Mengenal KH. Arief Hasan [5]

Kejutan dari Kiai Hasan

MASA-masa nyantri di Pondok Tebuireng adalah saat-saat krusial bagi Arief untuk merenda eksistensi diri. Jalinan persahabatan dengan teman karibnya di Beratkulon, Khumaidi, masih terus berlangsung. Khumaidi kerap mengunjungi Arief di Pondok Tebuireng. Terkadang Khumaidi datang sendirian, dan sekali waktu bersama dengan Da’in, saudara kandung Khumaidi.

Baik Kiai Hasan maupun Markawi sadar bahwa jalinan persahabatan kedua anaknya sampai pada tahap yang sangat mengagumkan. Karena itu, untuk memfasilitasi pertemuan Khumaidi dengan Arief, Kiai Hasan acapkali memberi mandat Khumaidi untuk mengantarkan kiriman, entah berupa uang pesangon maupun berbentuk makanan. Khumaidi menerima mandat itu dengan lapang dada. Rona-rona kebahagian begitu jelas memancar dari mukanya. Jika sudah demikian, Khumaidi segera meluncur ke Pondok Tebuireng. Jalan terjal yang belum diaspal yang membentang sepanjang berpuluh-puluh kilometer dari Beratkulon bukanlah persoalan, asal ia bisa bertemu dengan Arief, teman karib yang selalu dirindukan. Untuk sampai di Pondok Tebuireng, Khumaidi terkadang menempuhnya dengan bersepeda dan tak jarang pula berjalan kaki. Masyaallah! Potret persahabatan yang seperti tak lekang oleh gerusan zaman.

Kunjungan Khumaidi selalu dinantikan oleh Arief bukan semata-mata karena kerinduan kepada seorang sahabat karib segera terpuaskan, akan tetapi juga karena kiriman yang dibawa Khumaidi. Bila Khumaidi membawa oleh-oleh makanan dari Kiai Hasan, Arief segera membagi-bagikan makanan itu kepada teman sesama santri hingga tandas. Tak pernah sekalipun ia menyembunyikan makanan untuk dirinya sendiri. Pantang bagi Arief untuk bersifat egoistis. Perasaan sesama pencari ilmu di perantauan menjadikan hatinya begitu peka terhadap keadaan. Kepekaan dan solidaritas sosial yang sangat dalam membuat Arief amat disayangi seluruh teman-teman santri.

Melalui Khumaidi, Arief menjalin komunikasi dengan Kiai Hasan dengan media surat. Maklumlah, tempo itu memang belum ada telepon, apalagi handphone, sehingga satu-satunya media komunikasi yang ada hanyalah surat. Arief meminta sedikit waktu untuk menulis surat sambil mempersilakan Khumaidi bercengkrama dengan teman-teman santri.

Apa yang ditulis Arief dalam surat itu selain warta keberadaan dirinya di pondok, juga data segala hal yang dibutuhkan. Namun sekali waktu Arief mencoba menyiasati kebutuhannya.  Sebenarnya kebutuhan itu bukanlah termasuk kategori kebutuhan primer, melainkan kebutuhan sekunder. Ihwal kebutuhan ini berawal dari keinginan Arief ketika melihat gaya dan penampilan, terutama dalam berpakaian, teman-teman santri yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.

Tempo itu, Arief begitu menginginkan pakaian jas sebagaimana sering dikenakan oleh teman-teman santri lain. Jika berterus terang kepada Kiai Hasan, kecil kemungkinan keinginan itu bakal terwujud. Maka, Arief berdalih hendak membeli kitab Ihya’ Ulumuddin. Padahal, waktu itu belum saatnya ia mengaji kitab karya hujjatul Islam Imam Gazali tersebut. Surat pun ditulis. Selesai menulis, surat itu disertakan Khumaidi ketika ia pamit pulang, seraya berharap kunjungan Khumaidi berikutnya membawa tambahan biaya untuk membeli kitab Ihya’ Ulumuddin.

Tapi apa yang terjadi tidaklah semulus harapan Arief. Jalan pikiran Kiai Hasan bertolak belakang dengan harapan Arief. Alih-alih mengabulkan permintaan uang tersebut, Kiai Hasan dengan sangat bijak membeli sendiri kitab Ihya’ Ulumuddin sebagaimana diminta Arief melalui suratnya.

Hari yang ditunggu tiba. Tapi bukan Khumaidi yang datang mengunjungi Arief, melainkan Mbah Zainuddin (ayah Bu Hazzah yang rumahnya sekarang berjarak sepelemparan batu di depan musolla pondok putra arah ke selatan). Bukan main girangnya hati Arief. Terlintas di benaknya, mendapat kiriman uang dan sebentar lagi ia bakal mengenakan jas yang perlente. Aduhai, betapa eloknya!

Tapi ibarat menggantang asap. Bukan uang yang disodorkan Mbah Zainuddin, tetapi kitab Ihya’ Ulumuddin. Arief tersenyum kecut. Pupus sudah angan-angannya untuk membeli jas. Sejenak ia salah tingkah. Secepat kilat ia sembunyikan kegetiran yang menggurat di raut mukanya agar tidak terbaca oleh Mbah Zainuddin. Dengan gamang ia membayangkan, bagaimana mesti memperlakukan kitab Ihya’ Ulumuddin sementara belum saatnya ia mengaji kitab itu.

Hari segera berganti. Dan, Arief tenggelam dalam rutinitas pondok sehari-hari. Hingga suatu ketika liburan akhir puasa menjelang lebaran tiba. Kiai Hasan datang ke Pondok Tebuireng, menjemput Arief untuk diajak pulang ke Beratkulon. Tak lupa Kiai Hasan meminta Arief membawa serta kitab Ihya’ Ulumuddin. Sepanjang perjalanan pulang, pikiran Arief berkecamuk mencoba menerka maksud Kiai Hasan yang menyuruhnya membawa juga kitab Ihya’ Ulumuddin itu.

Di malam yang tenang selepas menunaikan salat Isya berjamaah, Kiai Hasan meminta Arief mengambil kitab Ihya’ Ulumuddin. Hatinya berdebar. Dag-dig-dug. Kencang sekali. Rona wajahnya tiba-tiba pucat pasi sewaktu Kiai Hasan menyuruhnya membuka lembaran kitab Ihya’ Ulumuddin untuk dibaca. Tapi tak sepatah kata pun meluncur dari mulutnya ketika matanya menyusuri deretan abjad Arab gundul di ruas-ruas halaman kitab tersebut. Suasana berubah hening. Senyap. Arief menggigil, entah karena desir angin malam yang berkesiur pelan, ataukah akibat ketidakmampuannya melaksanakan perintah Kiai Hasan.

Kiai Hasan tercenung. Segera Kiai Hasan beranjak dan kembali dengan menenteng sebuah kaleng kosong yang biasa dijadikan wadah krupuk atau opak gapit. Arief menunduk. Ia tak kuasa menatap ke arah Kiai Hasan. Tiba-tiba ia dikejutkan suara keras. Gumprang! Kaleng kosong itu dijatuhkan Kiai Hasan dan ditendang dengan hentakan kaki yang kencang. Tong kosong nyaring bunyinya. Inilah segugus makna yang terpahat kuat dalam hati Arief dari peristiwa itu.

Arief sangat terpukul dengan peristiwa itu. Rasa menyesal dan bersalah bercampur, teraduk-aduk menjadi satu dalam hatinya. Namun demikian, justru peristiwa itu mampu melecut kesadarannya untuk segera berbenah dan bangkit dari keterpurukan. Tak ada gunanya sesal terus-terusan. Percuma saja menyalahkan diri tak henti-henti. Dalam lubuk sanubari yang terdalam ia bertekad akan senantiasa bersungguh-sungguh belajar di Pondok Tebuireng. Mengaji, dan mengaji. Sepenuh hati, setuntas yakin. Hatta, kelak ia menunjukkan kepada Kiai Hasan bahwa dirinya bukan serupa tong kosong yang nyaring bunyinya. [bersambung]

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan, (Yogyakarta: Kaukaba, 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s