Abu Musa Al-Asy’ari

ABU Musa al-Asy’ari berasal dari Yaman. Ia tergolong kelompok orang yang masuk Islam pada masa awal. Diberitakan oleh sebuah riwayat bahwa ia turut hijrah ke Abisinia dan baru kembali pada masa penaklukan Khaibar. Setelah itu, ia diberi Nabi posisi penting sebagai gubernur suatu distrik. Pada 17 H, Khalifah Umar mengangkatnya sebagai gubernur di Basrah. Namun, jabatan ini dicopot oleh Khalifah Usman dan dimutasi ke Kufah dengan jabatan yang sama.

Ketika Khalifah Usman terbunuh, kota Kufah bergolak. Kisruh politik memecah persatuan umat Islam antara pendukung Ali bin Abi Thalib dan pendukung Usman. Karena Abu Musa termasuk pendukung Ali, akhirnya ia melarikan diri dari Kufah.

Abu Musa juga terlibat dalam Perang Shiffin pada 37 H antara Ali dan Mu’awiyah. Ketika itu ia bertindak sebagai arbitrator untuk Khalifah Ali. Namun sayang, mandat yang dipanggulkan di pundaknya itu gagal diperankan dengan maksimal. Ali terdepak dari kursi kekhalifahan sebagai akibat kekalahan diplomatik dengan Mu’awiyah.

Sejak peristiwa itu, karir politik Abu Musa terus meredup. Ibarat lampion yang kehabisan minyak, lambat namun pasti karir politik Abu Musa akan habis. Setelah itu, diberitakan, ia kembali ke Mekah. Tak berapa lama, ia memutuskan pergi lagi ke Kufah dan menghabiskan sisa umurnya di sana. Pada 42 H, suatu sumber lain menyebutkan 52 H, Abu Musa meninggal dunia di Kufah.

Mushaf Lubâb al-Qulûb

Dalam peta penafsiran Al-Qur’an, Abu Musa dapat dibilang orang yang piawai. Selain ketekunannya menyalin wahyu Nabi dan disebarluaskan kepada umat Islam, Abu Musa juga terkenal dengan suara bacaan Al-Qur’annya. Ia juga menyusun mushaf Al-Qur’an. Kemungkinan, Abu Musa memulai aktivitas penyusunan mushaf ini sejak pada masa Nabi hingga tahun-tahun sesudahnya. Ketika Abu Musa menjabat sebagai gubernur kota Basrah mulai diterima dan akhirnya dijadikan sebagai “teks resmi” penduduk kota tersebut. Mushaf Abu Musa biasa disebut dengan nama Lubâb al-Qulûb.

Abd al-A’la ibn Hakam al-Kilabi, seorang ulama yang dekat dengan Abu Musa, suatu ketika bertamu ke rumah Abu Musa. Tak berapa lama datang seorang utusan Khalifah Usman membawa mushaf standar usmani yang harus diikuti. Abu Musa kemudian berkata bahwa bagian apapun dalam mushafnya yang bersifat tambahan bagi mushaf usmani agar jangan dihilangkan, tetapi apabila ada sesuatu dalam mushaf usmani yang tidak terdapat dalam mushafnya agar ditambahkan.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s