Abdullah Bin Mas’ud

ABDULLAH bin Mas’ud adalah salah seorang sahabat Nabi yang mula-mula masuk Islam. Ia akrab dipanggil dengan Ibn Mas’ud—namun ada pula yang memanggilnya Ibn Umm Abd yang berarti putra dari budak wanita. Dari sisi strata sosial, tak yang istimewa dalam dirinya. Ia tidak berasal dari keluarga ningrat Mekkah. Alih-alih demikian, justru ia adalah seorang penggembala kambing milik salah satu ketua adat Bani Quraisy bernama Uqbah bin Muayt.

Setelah masuk Islam, Ibn Mas’ud selalu mengikuti Nabi. Bahkan dikabarkan ia menjadi pembantu khusus Nabi, termasuk dalam urusan rumah tangga. Ia senantiasa berada di bawah pengawasan Nabi. Karena itu, ia pun meniru semua kebiasaan dan mengikuti setiap apa yang dikerjakan Nabi. Tak heran kalau ia disebut sebagai orang yang paling mendekati Nabi dari sisi karakternya.

Ketika Nabi memerintahkan umat Islam hijrah ke Abisina, Ibn Mas’ud dipercaya sebagai koordinatornya. Ia pun bersama umat Islam generasi awal segera pergi ke Abisina sesuai perintah Nabi. Tak berapa lama di Abisina, Ibn Mas’ud lantas kembali lagi ke Mekkah mengikuti dakwah Nabi.

Sewaktu perintah hijrah ke Madinah datang, Ibn Mas’ud bersama sekelompok umat Islam segera melaksanakannya. Dikabarkan, Ibn Mas’ud membangun rumah di belakang Masjid Nabawi agar bisa selalu berdekatan dengan Nabi sekaligus membantu mendakwahkan Islam di Madinah. Selain aktif dengan kegiatan keagamaan, Ibn Mas’ud dengan gagah berani turut serta dalam sejumlah peperangan seperti Perang Badar di mana dialah yang memenggal kepada Abu Jahal, Perang Uhud, dan Perang Yarmuk.

Pada masa pemerintahan Khalifah Umar, Ibn Mas’ud dikirim ke Kufah sebagai di dan kepala perbendaharaan negara (bait al-mâl). Akan tetapi, Ibn Mas’ud tidak cakap dalam menjalankan pekerjaan sebagai abdi negara ini, sehingga pada pemerintahan Khalifah Usman ia diberhentikan dari jabatan tersebut. Ibn Mas’ud pun ditarik kembali ke Madinah dan wafat di kota ini pada 32 H atau 33 H dalam usia lebih dari 60 tahun.

Pengajar Pertama Bacaan Al-Qur’an

Meskipun kiprah Ibn Mas’ud dalam urusan pemerintahan kurang memuaskan, namun kepiawaiannya di bidang tafsir Al-Qur’an diakui oleh khalayak ramai. Bahkan ia merupakan salah satu tokoh yang memiliki otoritas terbesar dalam memahami Al-Qur’an. Kedekatan dengan Nabi (baca: asisten Nabi), telah membuka kesempatan selebar-lebarnya bagi Ibn Mas’ud untuk mencerap pengetahuan tentang Al-Qur’an langsung dari Nabi. Setidaknya, tercatat 70 surah Al-Qur’an yang dipelajari Ibn Mas’ud dari Nabi.

Faktor inilah yang menjadikan Ibn Mas’ud sebagai salah satu penghafal Al-Qur’an terbaik di antara para sahabat Nabi. Ia sangat memahami kandungan Al-Qur’an dibanding siapapun. Ia pernah berkata, ”Demi Allah yang tiada tuhan di samping-Nya, tak ada satu ayatpun dalam Alquran yang tidak saya ketahui. Demi Allah, jika ada orang yang pemahamannya tentang Alquran lebih baik dari saya, maka saya akan belajar dengan sungguh-sungguh padanya.”

Sejumlah keterangan menunjukkan bahwa Ibn Mas’ud tercatat sebagai orang yang pertama-tama mengajarkan bacaan Al-Qur’an. Tak kepalang tanggung, Ibn Mas’ud tanpa rasa gentar sedikitpun membaca bagian-bagian Al-Qur’an dengan suara lantang dan terbuka di hadapan masyarakat Quraisy Mekkah. Aksi ini mendapat reaksi keras dari masyarakat Quraisy. Ibn Mas’ud pun dihujani batu hingga berdarah-darah.

Kepiawaian Ibn Mas’ud dalam memahami Al-Qur’an telah memikat hati Nabi, sehingga ia akhirnya termasuk salah seorang dari empat sahabat yang direkomendasikan Nabi sebagai tempat bertanya tentang Al-Qur’an. Ibn Mas’ud kemudian menyusun sebuah mushaf Al-Qur’an yang kelak terkenal dengan Mushaf Ibn Mas’ud. Penting diingat, tempo itu Al-Qur’an belum resmi dibukukan.

Memang, tak keterangan yang menuturkan secara pasti kapan Ibn Mas’ud memulai pengumpulan mushafnya. Kelihatannya, ia mulai mengumpulkan wahyu-wahyu Al-Qur’an pada masa Nabi dan dilanjutkan sepeninggal Nabi. Puncak popularitas Ibn Mas’ud terjadi ketika ia ditugaskan ke Kufah untuk mengisi jabatan qâdî dan kepala perbendaharaan negara (bait al-mâl) sebagaimana disinggung di atas. Di Kufah ini, Ibn Mas’ud berhasil memapankan pengaruh mushafnya di kalangan penduduk kota tersebut.

Namun demikian, perlahan-lahan pengaruh Mushaf Ibn Mas’ud memudar ketika Khalifah Usman mengirim salinan resmi teks Al-Qur’an standar ke Kufah dengan perintah memusnahkan mushaf lainnya, termasuk Mushaf Ibn Mas’ud. Kendati perintah ini sempat ditolak, tetapi apa daya Mushaf Ibn Mas’ud tetap dimusnahkan.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s