Mengenal KH. Arief Hasan [6]

Belajar Mandiri secara Ekonomi

SEIRING berjalannya waktu, Arief tak menampik bahwa kebutuhannya semakin besar. Ia tak mungkin terus mengharap kiriman dari Kiai Hasan. Karena itu, atas inisiatif sendiri dan tanpa sepengetahuan keluarga di Beratkulon ia mencoba untuk membangun wirausaha kecil-kecilan. Jiwa enterpreneur yang dimilikinya mendorongnya untuk belajar mandiri secara ekonomi.

Dengan meneguhkan niat membantu meringankan beban keluarga, di sela-sela kegiatan mengaji, Arief membuka warung meracang. Di warung itu, ia menjual beberapa kebutuhan pokok santri, semisal jagung dan beras. Usaha ini dijalankan dengan penuh ketekunan. Dengan prinsip asal tidak mengganggu waktu mengaji, ia sama sekali tak malu bila putra kiai kharismatik seperti dirinya harus berjualan di warung meracang. Keuletannya lambat laun membuahkan hasil. Dari usaha itu pada akhirnya ia membuktikan bahwa dirinya sanggup berdiri di atas kaki sendiri.

Hatta tak terasa, rentang waktu enam tahun menimba ilmu di Pondok Tebuireng terlampaui. Kiai Hasan meminta Arief segera pulang ke Beratkulon untuk mengamalkan ilmunya. Tapi Arief merasa ilmu yang diperolehnya masih belum memadai. Arief merasa belum bisa apa-apa. Ilmu alat yang dikuasai dengan sangat matang, juga Al-Qur’an yang telah dihafal di luar kepala, baginya jauh dari cukup untuk bekal hidup bermasyarakat.

Tapi apa nian. Kiai Hasan tentu memiliki pertimbangan yang bijak ketika meminta Arief pulang. Apalagi setelah menghadap Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, Arief memang telah diizinkan pulang. Keteguhannya semakin mantap ketika Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari memberi isyarat bahwa segala ilmu yang dirasa kurang kelak dengan ketajaman mata batinnya akan terpenuhi.

Hari yang ditentukan pun tiba. Di awal tahun 1939, Kiai Hasan beserta segenap keluarga dan tak lupa sahabat karib, Khumaidi, ikut serta ke Pondok Tebuireng memohon izin kepada Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari untuk membawa Arief pulang. Prosesi serah-terima Arief dari Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari kepada Kiai Hasan dilakukan dengan penuh khidmat. Doa-doa pun dituahkan dalam prosesi sederhana yang kudus itu.

Arief, Kiai Hasan, dan segenap keluarga pun pulang. Tapi timbul persoalan ketika hendak membawa kitab-kitab Arief yang luar biasa banyaknya. Ternyata, setelah Arief mandiri secara ekonomi dengan membuka warung meracang, keuntungan penjualan sedikit demi sedikit ditabung dan dibelikan kitab. Karena jumlahnya begitu banyak, mustahil dibawa serta dengan dipanggul. Akhirnya, kitab-kitab Arief diangkut dengan dokar (pedati).

Rombongan itu melaju beriringan menyusuri jalan terjal yang membentang antara Tebuireng hingga Beratkulon. Roda pedati berjalan pelan namun mantap, semantap harapan Kiai Hasan dan Arief untuk menyongsong masa depan. Seorang kiai muda telah siap memimpin perubahan di Beratkulon. [bersambung]

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan, (Yogyakarta: Kaukaba, 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s