Mengenal KH. Arief Hasan [9]

Menikahi Gadis Idaman

KHARISMA Kiai Arief lambat laun kian kukuh di mata masyarakat Beratkulon. Bukan semata-mata karena ia putra seorang ulama besar, Kiai Hasan, akan tetapi disebabkan oleh kepribadiannya sendiri yang elegan. Karena itu, tak sedikit tokoh masyarakat yang memimpikan bilamana putri mereka berkenan disunting oleh Kiai Arief, seorang kiai muda yang penuh talenta.

Salah satunya adalah Haji Hasyim, seorang tokoh keagamaan masyarakat Beratkulon yang kaya-raya sekaligus perintis madrasah diniyah di masjid Beratkulon. Haji Hasyim sadar betul seandainya Kiai Arief bersedia menjadi menantunya, di samping merupakan sebuah kebanggaan, tentu tersembul harapan madrasah diniyah yang dirintisnya bakal kian semarak. Seandainya Kiai Arief mau, kelak ia dijanjikan akan dinaikkan haji ke Tanah Suci.

Akan tetapi, hasrat Haji Hasyim kiranya bertepuk sebelah tangan. Dengan penuh pertimbangan dan cara yang halus agar tidak menyakiti perasaan, Kiai Arief mengutarakan ketidakmauannya atas permintaan menjadi menantu Haji Hasyim. Penolakan Kiai Arief lebih didasarkan atas kekhawatiran jika dituding menentukan pilihan terhadap seorang gadis yang akan dinikahi bersandar pada faktor kekayaan. Apalagi, ketika itu Kiai Arief memang belum menekuni pekerjaan tertentu, kecuali menyebarkan ilmu agama yang diperolehnya selama ngangsu kaweruh kepada Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari.

Kiai Hasan dan segenap keluarga mendukung sepenuhnya keputusan Kiai Arief. Untuk mencairkan keadaan, Kiai Hasan segera urun rembuk dan bermaksud menjodohkan putranya, Kiai Arief, dengan putri sahabat karibnya, Kiai Ridwan. Rumah kiai yang lazim dipanggil Abah Duwan itu berada di Japanan. Desa yang berada di arah timur Beratkulon itu sekarang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 10 menit perjalanan santai sepeda onthel. Rumah Abah Duwan persis di pinggir jalan, berjarak sepelemparan batu dari perempatan Japanan membelok ke utara.

Kiai Arief dengan sepenuh ikhlas, didorong kepatuhan  dan iktikad berbakti kepada orangtua, menyambut dengan lapang dada inisiatif Kiai Hasan. Kiai Arief begitu yakin bahwa pilihan ayah tercintanya adalah yang terbaik bagi dirinya, meski ia sendiri belum kenal siapa gadis yang akan ditabalkan sebagai pendamping hidup untuk menemani perjuangannya menegakkan syiar agama Islam. Bagaimana rupa, postur tubuh, dan kepribadian gadis itu, Kiai Arief sama sekali tidak tahu. Informasi yang disadap Kiai Arief bahwa dara jelita putri Abah Duwan itu bernama Thowilah. Usianya 11 tahun. Ia adalah santri Kiai Bisri yang tengah menjaring pengetahuan agama di Pondok Denanyar. Dalam benaknya diam-diam terbersit secuil keberanian yang berdenyar pelan untuk merangkai gadis idaman itu dalam bayang-bayang kenangan.

Kiai Arief berusaha sabar dalam penantian hari pernikahan. Hingga pada suatu hari tepat tiga tahun sebelum Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dikumandangkan oleh Soekarno dari Jakarta, Kiai Arief menapaki sunnah Rasulullah Muhammad saw. Dan, baru saat itulah Kiai Arief bisa membebaskan diri dari bayang-bayang gadis idaman.

Dengan prosesi yang jauh dari suasana gegap gempita namun sederhana dan bersahaja, Kiai Arief yang beranjak usia 25 tahun melangsungkan akad nikah di Japanan, di rumah Abah Duwan. Pengantin baru itu mengawali lembaran hidup dengan kebahagiaan yang lugu di bawah taburan doa restu Kiai Hasan, Abah Duwan, dan sejumlah kiai lainnya. Kiai Arief dan Nyai Thowilah, sepasang pengantin muda yang siap mengabdikan hidup demi perjuangan menebarkan risalah ketuhanan yang mencerahkan.

Lazimnya pengantin baru, hari-hari dilalui dengan keceriaan yang menggairahkan. Hatta, pada suatu ketika di siang yang panas, terdengar dentuman parang bertalu-talu membelah bilah-bilah bambu. Prak! Prak! Rupanya Abah Duwan, sang mertua kinasih, tengah sibuk sendirian hendak membuat pagar bambu. Kebisingan itu diterbangkan angin, hingga suaranya mampir di telinga Kiai Arief. Seketika suara-suara itu diterjemahkan Kiai Arief sebagai sebuah panggilan. Bahwa mertuanya memerlukan bantuan.

Kiai Arief keluar menemui Abah Duwan. Diperhatikannya berlonjor-lonjor bambu yang berderet utuh belum tersentuh parang. Sejenak Kiai Arief meminta izin kepada Abah Duwan untuk membantu membelah-belah bambu. Setelah diperkenankan, Kiai Arief tertunduk sekejab. Telapak tangan kanannya terbuka, semua jemarinya lurus ke depan, padat, dan penuh tenaga. Tangan kiri mengambil selonjor bambu diletakkan persis di depannya. Dengan sekali hentakan, telapak tangan kanan terayun. Dan, berlonjor-lonjor bambu itu terbelah. Berkali-kali. Subhanallah! Kekuasaan Allah tampak kasat di depan mata. Telapak tangan kanan Kiai Arief setajam parang mampu membelah-belah bambu. Peristiwa ini makin menebalkan kasih sayang Abah Duwan kepada menantunya, Kiai Arief.

Tak lama di Japanan, Kiai Arief memboyong istri tercinta, Nyai Thowilah, ke Beratkulon dengan menumpang pedati. Pedati berjalan pelan menyusuri jalan berliku di sela-sela kerikil dan batu. Barangkali, begitulah isyarat kehidupan yang kelak dilakoni Kiai Arief dan Nyai Thowilah sambil mendidik para santri di sebuah pondok pesantren mungil yang tegap berdiri.

Masa-masa indah pengantin baru perlahan-lahan memuai saat dihadapkan dengan kehidupan nyata. Sebagai kepala rumah tangga, Kiai Arief jelas bertanggung jawab terhadap siklus kehidupan keluarga, termasuk memenuhi kebutuhan ekonomi. Karena itu, berbekal pengalaman enterpreneurship yang pernah dilakukan semasa nyantri di Pondok Tebuireng, Kiai Arief mencoba menerapkannya di Beratkulon. Ia membuka usaha warung yang di dalamnya menjual beragam kebutuhan rumah tangga seperti beras, brambang merah, bawang putih, lombok, dan sejenisnya. Barang-barang kebutuhan dapur itu dibeli secara berkala dalam partai besar ke sebuah pasar di Mojokerto dengan menggunakan pedati.

Begitulah Kiai Arief. Sosok kiai muda yang tak hanya piawai mengaji dan ahli dalam hal ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga seorang kepala rumah tangga yang penuh tanggung jawab, sekaligus pekerja keras. Kiai Arief tak pernah riskan, apalagi malu, berjualan, meracang bahan-bahan kebutuhan dapur. Selain kegiatan itu, Kiai Arief juga tekun ke sawah yang jaraknya sehentakan kekang kuda ke utara dari rumah mertua di Japanan. Tapi yang pasti, seluruh aktivitas pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga itu tak mengalahkan dedikasinya untuk berhikmat membuka cakrawala pengetahuan guna memberdayakan para santri. [bersambung]

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan, (Yogyakarta: Kaukaba, 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s