Penulis Copy-Paste

SEBUAH karya tulis tak lain merupakan kutipan-kutipan dari berbagai karya lain yang sudah ada, jadi tak ada yang berdiri sendiri,” kata Julia Kristeva. Seloroh Julia ini seakan menyambut kegelisahan R. Toto Sugiharto dalam Penulis, Tukang Oplos atau Intelektual Gadungan (JP, 15/01/06). Keprihatinan Toto memang patut didengar ketika ia menghamparkan sejumput kisah remang-remang jagad kepenulisan.

Katanya, saat ini jagad kepenulisan tengah semarak dengan penulis-penulis baru yang getol mereproduksi ide. Yang terjadi cuma cut and glow, potong sana tempel sini. Penulis macam inilah yang dituduhkan Toto sebagaimana judul tulisannya. Namun, sesungguhnya tulisan Toto juga tak lebih dari reproduksi kegelisahan yang jauh hari sudah digemakan M. Mushthafa dalam Vampir Kebudayaan dan Sisi Hitam Dunia Kepenulisan (JP, 02/12/05).

Menurut saya, Toto kurang proporsional dalam mengemukakan gagasannya. Toto mempermasalahkan Purwadi. Meski Purwadi sendiri mengaku sebagai tukang oplos alias perajin buku, tapi ternyata tak senaif yang dibayangkan Toto. Banyak karya Purwadi—yang jumlahnya ratusan—toh masih mencantumkan data referensi. Jadi, apanya yang bermasalah, bung?

Semestinya semangat menulis Purwadi yang patut disorot tajam. Laiknya Chairil Anwar yang ingin hidup seribu tahun lagi, Purwadi punya keinginan kuat menghasilkan seribu karya tulis sebelum mati. Obsesi inilah yang menjadikan Purwadi seorang penulis superproduktif. Karena itu, Purwadi selalu bergerilya mencari celah tema-tema yang belum terpublikasikan, terutama tema yang mengusung nilai-nilai kearifan lokal.

Saya bisa mengamini sekaligus kegelisahan Toto dan Mushthafa. Saya tak menampik fenomena munculnya generasi copy-paste dewasa ini yang seenak perutnya mencaplok sebagian karya orang lain dan diakui sebagai karyanya sendiri. Nah, inilah persoalan yang sesungguhnya layak didiskusikan panjang lebar.

Saya jadi teringat kasus buku Ipong S. Azhar, Radikalisasi Petani Masa Orde Baru (1999). Buku yang diangkat dari disertasinya di UGM beberapa saat setelah di-launcing mendapat reaksi keras dari Moch. Nurhasim. Ipong dituduh melakukan tindakan copy-paste dari skripsi Nurhasim di Unair yang berjudul Konflik Tanah di Jenggawah: Studi Kasus tentang Proses dan Hambatan Penyelesaian Sengketa Tanah di Jenggawah, Kabupaten Jember Jatim (1996). Kasus ini mencuat karena Ipong tak jujur sebab mengabaikan Nurhasim dalam data referensinya.

Gara-gara kecerobohan ini, Ipong tak hanya menanggung malu tetapi juga harus merelakan gelar doktoralnya dilucuti dalam Forum Rapat Senat UGM pada 25 Maret 2000. Lucunya, Nurhasim dalam skripsinya pun konon melakukan penyontekan serupa dari data-data sekunder milik petani setempat tanpa membubuhkan keterangan sumber data dalam daftar pustaka.

Dalam kasus tersebut jelas telah terjadi penipuan saintifik (scientific fraud) yang oleh Hadi Nur (2004) didefinisikan sebagai usaha untuk memanipulasi data dan fakta atau menerbitkan hasil kerja orang lain secara sengaja. Pada aras inilah, kegelisahan Toto dan Mushthafa menemukan relevansinya dan, karena itu, perlu segera dipulihkan.

Apalagi akses informasi yang mendukung praktik penipuan saintifik saat ini terbuka lempang. Melansir Mushthafa, data yang mudah dicari di internet lewat mesin pencari seperti google dan altavista tak dibantah turut membuka pintunya. Belum lagi, berkas-berkas sumber duplikasi begitu gampang dicari di pusat-pusat perbelanjaan buku, misalnya Shopping Centre di Jogja.

Apa yang bisa dilakukan di kala praktik penipuan saintifik seperti itu telah menggurita? Bagi saya, membangun tradisi kritik(us) dan merumuskan kode etik dalam tradisi penulisan buku, sebagaimana usulan Toto, belumlah memadai. Sebab akar permasalahan yang sesungguhnya terletak pada lemahnya mentalitas jujur, sportif, dan bertanggung jawab dalam diri seorang penulis.

Sikap jujur, sportif, dan bertanggung jawab seperti barang langka yang menguap tidak hanya dalam ranah kehidupan sosial-politik, tetapi juga merembes dalam dunia perbukuan. Sungguh memprihatinkan. Apalagi para pelakunya kebanyakan adalah masyarakat yang terdidik lewat bangku kuliah.

Padahal, kejujuran adalah ruh dari aktifitas menulis. Sebab, inti proses menulis adalah melesatkan gagasan kreatif untuk menggali pengakuan khalayak luas atas eksistensi diri penulis. Karenanya, wajar jika Djenar Maesa Ayu suatu ketika dengan nada satir melontarkan pertanyaan, “Kalau tidak jujur waktu menulis, jadi buat apa?”

Cut and glow alias copy-paste dalam proses menulis sah-sah saja asal tidak menyembunyikan sumber data. Inilah sikap jujur dan sportif sekaligus bentuk tanggung jawab eksistensial seorang penulis. Agak susah memang, apalagi bagi penulis instan yang tak sanggup menghargai makna sebuah proses menulis yang kadang harus kemat-kemut berkeringat menangkap ide agar tak berhamburan keluar dari pikiran.

Jikapun penulis instan saat ini ditengarai menjamur bak cendawan di musim penghujan, solusi jangka pendek yang digulirkan Mushthafa layak dipertimbangkan. Klausul surat perjanjian penerbitan yang memaparkan pasal-pasal penipuan saintifik berikut risiko dimejahijaukan bisa mengerem perkembangannya. Tapi dalam jangka panjang perlu dipikirkan upaya preventif yang lebih serius.

Hal yang bisa dilakukan adalah menggedor kesadaran pemerintah untuk ikut mengurusi persoalan ini. Pemerintah tak boleh cuci tangan dan harus ambil peduli. Caranya, bisa dengan merumuskan semacam kurikulum etika saintifik di lembaga pendidikan, terutama perguruan tinggi. Di situ, perlu diajarkan sejarah penipuan saintifik, bentuk, implikasi serta pergolakan psikologis antara mempertahankan sikap jujur, sportif, dan tanggung jawab dengan rongrongan keuntungan materi dari perilaku plagiasi.

Dengan demikian, ke depan akan lahir banyak penulis yang menulis dengan tidak digerakkan oleh, meminjam bahasa J. Sumardianta, kemendesakan finansial sehingga lincah ber-copy-paste, melainkan bersandar pada etika kejujuran demi misi pencerahan.

Yang jelas, kejujuran harus diutamakan di atas segala-galanya. Maka, modifikasi lirik lagu grup band Radja pantas kita renungkan, “Jujurlah padaku bila kau meng-copy-paste tulisanku…”. Nah! []

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s