Ibnu Athiyyah

NAMA lengkapnya adalah al-Qadhi Abu Muhammad Abd al-Haq ibn Ghalib ibn Abdurrahman ibn Ghalib ibn Athiyyah al-Muharibi. Ia lahir di Granada pada tahun 481 H. Ia dibesarkan di tengah keluarga yang sangat mencintai ilmu pengetahuan. Ayahnya adalah seorang ulama hadis terkemuka yang hafal beribu-ribu hadis. Dari ayah inilah ia mendapat pendidikan dasar agama Islam.

Ibnu Athiyyah dianugerahi kecerdasan yang luar biasa. Karena itu, pelajaran yang diterimanya dengan mudah dihafalkan. Tentang hal ini, Imam as-Sayuthi dalam kitab Bughya al-Wu’ad berkata, “Ia orang yang mulia. Terlahir dari keluarga yang berilmu. Otaknya sangat cerdas. Bagus pemahamannya dan terpuji budi pekertinya.”

Riwayat hidup Ibnu Athiyyah tak pernah sepi dari pengembaraan menuntut ilmu. Kota-kota seperti Qurthubah, Isybiliyyah, Marsiyah, dan Balansiyah adalah sedikit kota yang pernah dikunjungi. Beragam disiplin ilmu ia pelajari dari sejumlah ulama. Misalnya, Abu Ali Husin ibn Muhammad al-Ghassani. Ulama ini adalah gurunya yang utama. Namun sayang, ia berguru tak lama sebab al-Ghassani keburu wafat pada tahun 498 H.

Setelah itu, Ibnu Athiyyah berguru kepada al-Faqih Abu Abdullah Muhammad ibn Ali ibn Muhammad at-Taghlibi. Sebagaimana al-Ghassani, ia juga belajar hingga at-Taghlibi wafat pada tahun 508 H. Demikian juga kepada Abu Ali al-Husin ibn Muhammad ash-Shadafi hingga ash-Shadafi wafat pada tahun  514 H. Hatta, pada tahun 542 H Ibnu Athiyyah meninggal dunia di Andalus.

Membangkitkan Nasionalisme Arab

Ibnu Athiyyah banyak menulis karya. Hanya saja, karya berupa tafsir telah melambungkan popularitasnya. Tafsir yang diberi nama al-Muharrir al-Wajiz fi Tafsir Al-Qur’an al-Aziz mampu membangkitkan nasionalisme Arab. Melalui tafsir itu, ia tak henti-hentinya memberi semangat kepada generasi muda untuk bersatu dan memandang kehidupan dengan penuh optimistis.

Tafsir ini ditulis dengan bahasa yang ringkas dan sarat makna. Dengan tafsir ini ia mampu mengalahkan ulama yang hidup semasa dengannya—dan bahkan juga sesudahnya. Ibnu al-Umairah az-Zahabi memberi kesaksian tentang hal ini. Ia berkata, “Ibnu Athiyyah mengarang kitab dalam bidang tafsir yang mengungguli kitab-kitab sebelumnya.”

Ibnu Jazi juga berkomentar, “Kitab Ibnu Athiyyah dalam bidang tafsir termasuk karangan yang paling baik dan moderat. Sebab, beliau membaca kitab-kitab sebelumnya lalu mengoreksi dan meringkasnya. Dengan demikian, ungkapan bahasanya terkesan indah, pemikirannya lurus, dan ia mengamalkan sunah.”

Begitu pula Ibnu Taimiyah. Ia berkata, “Tafsir Ibnu Athiyyah lebih bagus dari tafsir karya Zamakhsyari, lebih sahih kutipan dan bahasannya, selamat dari bid’ah, bahkan ia jauh lebih bermutu dari tafsir Zamakhsyari tersebut. Barangkali tafsir Ibnu Athiyyah adalah tafsir yang paling rajih.”

Dalam menulis tafsir ini Ibnu Athiyyah sangat berhati-hati. Ia sangat selektif dan menghindari cerita-cerita israiliyat. Ia menyebutkan ayat kemudian menafsirkannya dengan penafsiran yang mudah, menyeluruh, dan ringkas. Lalu ia menyebutkan hal-hal yang berhubungan dengan ayat yang diambil dari hadis Nabi. Terkadang ia mengutip pemikiran ath-Thabari dalam tafsir Jami’ al-Bayan. Juga dari tafsir al-Mahdawi yang berjudul at-Tafsir al-Jami’ li ‘Ulum at-Tanzil.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s