Ibnu Jazi

NAMA lengkap Ibnu Jazi sangat panjang, yaitu Abu al-Qasim bin Muhammad bin Ahmad bin Abdullah bin Jazi al-Kalbi al-Gharnathi. Ia lahir di Granada. Sayang, informasi tentang tahun kelahirannya tidak ditemukan. Sejak kecil ia hidup di tengah lingkungan keluarga dan masyarakat yang religius. Karena faktor inilah semangat menuntut ilmu terus menebal dalam dirinya.

Sebagaimana anak seusianya, Ibnu Jazi belajar dasar-dasar agama Islam selain kepada orang tuanya, juga kepada sejumlah ulama terkemuka. Ia mempelajari tak hanya satu disiplin keilmuan, akan tetapi lintas disiplin keilmuan. Misalnya, fikih, bahasa Arab, ushul, dan sastra.

Ibnu Jazi memiliki obsesi ingin menjadi yang terunggul dan menguasai bidang syariat. Ia berkata, “Inginku adalah kesehatan dan kelapangan. Menggali ilmu syariat sedalam-dalamnya merupakan kesudahanku dalam hidup. Bagiku cukup sudah dunia yang menipu. Hidup yang nyaman ketika dahaga selalu terpuaskan.”

Untuk menuntaskan dahaga pengetahuannya, Ibnu Jazi berguru kepada banyak ulama. Kepada Abi Ja’far bin Zubair ia berguru bahasa Arab, fikih, dan qiraat. Kepada Abu Abdullah bin al-Ummad dan al-Hafiz bin Rasyid ia berguru ilmu-ilmu Al-Quran. Ia juga dikenal sebagai sosok pejuang. Hal ini tampak ketika ia menyemati banyak orang dalam Perang Tarif hingga syahid pada Jumadil Ula tahun 741 H.

Obsesi Menulis Tafsir

Ibnu Jazi terbilang ulama yang sangat produktif. Karya-karyanya meliputi beragam disiplin keilmuan. Misalnya, al-Anwar ats-Tsaniyah fi al-Kalimat ats-Tsaniyah, ad-Da’wat wa al-Azkar al-Mukhrijah min Sahih al-Akhbar, at-Tanbih ‘ala Mazhab asy-Syafiiyah wa al-Hanafiyyah wa al-Hanbaliyyah, an-Nur al-Mubin fi Qawaid Aqaid ad-Din, dan sebagainya. Namun dari kesemua karyanya, ia memiliki sebuah karya tafsir yang monumental, yaitu at-Tashil li ‘Ilmi at-Tanzil.

Tafsir Ibnu Jazi ini diniatkan berbeda dengan kebanyakan mufasir pada masanya. Sebelum menulis tafsir ini, ia mencermati karya mufasir yang beragam. Beberapa di antara mereka menggunakan bahasa yang lugas dan ringkas. Namun tak sedikit pula yang berbelit-belit. Bahkan mereka cenderung menukil pendapat ulama sebagai patokan dalam menafsirkan Al-Quran.

Karena itulah Ibnu Jazi tergerak untuk menulis tafsir yang menghimpun banyak hal—meski penyusunannya sederhana.  Maka ia merumuskan empat tujuan penulisan tafsir tersebut. Pertama, menghimpun berbagai disiplin ilmu. Ia telah meringkas, menyeleksi, dan memilah-milah ilmu-ilmu Al-Quran yang digemari. Bahasa penafsiran yang dipilih pun sederhana, ringkas, dan tidak berbelit-belit.

Kedua, mengajukan hal-hal baru yang belum dieksplorasi oleh tafsir sebelumnya. Tafsir yang ditulis itu diakuinya sebagai sebuah refleksi pribadi yang menghimpun serangkaian ajaran yang diterima dari guru-gurunya.

Ketiga, memberi penjelasan yang gamblang dengan menyederhanakan permasalahan yang rumit. Dengan ungkapan yang lugas, ia menjelaskan kasus-kasus yang bersifat general.

Keempat, mengkritisi pendapat mufasir sebelumnya yang keliru. Ia membedaka pendapat yang lebih benar dari pendapat yang hanya benar. Sebab, pendapat dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa kategori. Di antaranya adalah pendapat yang benar dan dapat dijadikan pijakan. Kemudian pendapat yang keliru dan tidak dapat dijadikan pijakan. Selanjutnya pendapat yang memiliki kemungkinan benar dan salah.

Tafsir Ibnu Jazi ini terbagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama menyoal tentang bab-bab yang berkaitan dengan Al-Quran dan kaidah-kaidah umum. Pada bagian ini ia mengklasifikasikan menjadi dua belas bab. Secara berurutan membahas tentang proses turunnya Al-Quran kepada Nabi Muhammad, periodesasi Mekkah dan Madinah, makna dan pengetahuan yang terkandung dalam Al-Quran, disiplin ilmu yang berkaitan dengan Al-Quran, asal usul perbedaan pendapat mufasir, tentang ahli tafsir, konsep nasakh-mansukh, himpunan qiraat, wakaf, fasahah-balagah-bayan, kemukjizatan Al-Quran, dan keutamaan Al-Quran. Adapun bagian kedua membahas tentang kosakata benda, kerja, serta sisipan yang terdapat dalam Al-Quran.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

2 Comments

  1. Informasi dari Wikipedia berbahasa Arab, Ibnu Jazi lahir d Granada pada bulan Syawal 721 H (1321 M) dan wafat pada tanggal 29 Syawal 757 H (1356 H) di Fez, Maroko. Wallahu a’lam.

    Salam kenal


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s