Mengenal KH. Arief Hasan [2]

Keriangan Masa Kanak-kanak

DI luar waktu mengaji dan belajar agama kepada Kiai Hasan, Arief tak lepas dari pergaulan dengan teman-teman sebayanya. Masa kanak-kanaknya dinikmati dengan penuh keriangan. Seorang temannya, Khumaidi,  yang tinggal di Beratlor (sekarang rumahnya terletak di deretan paling ujung timur sebelah utara sungai kecil yang membelah Beratkulon dan Beratlor) terbilang sebagai sahabat karib. Keduanya kerap terlibat dalam permainan yang mengasyikkan.  Di mana ada Khumaidi, di situ hampir pasti ada Arief. Begitu juga sebaliknya. Bahkan, untuk potong rambut saja, Arief selalu minta ditemani Khumaidi. Kebetulan, tukang potong rambut itu adalah ayah Khumaidi, Markawi, yang juga teman akrab Kiai Hasan.

Rupa-rupa ekspresi Arief dalam menikmati keriangan masa kanak-kanak. Kadang bermain petak umpet dengan teman-teman sebayanya, kadang berlari-larian, dan lain waktu, bermain layang-layang. Untuk layang-layang ini, Arief hanya berkenan jika layang-layangnya dibuat oleh Riah, saudara Khumaidi. Selain layang-layang buatan Riah, Arief tak mau menerbangkan. Dan, kesukaan Arief, layang-layang itu harus berekor panjang, sehingga ketika dinaikkan ke angkasa, serpih-serpih kertas yang disambung memanjang akan berkelebat dan bergelombang ketika diterpa angin kencang.

Kesukaan Arief menerbangkan layang-layang berekor panjang, diterjemahkan Markawi sebagai suatu isyarat bahwa kelak Arief akan tampil sebagai seorang panutan yang diikuti banyak orang. Isyarat ini pun dengan setengah berbisik diungkapkan kepada Kiai Hasan pada suatu sore ketika Arief dan Khumaidi tengah asyik menerbangkan layang-layang.

Isyarat yang ditangkap Markawi itu membuatnya semakin yakin bahwa Arief bukanlah bocah sebagaimana anak-anak seusianya. Dalam diri Arief memancar aura yang membuatnya tampak menonjol di antara teman sebayanya. Arief dalam usia bocah kerap didaulat teman-temannya untuk menjadi pemimpin dalam permainan kanak-kanak. Arief begitu istimewa, sejak usia kecil jiwanya tertempa mau mengayomi sesama teman sepermainan.

Namun dalam batas-batas tertentu, sifat kanak-kanak yang lumrah tak lepas dari diri Arief. Terkadang ia terlibat dalam sebuah perkelahian kecil namun masih diselingi canda tawa dengan Hamid, kakaknya. Maklumlah, seorang bocah. Setelah puas “menggoda” kakaknya, Arief berlarian. Dan, Hamid terus mengejar. Keduanya berkejaran. Jika sudah demikian, Arief biasanya menghambur ke rumah Mbah Mahmud (dulu terletak persis di sebelah utara musala Pondok Pesantren Putra).  Kakek Arief dari jalur nasab Kiai Hasan itu segera menyambut kedatangan cucunya seraya membentangkan tangan. Begitu pula terhadap Hamid. Kedua bocah itu pun tenggelam dalam dekapan kasih sayang seorang kakek yang hangat.

Begitulah keriangan kanak-kanak seorang Arief. Dalam iklim kekeluargaan yang sangat harmonis, Arief perlahan tumbuh menjadi seorang anak yang amat sabar dan penyayang. Secara psikologis, anak yang dibesarkan dengan kasih sayang, ia akan belajar mencintai dan mengasihi sesamanya. Inilah yang dialami Arief sekaligus proses penanaman falsafah hidup yang luhur.

Tak lama kemudian, Arief ikut kakeknya, Mbah Mahmud, ke Pereng Sepanjang Sidoarjo untuk memperdalam ilmu-ilmu Al-Qur’an. Di sana, Arief tidak hanya belajar kepada Mbah Mahmud, tetapi juga kepada Mbah Artinyu. Istri Mbah Mahmud ini berasal dari negeri tirai bambu, Cina. Karena hal itulah, di dalam diri Arief mengalir darah keturunan Cina, sebuah negeri fenomenal yang sempat disinggung dalam sebuah hadis Nabi: Uthlûb al-ilma walau bi al-Shîn. [bersambung]

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan, (Yogyakarta: Kaukaba, 2009)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s