Sufyan ats-Tsauri

SUFYAN ats-Tsauri lahir di Kufah pada tahun 97 H. Ia hidup dalam keluarga yang alim. Ayahnya adalah seorang ahli hadis yang kuat dan terpercaya. Dari ayah inilah ia menerima dasar-dasar pengetahuan tentang agama islam. Ibunya pun demikian, meski profesinya penjahit namun ia adalah seorang perempuan yang cerdas dan cukup disegani karena kedalaman ilmunya.

Dalam suasana keluarga seperti ini Sufyan terus terpacu untuk menuntut ilmu. Apalagi keluarganya terus menyuntikkan semangat bagi kelangsungan belajarnya. Tentang hal ini ibunya berkata, “Anakku, tuntutlah ilmu pengetahuan. Aku akan membantumu dengan mesin jahitku ini.” Perkataan ibu Sufyan ini dapat dipahami betapa mereka adalah keluarga yang jauh dari kecukupan—untuk tidak mengatakan miskin. Namun demikian, semangat menuntut ilmu tetap menggelora.

Sufyan terus tumbuh sebagai pemuda yang tak henti-henti menuntut ilmu. Beragam disiplin keilmuan terus ia pelajari. Namun dari semua disiplin keilmuan itu, alquran menempati urutan teratas. Perhatiannya terhadap alquran sangat besar. Tidak mudah baginya untuk berpaling dari alquran, sebab ia menyadari bahwa alquran adalah dasar utama dalam kehidupan umat islam. Tanpa alquran takkan ada islam. Kecintaannya terhadap alquran diakui oleh seorang sahabatnya, Walid bin Uqbah. Walid berkata bahwa Sufyan selalu memandang alquran. Apabila sehari saja tidak membacanya, ia akan menepuk-nepuk dada sebagai simbol penyesalan yang teramat dalam. Bahkan menurut pengakuan Abdurrazaq, Sufyan mengharuskan dirinya setiap malam membaca satu juz dari alquran sebelum tidur.

Sufyan hidup sangat sederhana. Ia berprinsip tidak akan mengajar kecuali setelah belajar adab dan sastra selama dua puluh tahun. Pada tahun155 H ia pindah dari Kufah ke Basrah hingga wafat di kota ini pada tahun 161 H.

Menafsirkan Ayat yang Dibutuhkan Umat

Sufyan memang tidak sempat menulis tafsir secara utuh. Hasil penafsiran Sufyan tersebar berupa tulisan yang disalin umat ketika mengikuti pengajiannya. Namun demikian, hasil penafsirannya banyak dinukil oleh mufasir sesudahnya seperti at-Tabari.

Penafsiran Sufyan berbeda dengan apa yang dilakukan ulama lain semasanya yang menafsirkan ayat demi ayat dari awal surah hingga akhir. Ia hanya menafsirkan ayat yang dibutuhkan umat. Sebab, umat ketika itu hanya membutuhkan penafsiran terhadap ayat tertentu yang dikarenakan kurangnya pengetahuan mereka tentang ayat tersebut, baik dari segi bahasa Arab maupun keilmuan lainnya. Singkatnya, Sufyan menafsirkan ayat sesuai kondisi dan keperluan. Selain itu, Sufyan juga bersandar pada pendapat sejumlah sahabat Nabi. Salah satu pendapat sahabat yang sering dinukil adalah Mujahid.

Karena tidak terdokmentasikan dengan mapan tafsir Sufyan ini nyaris dianggap hilang. Syahdan, pada tahun 1385 H/1965 M, Prof. Imtiyaz Ali Irsyi, seorang kepala perpustakaan Ridha di Kota Rambor India menemukan tafsir Sufyan ini berupa manuskrip—meski tidak utuh. Irsyi juga telah meneliti dan mengoreksi serta mentashih tafsir Sufyan ats-Tsauri ini.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s