Azan dan Revitalisasi Hijrah

AZAN sesungguhnya bukan semata-mata panggilan salat. Lebih dari itu, ada makna penting yang terkandung dalam azan. Dulu ketika pertama kali Rasulullah menetapkan azan dengan mengamini mimpi Abdullah bin Zaid bin Abdi Rabbih, tujuan pertama memang untuk mengingatkan umat Islam agar bersegera mengerjakan salat. Namun ini tak lantas berarti fungsi azan sebatas itu.

Azan dikukuhkan pada periode penyebaran Islam di Madinah. Tepatnya setelah Rasulullah memutuskan hijrah dari Mekah ke Yatsrib—sebelum berganti nama Madinah. Secara etimologis, hijrah berarti migrasi fisik dari satu tempat ke tempat lain. Sedangkan secara terminologis merupakan migrasi nilai dari ketertindasan menuju keadilan dan keadaban. Dalam konteks hijrahnya Rasulullah, kedua makna ini berlaku sekaligus. Rasulullah yang semula tinggal bersama para sahabat di Mekah memilih melakukan hijrah ke Yatsrib dalam rangka menyongsong kehidupan baru yang menjunjung tinggi moralitas dan kemaslahatan bersama.

Dalam rentang waktu yang tak terlalu lama, kurang lebih 2 tahun, Rasulullah berhasil bangkit dan melakukan perubahan drastis yang menggugah semua penduduk Yatsrib, baik kalangan muslim, paganis, maupun Yahudi. Karena itulah, Yatsrib kemudian berganti nama Madinah, yaitu kota yang menjunjung tinggi peradaban dan keadaban publik.

Iklim humanisme religius di Madinah ini terasa terutama setelah dicetuskan kesepahaman Piagam Madinah. Piagam tersebut merupakan capaian politik-keagamaan yang memuat kesepakatan menjunjung tinggi kesetaraan, keadilan, dan kedamaian bersama.

Dalam situasi demikian, azan pun dikukuhkan. Bila diresapi dari struktur pelafalannya, jelaslah tampak betapa azan mengandung seruan ukhrawi dan duniawi, interaksi vertikal dan horizontal sekaligus. Puncaknya adalah seruan hayya alal falah. Seruan ini merupakan klimaks azan. Ajakan meraih kemenangan, merengkuh kesuksesan, dan menggapai kebahagiaan tanpa sama sekali meninggalkan pondasi keagamaan. Seruan ini persis sebagaimana anjuran Rasulullah: Beribadahlah seakan-akan engkau akan mati esok dan bekerjalah seoalah-olah engkau hidup untuk selamanya. Di sini kesetimbangan (balance) dunia-akhirat betul-betul diperhatikan. Tidak meninggikan salah satu dan merendahkan yang lain. Tidak berarti mementingkan urusan ibadah dan mengabaikan urusan dunia. Begitu pun sebaliknya, tidak melulu bekerja tapi meninggalkan ibadah.

Prinsip kesetimbangan ini merupakan intisari azan. Tapi sayangnya, sebagian besar kita belum benar-benar menyadarinya. Masih ada anggapan bahwa azan sekadar panggilan salat, sementara makna azan itu sendiri kurang diresapi.

Bagi saya, dalam azan terkandung semangat hijrah. Tentu bukan hijrah secara fisik, tetapi hijrah nilai. Azan menyeru agar kita segera merevitalisasi semangat hijrah. Hijrah dari nilai-nilai nirhumanistis, seperti kebodohan, kemalasan, ketertindasan, dan sebagainya, menuju humanisme egalitarian, yaitu kemaslahatan bersama yang dicirikan dengan kesuksesan dan kebahagiaan.

Dan, buku Rahasia Dahsyatnya Azan: Hayya Alal Falah Come to Success ini bisa menjadi semacam peta perjalanan untuk mengeja kembali makna azan yang sering diabaikan. Di tangan penulis, makna azan yang terkesan rumit menjadi sangat bersahaja dan mudah dimengerti sebab bahasanya gampang dipahami.

Selamat membaca!

*) Dinukil dari Pengantar Ahmad Syafii Maarif.

Judul: Rahasia Dahsyatnya Azan: Hayya Alal Falah Come to Success
Penulis: Arham Armuza
Penerbit: Kaukaba Yogyakarta
Cetakan: I Maret 2010
Tebal: 276 halaman
Harga: Rp. 43.000,- (belum diskon)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s