Mengenal KH. Arief Hasan [8]

Merintis Pondok Pesantren

SEMENJAK titah menggantikan Kiai Hasan mengisi jamaah pengajian mampu diemban dengan penuh gemilang, kepercayaan diri Arief membumbung tinggi. Ia mulai telaten mengisi jamaah pengajian dengan niat tak lain mencari rida Allah serta mengamalkan ilmu yang diperoleh selama nyantri kepada Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari di Tebuireng. Perlahan-lahan, masyarakat mulai bisa menerima kehadiran Arief, dan predikat kiai pun disanggulkan di depan namanya. Masyarakat pun mulai memanggilnya dengan sebutan Kiai Arief. Meski masih belia, namun karena kedalaman ilmu dan kearifan sikapnya, sebutan itu memang layak disandang Arief.

Kiai Arief pelan-pelan dengan strategi yang matang mulai tampil di masyarakat. Tutur katanya yang lembut namun tegas dan kepribadiannya yang rendah hati turut memompa kharismanya di mata masyarakat. Kondisi Kiai Hasan yang semakin menua menjadikan Kiai Arief kian leluasa mengaktualisasikan potensi diri dan segenap hikmat untuk mengayomi masyarakat.

Kiai Arief lantas menjelma sebagai sebuah fenomena yang membelah sentra kegiatan madrasah diniyah di masjid Beratkulon. Sayangnya, keberadaan Kiai Arief sempat memunculkan gap kultural sehingga melahirkan dikotomi kubu masjid dan kubu Kiai Arief. Ketegangan kultural pun sempat mencuat ke permukaan. Konon, ketegangan ini didasari oleh mulai mencairnya pengaruh dominan tokoh-tokoh keagamaan Beratkulon, dan menyebar merata kepada Kiai Arief. Namun berkat kepiawaian dan kharisma Kiai Arief, ketegangan itu pelan-pelan mereda. Bagi Kiai Arief, keberadaan dirinya tak lain untuk menyemarakkan kegiatan keagamaan yang mengusung ruh istibaq fi al-khair, berlomba-lomba dalam kebajikan.

Sadar akan hal itu, dengan sokongan moral penuh dari Kiai Hasan serta berbekal restu Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, Kiai Arief mulai merintis pesantren. Pada 1 April 1939 pesantren yang diberi nama Roudlotun Nasyi’in resmi berdiri.  Terminologi ini diambil dari bahasa Arab. Secara harfiah roudloh berarti taman, dan nasyi’in berarti kaum muda yang tengah berkembang. Dari makna ini, Roudlotun Nasyi’in kelak diharapkan mampu mencetak generasi muda yang tangguh dan siap berkompetisi dalam kerasnya tantangan zaman. Pemilihan nama Roudlotun Nasyi’in juga tak terlepas dari fakta bahwa Kiai Arief ketika itu baru berusia 22 tahun, usia relatif muda dan dipenuhi semangat yang berkobar-kobar demi menuntaskan perubahan.

Tekad Kiai Arief untuk berjuang memberdayakan masyarakat melalui pondok pesantren semakin mantap dan optimistis karena dibantu sepenuhnya oleh saudara sepupu yang sedang nyantri di Pondok Pesantren Sedayu Gresik. Dialah Kang Bakar. Kang Bakar adalah putra dari saudara kandung ibu Kiai Arief, Nyai Sholihah. Soal kapasitas keilmuan, Kang Bakar tak diragukan lagi. Ia mahir membaca kitab kuning. Wawasan pengetahuan keagamaannya amat luas. Al-Qur’an pun telah hafal di luar kepala. Bahkan, pernah ketika Kiai Arief dites hafalan dengan Kang Bakar, ternyata Kang Bakar yang keluar sebagai jawara.

Tapi optimisme Kiai Arief berjuang bersama Kang Bakar seketika padam ketika takdir datang dengan amat getir. Di Pondok Pesantren Sedayu, Kang Bakar terserang penyakit tipes. Kondisi kesehatan Kang Bakar yang mulai melemah, dikabarkan pengurus Pondok Pesantren Sedayu melalui sepucuk surat yang dikirim via pos. Sayangnya, sepucuk surat itu tiba berhari-hari kemudian, sementara Kang Bakar di sana telah meregang nyawa. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Kang Bakar pun mangkat membawa serta secercah harapan Kiai Arief untuk merenda masa depan yang cerah bersama-sama berjuang memberdayakan masyarakat melalui pondok pesantren.

Kabar Kiai Arief hendak mendirikan pesantren cepat tersebar. Mendengar iktikad Kiai Arief itu, antusiasme positif masyarakat Beratkulon terus mengalir. Dukungan moril dan materiil lantas berdatangan. Masyarakat dengan sepenuh ikhlas membantu tanpa pamrih. Mereka melihat secercah harapan bakal bersemi dari kegiatan keagamaan di pesantren tersebut. Dengan semangat gotong-royong, mereka bahu-membahu menyingsingkan lengan baju dan tanpa mengenal letih terlibat langsung dalam mendirikan pesantren. Akhirnya, sebuah pesantren mungil yang konstruksinya dirajut dari anyaman bambu (gedeg) berdiri di antara jajaran pohon kelapa dan deretan pohon pisang yang rimbun. Pesantren yang menyatu dengan keindahan alam yang eksotis. Lokasi pesantren waktu itu persis di lokasi yang sekarang ditempati musolla.

Satu per satu santri berdatangan hendak mencerap ilmu Kiai Arief. Waktu itu tercatat 7 orang santri yang bisa dibilang sebagai generasi al-sabiquna al-awwalun, yaitu Mustamar (dari Gobah), Mansur (seorang tunanetra dari Mantup), Marwani (dari Beratkulon, rumahnya ketika itu di sebelah selatan masjid), Kasan (dari Krajan), Toyib (dari Beratkulon, putra carik Beratkulon), Solihan (dari Beratkulon), dan Khumaidi (teman karib Kiai Arief sendiri). Dalam tempo yang tak terlalu lama, santri Kiai Arief bertambah menjadi 25 orang, selain berasal dari masyarakat sekitar Beratkulon, juga beberapa di antaranya berasal dari luar kota semisal Gresik, Lamongan, Surabaya, Madura, dan Mojokerto. [bersambung]

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan, (Yogyakarta: Kaukaba, 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s