terus membengkak. Ibarat mati satu tumbuh seribu, mereka terus membiak saban waktu. Byuh-byuh!

Maka, ketika Moammar Emka merilis Jakarta Under Cover beberapa tahun silam, tak pelak kita terhenyak. Emka memang sukses mengaduk-aduk kesadaran kita bahwa di sana, di Jakarta, ada fakta tentang kanal-kanal wisata berahi yang memiriskan hati. Ia memaksa kita menyusuri lorong-lorong gelap prostitusi di Ibukota melalui gorong-gorong kalimat yang berjubelan kata-kata.

Tapi terasa ada yang ganjil. Imajinasi dirampat rentengan kata-kata yang tak akur dan berselibat, hatta tak leluasa berkelebat. Imajinasi mesti dimerdekakan dari kuasa kata-kata. Inilah yang dipancangkan Yuyung Abdi dalam buku ini. Ia jauh melampaui apa yang dieksplorasi Emka. Alih-alih bermain dengan bahasa kata-kata, Yuyung justru berselancar dengan bahasa gambar (baca: foto).

Dalam perspektif semiotika Barthesian, foto merupakan replika realitas (signified) yang begitu mengesankan, penuh aura, dan kaya makna. Karena itu, foto merenda senyampang alasan yang membuat kita terpikat. Misalnya, memberi informasi (to inform), menunjukkan (to signify), melukiskan (to paint), mengejutkan (to surprise), dan membangkitkan gairah (to waken desire).

Kelima faktor tersebut akan kita jumpai dalam buku “album foto” ini. Yuyung mengabadikan realitas prostitusi yang menggeliat di 27 kota di Indonesia plus di Las Vegas dan Singapura. Untuk mengembarai kota sebanyak itu, arek Suroboyo yang ditabalkan Dahlan Iskan sebagai tonggak fotografi model pertamanan Jawa Pos ini membutuhkan kurun tak kurang dari tiga tahun.

Wajar memang, sebab untuk masuk dengan menenteng sebuah misi di kawasan prostitusi seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Yuyung kerap dibelit “birokrasi prostitusi” yang rumit, juga preman lokalisasi yang terus menguntit. Namun dengan semangat alang-alang ia pantang patah arang. Berkat ketekunan dan kesabaran yang luar biasa, jepretan kameranya membuahkan hasil yang sungguh memesona.

Lihat saja, misalnya, foto seorang PSK bunting di kawasan lokalisasi Dolly Surabaya (hlm. xviii-xix). Demi mendapatkan foto yang elegan, Yuyung rela “merawat” PSK itu sekisar 4 bulan (5 Agustus-10 November 2006); sejak mitoni kandungan hingga melahirkan. Walhasil, ia menetaskan 3 foto yang sangat eksotis di mana kepedihan yang kelam terlihat begitu mencekam.

Cermati pula foto dua orang PSK tunawicara di seputar Museum Mpu Tantular Surabaya (hlm. xxiii). Untuk pendekatan saja Yuyung menghabiskan tempo lebih dari 4 bulan. Ia mengidamkan foto dalam satu frame yang bisa bercerita tentang hidup dan perjuangan dua PSK tunawicara itu. Hingga terbersit ide reflektif menghadirkannya dalam genangan rinai hujan ketika mereka menjajakan diri di tepi jalan.

Namun hujan dan dua PSK tunawicara itu kerap berselisih jalan. Setelah sekitar satu bulan menanti, momentum yang ditunggu itu akhirnya datang menghampiri. Jadilah foto objek setengah badan dengan siluet bayangan utuh mengambang di atas genangan air hujan. Fantastis! Foto yang sedemikian estetis seolah mewartakan takdir yang getir dan nasib yang berkubang dalam ketakberdayaan.

Menyimak satu per satu foto dalam buku berukuran jangkung (21,5 x 28 cm) ini kita serasa menziarahi duka dan nestapa yang berdenyar perlahan namun amat menyentuh perasaan. Dengan menatap lekat-lekat, jarak psikologis antara kita dan objek foto tiba-tiba amat rapat. Seperti dituntun kekuatan gaib, kedirian kita seakan-akan moksa, lebur ke dalam lika-liku drama kehidupan prostitusi yang gemerlap tetapi begitu gelap.

Melalui buku ini Yuyung menunjukkan kelasnya sebagai seorang fotografer profesional. Pergelutan dengan dunia fotografi sejak usia 14 tahun telah mengasah ketajaman naluri estetikanya, sehingga mampu menentukan angle pemotretan yang tidak sembarang fotografer sanggup melakukannya. Faktor inilah yang menjadikan foto-foto dalam buku ini tampak hidup dan menguarkan aura yang tak pernah redup.

Tapi sayang, penyajian foto kurang berimbang dan terkesan timpang. Selain mengabaikan pentingnya pengelompokan kronologis lokalisasi berdasarkan aspek geografis, Yuyung juga tak memedulikan standar kuantitas foto sebagai tolok ukur keterwakilan tiap-tiap kota. Bingkai lokalisasi di Madiun dan Tulungagung, tamsil masing-masing cuma diwakili selembar foto, sementara di Surabaya ia menggelontorkan 65 foto.

Analisis sosial tentang prostitusi di sejumlah kota juga acapkali dipaparkan dengan datar. Seperti di Sampit dan Banyuwangi, data-data seadanya saja digali dan masih jauh dari memadai. Hal ini tidak hanya cukup menyulitkan kita untuk mencerap informasi yang lengkap, tetapi juga mewariskan gundah gulana dan tanda tanya. Belum lagi penyajian bahasa yang kedap dengan kekacauan gramatika serta pembakuan istilah asing yang serampangan bisa mengganggu kenyamanan membaca.

Namun sejumput kelemahan tersebut tidak sebanding dengan kontribusi buku ini. Dengan mencamtumkan peta zona penyebaran prostitusi dari Sabang sampai Merauke yang saling bersinergi, Yuyung berhasil menguak fakta bahwa prostitusi bukan semata-mata disulurkan oleh faktor dekadensi moral, tetapi lebih-lebih karena belenggu kemiskinan.

Dan, yang unik, beberapa iklan komersial di buku ini di samping menunjukkan betapa berharganya kreativitas Yuyung, juga membuktikan kepatutan sebuah buku untuk diapresiasi. Jadi, sayang sekali bila buku ini diabaikan. Sungguh! [*]

Judul Buku      : Sex for Sale: Potret Faktual Prostitusi 27 Kota Di Indonesia
Penulis             : Yuyung Abdi
Penerbit           : JP Books
Cetakan           : Desember 2007
Tebal               : xxiv + 224 halaman

*) Saiful Amin Ghofur, Penikmat foto, tinggal di Jogjakarta.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s