Abu Hayyan Al-Andalusi

NAMA lengkapnya adalah Atsiruddin Abu Hayyan Muhammad ibn Yusuf ibn Ali ibn Yusuf  ibn Hayyan al-Andalusi al-Gharnathi. Dilahirkan pada akhir Syawal tahun 654 H di Mathkharisy dekat Granada. Ia dibesarkan di tengah lingkungan keluarga dan masyarakat yang hidup dalam kepatuhan tinggi terhadap doktrin agama Islam.

Di bawah pengawasan ayahnya, al-Andalusi mulai menghafal Al-Qur’an. Setelah itu, ia menashih hafalannya kepada sejumlah ulama semisal al-Khatib Abdulhaq ibn Ali, al-Khatib Abu Ja’far ibn ath-Thibai. Baru kemudian mendalami ilmu qiraat kepada al-Hafiz Abu Ali ibn Abu al-Ahwash di Maliqah.

Al-Andalusi juga gemar berkelana menuntut ilmu ke berbagai tempat. Misalnya, Andalus, Afrika, Iskandariyah, Mesir, dan Hijaz. Di berbagai tempat itu ia berguru kepada tak kurang dari 450 ulama. Di antaranya adalah Abu al-Hasan ibn Rabi’, ibn al-Ahwash, al-Quthb al-Asqalani, asy-Syarf ad-Dimyathi, dan sebagainya. Dari mereka beragam disiplin ilmu dicerap. Contohnya, tafsir, hadis, qiraat, bahasa Arab, sastra, dan sejarah.

Pengembaran al-Andalusi di samping karena tuntutan mencari ilmu juga didorong oleh suatu hal. Waktu itu raja berkata kepada al-Andalusi, “Sesungguhnya aku sudah tua dan hampir wafat. Maka, aku menyarankan kepadamu agar bersedia kuajari berbagai ilmu dengan syarat kau mesti menetap di sini.” Mendengar titah raja tersebut, al-Andalusi berujar, “Raja memberiku sesuatu yang baik, pakaian dan pesangon. Aku enggan menerima semua itu. Lalu aku musafir karena takut dipaksa menerimanya.”

Begitulah, al-Andalusi kemudian terus mengembara hingga ia wafat di Mesir pada tahun 745 H. Ia selalu dikenang sejarah karena karakternya yang menawan. Al-Adfawi, teman seperjalannya, mengisahkan hal ini, “Ia seorang yang adil, jujur, dan selamat akidahnya dari serangkaian bid’ah filsafat. Ia sangat khusyu’. Sering ia menangis ketika membaca Al-Qur’an. Perawakannya berbadan tinggi, tampan, berkulit putih kemerah-merahan, rambutnya panjang dan tertata rapi.”

Menulis Tafsir Di Usia 57 Tahun

Al-Andalusi menghasilkan banyak karya. Misalnya, Ittihad al-Arif bima fi Al-Qur’an min al-Gharib, at-Tadzyil wa at-Takmil fi Syarh at-Tashil, Mutawwal al-Irtisyaf, al-Bahr al-Muhith, dan an-Nahr al-Mad. Dua kitab terakhir, al-Bahr al-Muhith dan an-Nahr al-Mad, merupakan kitab tafsir yang diterbitkan dalam satu kitab.

Al-Andalusi mulai menulis tafsir al-Bahr al-Muhith tatkala usianya memasuki 57 tahun, tepatnya tahun 710 H. Kitab ini terdiri atas delapan jilid. Adapun metode penulisannya dimulai dengan membahas makna lafal ayat yang ditafsirkan kata demi kata, terutama dari aspek bahasa dan ilmu nahwu. Lalu ia mulai menafsirkan dengan menyebutkan asbabun nuzulnya jika ada, nasakhnya, persesuaian dan hubungan dengan ayat sebelumnya (munasabah), qiraatnya baik yang syadz maupun yang mutawatir, serta menyebutkan alasannya dengan bersandar pada pendapat ulama. Tak lupa pula ia menjelaskan aspek I’rab yang rumit dan sastra yang dalam, baik dari segi ilmu badi’ maupun ilmu bayan.

Terhadap ayat-ayat yang mengandung masalah hukum syariat (fikih), al-Andalusi mengacu pada pendapat imam mazhab empat, yaitu Syafii, Maliki, Hanbali, dan Hanafi. Untuk menguatkan pendapatnya, dalil-dalil yang terserak dalam kitab-kitab fikih juga dicantumkan.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s