Penulis Tak Pernah Mati

[Catatan Kecil atas Kematian Sang Penulis]

GENDERANG duka matinya penulis ditabuh A. Sihabulmillah dalam esai Kematian Sang Penulis. Dengan memakai baju post-modernisme, penulis ditahlili berjamaah begitu karyanya dilempar ke sidang pembaca. Setelah mati, yang tersisa cuma teks yang maknanya telah merdeka dari otoritas penulis.

Sihab tidak keliru dengan analisisnya, namun juga tidak sepenuhnya benar. Penulis bisa mati dalam masyarakat yang tradisi tulisnya bagus. Sehingga penulis sadar betul bahwa di hadapan karyanya sendiri ia telah mati. Hal yang tersisa adalah teks itu sendiri. Pada konteks ini, penulis memang berada di balik teks yang diproduksinya.

Roland Barthes secara teoritis memang memproklamirkan kematian penulis sejak ia menulis. Kata Barthes, menulis adalah proses ke dalamnya subjek melarikan diri, hitam putih dan semua identitas hilang, mulai dengan identitas tubuh penulis (Toety Heraty, 2000).

Tesis yang diagung-agungkan Sihab ini, hemat saya, tidak sepenuhnya bisa berlaku dalam konteks kepenulisan di Indonesia. Penulis tidak serta merta mati ketika pembaca datang menggantikan posisinya di hadapan teks. Pada masyarakat kita, tokoh masih saja menjadi pusat. Penulis lebih penting daripada teks. Paling tidak, penulis dituntut selalu hadir menyertai teks yang diproduksinya.

Tengoklah, umpamanya, tulisan tentang tinjauan kesusastraan, terutama yang ditulis di media massa, umumnya bahkan nyaris meninggalkan teks. Katakanlah ketika seseorang mengurai ideologi tertentu dalam cerpen, novel, dan puisi, orang itu akan menyebut ideologi penulis, bukan ideologi narator atau aku-lirik. Dengan demikian, kita sama sekali tidak bisa meninggalkan penulis, sebaliknya justru meninggalkan teks (Acep Iwan Saidi, 2006).

Mengapa hal itu bisa terjadi? Menurut asumsi saya, hal itu disebabkan tradisi kelisanan kita yang masih kental. Tradisi ini melahirkan kesenangan pada kerumunan, pada penyelenggarakan berbagai upacara, pada gosip, dan lain sejenisnya. Dalam kegiatan semacam ini tokoh menjadi lebih penting daripada pokok. Kegiatan seminar, misalnya, sering dinilai berkualitas jika yang berbicara adalah tokoh tertentu yang dianggap berkualitas. Dengan tokoh ini pula, panitia kemudian memasang harga tiket lebih mahal daripada jika yang berbicara adalah orang tidak terkenal. Dengan demikian, yang dijual sebenarnya adalah ketokohan, bukan pemikiran.

Dalam konteks kesusastraan, penulis adalah tokoh tersebut. Lihatlah acara diskusi peluncuran buku yang selalu saja mengundang penulisnya agar selalu berdiri di atas podium. Alibinya bisa saja untuk menceritakan proses kreatif, tetapi keberadaan penulis dalam acara tersebut menyiratkan pesan bahwa penulis memang senantiasa dibutuhkan kehadirannya pada saat bukunya dibicarakan. Walhasil, penulis selalu diposisikan pada mimbar, sehingga dengan begitu, jelas, penulis tidak akan pernah mati (Bambang Sugiharto, 2005).

Dalam masyarakat kita yang tradisi lisannya masih kuat, sekali lagi, penulis tidak pernah mati. Kita memang tidak menampik telah mentransfer cara berpikir Barat yang tradisi tekstualnya sudah mapan. Tapi, akar kelisanan yang begitu kuat sering menimbulkan friksi ketika sebuah buku diulas dan dibicarakan. Penulis biasanya memberi tanggapan secara emosional bila bukunya dinilai kurang berkualitas.

Oleh sebab itu, membaca sebuah teks tidak bisa dilepaskan dari pentingnya konteks kepenulisan. Mempelajari pemikiran seorang penulis tidak cukup dengan apa yang ditulisnya, tapi akan lebih baik jika mempelajari juga latar belakang mengapa penulis bersangkutan menulis hal itu. Cara berbahasa dan gaya kepenulisan juga tidak jarang terkait dengannya. Makanya, biografi penulis selalu dilirik menjadi hal penting sebagai aspek referensial sebelum bukunya dibaca dan dibicarakan.

Untuk mempertegas tesis penulis tidak pernah mati, sosok Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer perlu disodorkan. Siapapun tahu bahwa Chairil adalah tokoh sentral dalam sejarah sastra Indonesia. Begitu banyak masyarakat kita yang mengetahui Chairil sebagai sastrawan angkatan ’45, tapi yakinlah bahwa bisa dihitung dengan jari yang mengetahui dan memahami sajak-sajaknya.

Misalnya sajak Aku. Sajak ini memang dikenali dan sering dibaca banyak orang, namun segera kita tahu bahwa tingkatan pemahaman aku dalam sajak itu selalu diidentikkan dengan sosok Chairil yang revolusioner, meradang, menerjang, dan terbuang dari kumpulannya. Jarang sekali dipahami aku dalam sajak itu bukanlah sosok Chairil. Ini semakin memperkukuh tesis penulis tidak pernah mati, walaupun pada konteks ini nyata-nyata penulis (Chairil) betul-betul mati.

Contoh lain ketidakmatian penulis dan sebaliknya justru yang terjadi adalah kematian teks adalah sosok Pramoedya Ananta Toer. Siapa yang tak kenal Pram. Saya yakin, semua generasi yang pernah mengenyam sekolah pasti mengenal sosok ini. Belakangan ini bermunculan banyak kelompok di berbagai daerah, semisal Kelompok Baca Pramoedya di Surabaya, yang secara spesifik mencintai dan mendokumentasikan berbagai hal yang berkenaan dengan penulis fenomenal ini.

Namun, sebagaimana terjadi pada Chairil, tidak banyak orang yang mengetahui karya-karya Pram. Menjamurnya kelompok pencinta Pram tidak menjamin bahwa mereka benar-benar bisa memahami karya Pram dengan baik. Saya rasa, mereka lebih terpesona pada sosok kontroversial Pram daripada tergila-gila pada karya-karyanya.

Kasus Chairil dan Pram ibarat puncak gunung es tesis penulis tidak pernah mati. Di dasarnya masih banyak kasus serupa yang belum sempat terkuak. Karena tradisi lisan masyarakat kita yang mengakar kuat, tolong penulis janganlah dibunuh. Biarkan mereka membimbing masyarakat terlebih dahulu menuju tradisi tulis yang mapan.

*) Saiful Amin Ghofur, Kolomnis, tinggal di Krapyak Yogyakarta

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s