Abu Zakaria al-Farra’

ABU Zakaria al-Farra’ hidup pada masa Dinasti Abbasiyyah. Informasi perihal kelahirannya tak banyak ditemukan. Ayahnya ialah Ziyad bin Aqta’—seorang ulama yang sangat mencintai Rasulullah saw. dan keluarganya. Bahkan, ia rela berkorban demi kecintaan tersebut. Kata aqta’ (yang berarti terputus) adalah kata yang ditempelkan pada namanya sebagai tanda jasa karena cintanya kepada keluarga dan keturunan Rasulullah saw. Sebab, tangannya terputus karena ikut berperang membantu Imam Husain r.a.

Karena al-Farra’ hidup pada masa keemasan islam, ia mencerap banyak pengetahuan dari sejumlah ulama. Misalnya, kepada Ali bin Hamzah al-Kisa’ie ia belajar ilmu nahwu, ilmu fiqih dan hadis dipelajari dari Sufyan bin Unaiyah, sedangkan ilmu qiraat dipelajari dari al-Kisa’ie dan Muhammad bin Hafs.

Dari serangkaian ilmu yang dikuasai, ilmu nahwu lebih dominan. Karena kemahiran dalam ilmu nahwu inilah, sampai-sampai Khalifah al-Makmun menyuruhnya membuat dasar-dasar ilmu nahwu. Tak tanggung-tanggung, Khalifah al-Makmun bahkan menyediakan ruangan khusus dengan fasilitas dan perabotan yang lengkap, dan juga para pembantu untuk memenuhi semua kebutuhan al-Farra’.

Semua itu bertujuan agar al-Farra’ merasa tenang dan fokus dalam menulis apa yang dititahkan oleh Khalifah al-Makmun. Ketika waktu salat tiba para pembantu tersebut segera mengumandangkan azan dan salat bersama al-Farra’. Kemudian mereka mengumpulkan kertas yang telah ditulis oleh al-Farra’ untuk disimpan dan dibukukan. Luar biasa! Inilah bukti betapa ilmu pengetahuan telah mengangkat derajat pemiliknya.

Meski dekat dengan penguasa, gaya hidup al-Farra’ tetap sederhana dan bersahaja. Ia tak tenggelam dalam gemerlap materi. Harta yang diperoleh tidak dinikmati sendiri. Harta itu ia bagi-bagikan kepada sanak kerabat dan orang-orang miskin yang membutuhkan. Cara yang ditempuhnya adalah dengan silaturahmi. Karena itulah, al-Farra’ sangat dicintai oleh masyarakat. Ia tak segan-segan untuk menolong sesamanya.

Ditipu Penerbit

Al-Farra’ menghasilkan banyak karya tulis. Dari kesemuanya yang paling monumental adalah tafsir al-Ma’ani al-Qur’an. Ide awal menulis tafsir ini sebenarnya bukan dari al-Farra’ sendiri, melainkan atas permohonan seorang sahabatnya, Umar bin Bakir, yang menjadi penasihat Gubernur al-Hasan bin Sahal.

Lantas al-Farra’ mengabulkan permohonan tersebut. Ia pun berkata, “Berkumpullah, aku akan mengajarkan kalian alquran, dan aku akan mendiktekannya kepada kalian.” Lalu ia menyediakan waktu khusus untuk forum itu. Ia mendiktekan, dan banyak yang mencatatnya.

Setelah al-Farra’ mendiktekan dan dicatat oleh sejumlah orang, tak nyana catatan itu kemudian diterbitkan dan dijual dengan harga yang sangat mahal. Sepeser pun hasil penjualan itu tak diberikan kepadanya. Meski ia mendesak agar catatan yang diterbitkan itu dijual murah, namun tak direspon oleh penerbit. Akhirnya, al-Farra’ mengumumkan kepada masyarakat luas bahwa ia akan mendiktekan kembali kepada masyarakat dengan syarat mereka membawa pulpen, tinta, dan kertas. Walhasil, masyarakat bisa mempelajari tafsir al-Farra’.

Tafsir ini sangat menonjolkan ilmu nahwu dan qiraat yang berhubungan dengan makna ayat. Dengan pendekatan nahwu dan qiraat, ia menyingkap keindahan ungkapan Al-Qur’an.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s