Mengenal KH. Arief Hasan [7]

Pergolakan Kultural

BERATKULON, awal tahun 1939.  Setelah enam tahun menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng, kini Arief mesti bergumul dengan kenyataan. Tak ada lagi derai tawa bersama teman-teman santri semasa di Tebuireng dulu. Takkan terjadi lagi keceriaan dan keriangan dalam permainan sepak bola. Juga takkan terulang suka-duka mengaji bersama di hadapan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari yang tegas, keras, dan penuh kedisiplinan. Semua itu mendekam dalam ingatan dan menggumpal sebagai kenangan. Arief memulai babak kehidupan baru: mengamalkan ilmu yang diperoleh untuk masyarakat Beratkulon.

Beratkulon, sebuah desa yang meskipun dikenal sangat agamis sebab masyarakatnya begitu kukuh menerapkan ajaran Islam, namun sesungguhnya menyimpan potensi pergolakan kultural. Ketika itu, di Beratkulon sudah berdiri sebuah madrasah diniyah yang diprakarsai oleh Haji Hasyim—seorang tokoh agama yang dulu rumahnya berada persis di sebelah utara masjid Beratkulon. Haji Hasyim, yang tempo itu merupakan orang terkaya di Beratkulon, mendatangkan para pengajar dari Pondok Pesantren Tebuireng. Beberapa di antaranya adalah Ustadz Syahid, Ustadz Salim, dan Ustadz Mukhtar. Bahkan dalam suatu peringatan maulid Nabi Muhammad saw. Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari pernah berkenan hadir dan memberikan mauidhah hasanah di masjid Beratkulon.

Madrasah diniyah di masjid Beratkulon waktu itu memang menjadi sentra kegiatan keagamaan. Selain para ustadz dari Tebuireng, madrasah diniyah juga diperkuat oleh tokoh-tokoh keagamaan lokal, misalnya Ustadz Mahmud dan Ustadz Zaidun. Kedua ustadz ini adalah orang pribumi (asli Beratkulon) yang pernah menimba ilmu di beberapa pesantren di luar Kota Mojokerto, termasuk juga di Pondok Pesantren Tebuireng. Antusiasme masyarakat Beratkulon untuk belajar agama di madrasah diniyah tersebut lumayan besar.

Arief yang waktu itu baru menapaki usia 22 tahun sadar akan kondisi Beratkulon, terutama keberadaan madrasah diniyah itu. Sebagai “pendatang baru” ia paham terlibat langsung dalam madrasah diniyah bukan pekerjaan mudah. Tentu butuh proses adaptasi dan sosialisasi potensi diri. Dengan proses inilah Arief bisa menunjukkan eksistensi dirinya di tengah kultur dan dominasi kegiatan keberagamaan yang berpusat di madrasah diniyah masjid Beratkulon.

Kiai Hasan tahu betul bahwa Arief membutuhkan proses mediasi untuk mengekspresikan potensi keilmuan yang diperolehnya selama nyantri di Tebuireng. Karena itu, Kiai Hasan meminta Arief untuk menggantikannya mengisi pengajian yang digelar di serambi rumahnya. Untuk itu, Kiai Hasan menyodorkan sebuah kitab yang nantinya akan dibacakan di hadapan jamaah pengajian. Arief sempat tergeragap, sebab kitab itu belum pernah dikaji selama ia nyantri di Tebuireng.

Kiai Hasan memang tengah menguji putranya. Arief sendiri tenggelam dalam kegalauan. Ia tak ingin mengecewakan Kiai Hasan. Ia tercenung. Pikirannya kalut. Malam setelah menunaikan salat tahajut, Arief bermunajat, berdoa kepada Allah agar segera terbuka jalan keluar. Tak lupa ia berwasilah kepada guru tercinta, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Ia teringat pesan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari bahwa dengan ketajaman batin segala permasalahan bisa diselesaikan. Ia pun merebahkan diri, bersiap menutup malam yang senyap dengan tidur yang lelap. Dalam tidur yang tenang itu, muncul isyarat seolah-olah ia disuruh mengaji di hadapan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Ia membaca kitab Fath al-Mu’in karya Syaikh Zainuddin al-Malibari.

Arief terbangun. Pengalaman spiritual yang disuluh dalam mimpinya begitu jelas membekas. Seperti digerakkan kekuatan gaib, ia meraih kitab yang hendak dibaca di hadapan jamaah pengajian. Ajaib, kitab yang semula susah dipahami, tiba-tiba terasa begitu mudah dibaca. Dari lisannya mengalun ritme seturut bunyi abjad Arab tanpa harakat yang terpahat dalam lembaran kitab berwarna kekuning-kuningan itu. Arief tertegun. Allah telah menunjukkan kebesaran kekuasaan-Nya. Subhanallah! [bersambung]

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan, (Yogyakarta: Kaukaba, 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s