Mengenal KH. Arief Hasan [4]

Ditempa Pendidikan yang Tegas

DALAM hal penerapan metode pembelajaran, Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari terkenal sangat tegas dan disiplin. Suatu tempo, Arief tidak berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Hal itu membuat Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari kecewa. Seketika cambuk rotan mendarat di punggungnya hingga meninggalkan bekas luka memar.

Arief tersentak. Kaget tak alang kepalang.  Seketika pikirannya berkecamuk mempertanyakan perlakuan guru terhadap dirinya. Dalam lubuk hati yang paling dalam terbersit sebuah keraguan dan kekuatan untuk berontak terhadap keadaan. Hingga akhirnya Arief pun pulang ke Beratkulon sembari meneguhkan niat takkan pernah kembali lagi ke Pondok Tebuireng.

Sesampai di rumah, Arief mengisahkan semua perlakuan yang diterima dari Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari kepada Kiai Hasan sambil berharap ayahnya akan mendukung keinginannya yang enggan kembali lagi ke Pondok Tebuireng. Tapi ibarat menepuk air di dulang terpercik muka sendiri, tanggapan Kiai Hasan sungguh di luar dugaannya. Kiai Hasan bahkan menampik mentah-mentah keengganannya kembali ke Pondok Tebuireng. Dengan tegas Kiai Hasan menyatakan bisa menerima perlakuan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari kepada Arief. Bahkan seandainya Arief sampai meninggal dunia di tengah proses mencari ilmu dan ketaatan kepada guru, Kiai Hasan bakal menerima sepenuh hati setumpah ikhlas. Akhirnya, Arief diantar kembali ke Pondok Tebuireng.

Perlakuan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari kepada Arief tidak membuatnya jera. Bahkan, hal itu dijadikan pelecut semangat dalam belajar. Ia bertekad takkan mengulangi kesalahan lagi. Ia tak ingin membuat orangtuanya, terutama Kiai Hasan, kecewa. Terngiang jelas betapa susahnya Kiai Hasan mencari biaya, sampai-sampai harus menjual bambu rakitan, demi kelangsungan belajarnya di Pondok Tebuireng.

Atas dasar itulah, Arief kian tekun belajar. Semua pelajaran yang dicurahkan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari diserap dengan matang. Tugas-tugas yang diberikan pun diselesaikan dengan sempurna. Kondisi ini perlahan-lahan membuatnya dekat dengan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Arief begitu patuh. Ketika dipanggil Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari,  bahkan saat mengerjakan salat, secepat kilat ia bersegera datang menyongsong panggilan sang kiai.

Di sela-sela kesibukan mengaji, Arief tak lupa membantu Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Kerap selepas menunaikan salat malam, pukul 3 dini hari ia bersegera menuju rumah Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Di sana ia mencuci piring-piring kotor, menimba air untuk mengisi bak mandi Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari hingga penuh. Hal ini dilakukan dengan penuh ikhlas, tanpa paksaan dari siapapun. Arief yakin bahwa ketaatan yang menyeluruh terhadap seorang kiai akan membawa berkah tersendiri di kelak kemudian hari.

Keikhlasan dalam membantu menjadikan Arief kian dekat dengan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Bahkan ia termasuk salah satu santri kinasih Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Sering Arief dipanggil Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, minta dipijit. Oleh Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, Arief kerap dipanggil dengan sebutan thawil yang berarti orang yang kurus. Sebutan ini memang mengacu pada postur tubuhnya yang kurus dan tinggi.

Di Pondok Tebuireng, Arief terkenal sebagai santri yang sangat supel dan pandai bergaul. Ia tidak membeda-bedakan teman—meskipun ia adalah seorang putra kiai kharismatik dari kawasan utara sungai Brantas. Selain gemar berdiskusi dan muthala’ah kitab bersama teman-temannya, termasuk Ahyat Khalimi—yang kelak menjadi kiai kharismatik di Mojokerto dan mendirikan Pondok Pesantren Sabilul Muttaqin—Arief memperlebar sosialisasi dengan aktif terlibat permainan kultural sesama santri. Jenis permainan yang paling digandrungi Arief semasa nyantri di Tebuireng adalah sepak bola. Dengan ditopang postur tubuhnya yang tinggi dan langsing serta kecepatan berlari, Arief cukup piawai dalam mengolah bola di lapangan, meski lapangan itu tak lain adalah halaman Pondok Tebuireng. [bersambung]

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan, (Yogyakarta: Kaukaba, 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s