Jalaluddin Rahmat

DALAM blantika mufasir Al-Qur’an di Indonesia, nama Jalaluddin Rahmat cukup dikenal. Ia lahir di Bandung, tepatnya di Bojongsalam, Rancaekek, pada 29 Agustus 1949. Sejak kecil ia hanya menikmati kasih seorang ibu. Ayahnya, H. Rahmat, sudah lama hijrah ke Pulau Sumatera mengemban misi perjuangan.

Meski tanpa belaian kasih seorang ayah, Jalal tumbuh sebagai individu yang cerdas. Oleh sang ibu, ia dititipkan kepada Ajengan Shidik, seorang kyai kampung yang tumbuh dalam lingkungan Nahdlatul Ulama, untuk belajar gramatika bahasa (nahw dan sharaf). Bahkan di bawah asuhan Ajengan Shidik, Jalal berhasil menghafal ribuan bait Alfiyah Ibn Mâlik.

Sejak kecil Jalal punya hobi membaca buku. Ia termasuk penggemar berat cerita silat Kho Ping Ho. Pada usia SMA ia telah membaca Ihyâ’ Ulûm ad-Dîn karya monumental al-Gazali, Zarathustra karya Nietzsche, serta buku-buku karya Hojack dan Edgar Allan Poe. Menjelang lulus SMA, Jalal yang dididik dalam tradisi NU, mulai aktif mengikuti kegiatan yang diadakan Persis di Bandung.

Jalal pun lantas berkenalan dengan pemikiran modernis seperti Hasbi ash-Shiddieqy, A. Hassan, dan Munawwar Kholil. Ia juga merasa berguru kepada Ustad Abdurrahman, seorang tokoh Persis terkemuka, melalui tulisan-tulisannya di majalah Risalah.

Setelah sempat aktif beberapa waktu di Persis, Jalal ikut training kader Muhammadiyah. Bahkan konon ia sempat menjadi kader Muhammadiyah yang fanatik. Buktinya, hanya berbekal Himpunan Keputusan Majlis Tarjih Muhammadiyah saat itu, ia begitu bersemangat berdakwah di kampungnya untuk memperjuangkan doktrin Muhammadiyah.

Malahan Jalal pernah merasa sangat bahagia tatkala masjid jami’ di kampungnya menurunkan beduk dan menghilangkan azan awal pada waktu salat Jumat. Tak ayal, fanatisme terhadap Muhammadiyah ini, membawa Jalal pada ketegangan dengan masyarakat kampungnya yang mayoritas NU, juga dengan keluarganya sendiri.

Setamat SMA, Jalal kuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran Bandung. Pada 1980 Jalal mendapat beasiswa fullbright untuk melanjutkan studi ke Amerika Serikat. Di negeri Paman Sam itu ia mengambil spesialisasi bidang komunikasi di Iowa State University. Tahun 1982, ia berhasil mempertahankan tesis dan memboyong gelar Master of Science.

Lintas Keilmuan

Jalal merupakan sosok ilmuwan yang sangat produktif. Meski latar belakang keilmuan yang menonjol adalah di bidang komunikasi, namun ia mampu menulis dari berbagai perspektif keilmuan. Puluhan buku telah ia hasilkan—belum lagi tulisan-tulisan yang tersebar di sejumlah media massa. Sejak tahun 1982, buku-bukunya mulai menyapa masyarakat Indonesia.

Dalam bidang tafsir Al-Qur’an, Jalal menulis Tafsir Bil Ma’tsur, Pesan Moral Al-Qur’an dan Tafsir Sufi Surat al-Fatihah. Keduanya diterbitkan oleh Penerbit Rosdakarya, Bandung. Tafsir yang pertama terbit pada tahun 1992, sedangkan tafsir yang kedua terbit tujuh tahun kemudian, 1997.

Tafsir Bil Ma’tsur disusun berdasar atas tulisan-tulisannya yang pernah dimuat di harian Republika pada tahun 1992. Ketika itu, harian Republika meminta Jalal untuk menulis senarai kolom dengan judul Marhaban Ya Ramadan sepanjang Ramadan 1413 H. Saat datang permintaan itu, Jalal teringat gambar seorang gadis belia di kartu pos. Gadis itu berumur sekitar sepuluh tahun, berjilbab, tersenyum manis sambil memeluk Al-Qur’an. Akhirnya, ia memutuskan menulis rangkaian kisah yang bertalian dengan ayat-ayat Al-Qur’an.

Sedangkan Tafsir Sufi al-Fâtihah berisikan nuansa-nuansa sufistik yang dikandung Surah al-Fatihah. Jalal mengakui bahwa ia menulis tafsir ini dengan penuh ketakutan. Pasalnya, kata sufi ketika itu diidentikkan dengan kesesatan. Ketika memulai menulis tafsir ini, rasa gamang menyergap pikiran Jalal. Ia teringat kisah Abu Abdurrahman as-Sulami, seorang sufi yang menulis tafsir Al-Qur’an berjudul Haqâ’iq at-Tafsîr telah dikafirkan oleh ulama di zamannya.

Saat menulis tafsir ini, Jalal kedatangan tamu, Syekh Muhammad Taqi Baqir, sekretaris umum majalah al-Muslimûn al-Hurr. Ia pun menceritakan betapa dirinya tengah menulis tafsir sufi. Tamu itu menarik nafas panjang kemudian berujar, “Ya akhi, Anda sedang melakukan tugas berat dan berbahaya. Bahaya pertama datang dari Anda. Kalau perjalanan Anda tanggung, tidak selesai, Anda sendiri menjadi sopir yang menarik banyak orang ke dalam jurang. Bahaya kedua datang dari murid-murid Anda atau pembaca. Mereka tidak mengerti apa yang Anda sampaikan, lalu berusaha membentuk pengertian sendiri, atau mereka memahaminya dengan keliru. Kekeliruan pemahaman awam ini akan dinisbahkan kepada Anda.”

Begitulah, Jalal akhirnya memegang teguh nasihat Syekh Muhammad Taqi Baqir. Dengan sangat hati-hati lahirlah Tafsir Sufi al-Fâtihah ini dan terbit pada tahun 1999.

Secara keseluruhan, pemikiran Jalal, baik yang disampaikan melalui media lisan maupun tulisan, memang menyengat dan tak jarang mengundang kontroversi. Ia berdiri di garda depan membela kaum lemah (mustad’afîn) yang dalam banyak hal kurang disukai oleh kaum tua. Apalagi ia juga memperkenalkan gagasan mazhab Syi’ah seperti pemikiran Ali Syariati, ath-Thabathaba’i, Mulla Sadra, dan Muthahhari. Maka wajar bila ia dituduh penyebar ideologi Syi’ah.

Terlepas dari tuduhan itu, pada 3 Oktober 1988, Jalal bersama empat kawannya—Ahmad Tafsir, Achmad Muhajir, Agus Effendi, dan Haidar Bagir—mendirikan Yayasan Muthahhari. Ia memang menjelma sebagai sosok unik: lahir dalam tradisi NU, besar di lingkungan Muhammadiyah dan Persis, dan kini berkonsentrasi pada pemikiran Syi’ah. []

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s