Al-Imam Ath-Thibrisi

NAMA lengkapnya adalah al-Fadhl ibn al-Hasan ibn al-Fadhl ath-Thibrisi. Ia lahir di Thibristan. Nama ath-Thibrisi sendiri dinisbatkan pada tempat kelahiran ini. Tak ditemukan informasi tentang tahun kelahirannya. Tetapi tidak bagi tahun kematiannya. Ia wafat tepat pada malam hari raya Idul Adha pada tahun 548 H di Khurasan, tepatnya di perkampungan al-Masyhad ar-Radhawi.

Ath-Thibrisi merupakan salah seorang ulama yang menganut aliran Syiah. Gurunya, Abu Ali ibn Syaikh ath-Thusi, adalah ulama Mazhab Syiah yang terkemuka. Dari ath-Thusi ini ia banyak belajar tentang ilmu Al-Qur’an. Ia juga belajar selain ilmu Al-Qur’an seperti fikih dan bahasa Arab kepada ulama di kotanya.

Akibat Dikubur Hidup-hidup

Suatu ketika, ath-Thibrisi pernah jatuh pingsan dalam waktu yang lama. Mungkin mati suri. Oleh sebagian orang ia dikira telah meninggal dunia. Karena itulah, ia diperlakukan sebagaimana lazimnya jenazah: dimandikan, dikafani, disalati, dan dikuburkan.

Syahdan, seketika ia terjaga. Namun didapatinya suasana gelap yang sangat mencekam. Setelah kesadarannya benar-benar pulih, ia baru menyadari bahwa saat itu ia tengah dikubur. Ia tak bisa berbuat banyak kecuali berdoa kepada Allah agar memberinya hidayah. Dalam kondisi yang memprihatinkan itulah ia menggumamkan nazar: bila selamat ia akan mengarang sebuah kitab tafsir Al-Qur’an.

Tak dinyana, salah seorang penggali kuburnya bermimpi tentang dirinya. Dalam mimpi itu ia mengabarkan bahwa dirinya masih hidup. Atas dasar mimpi itu dan dibarengi hidayah dari Allah, penggali kubur itu lalu bergegas menggali kembali kuburannya. Hanya rahmat Allahlah yang membawanya menghirup kembali udara di alam dunia.

Ath-Thibrisi kemudian menepati nazarnya. Ia mengarang sebuah kitab tafsir yang diberi nama Majma’ al-Bayan. Dalam kitab ini ath-Thibrisi memberi kesempatan yang lempang kepada pembaca untuk langsung menuju kepada pembahasan yang diinginkan. Siapa yang ingin membahas ilmu bahasa, maka ia bisa langsung membuka pasal khusus tentangnya. Siapa yang ingin membahas ilmu nahwu, maka ia dipersilakan langsung menuju babnya.  Siapa yang ingin mengenal qiraat, baik riwayat, takhrij, maupun dalilnya, maka ia bisa langsung melihat pada tiap-tiap ayat niscaya akan ditemukan dengan mudah.

Dapat dikatakan bahwa tafsir ini benar-benar memudahkan bagi orang-orang yang hendak mempelajari Al-Qur’an. Sebab, ath-Thibrisi mulai mengarang kitab dengan ringkas dan teliti, bagus aturan dan susunannya, menghimpun pelbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu qiraat, I’rab, bahasa, hingga sejarah.

Selain tafsir Majma’ al-Bayan, ath-Thibrisi juga menulis dua kitab tafsir, yaitu al-Kafi asy-Syafi’ ‘an al-Kasyyaf dan al-Wajiz. Tafsir yang pertama berisi koreksi kritis atas tafsir al-Kasysyaf karya az-Zamakhsyari yang terdiri atas empat jilid. Adapun tafsir yang kedua merupakan ringkasan komparatif terhadap dua kitab sebelumnya, yaitu Majma’ al-Bayan dan al-Kafi asy-Syafi’ ‘an al-Kasyyaf.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s