Didin Hafidhuddin

DIDIN Hafiduddin lahir di Bogor, 21 Oktober 1951. Dalam dirinya mengalir darah biru pesantren, sebab masih keturunan keluarga besar Pesantren Gunung Puyuh dan Cantayan. Jenjang pendidikan diawali dari Sekolah Dasar Islam (lulus 1963), melanjutkan ke SMP (lulus 1966), dan SMA (lulus 1969).

Setelah itu Didin kuliah di Fakultas Syariah IAIN Syarief Hidayatullah, selesai pada 1979. Kemudian melanjutkan ke Program Pascasarjana IPB mengambil Jurusan Penyuluhan Pembangunan. Jenjang S2 ini ditempuh hanya dalam waktu setahun, 1986-1987. Untuk memperdalam bahasa Arab, pada 1994 ia kuliah di Universitas Islam Madinah Saudi Arabia selama setahun.

Wawasan keagamaan Didin sangat dipengaruhi oleh perjalanan menuntut ilmu dari pesantren ke pesantren. Ia pernah menimba ilmu di Pesantren ad-Dakwah Cibadak, Pesantren Miftahul Huda Cibatu Cisaat, Pesantren Bobojong, dan Pesantren Cijambe Cigunung Sukabumi.

Setelah menamatkan pendidikan S1, pada 1980 Didin dipercaya sebagai staf pengajar Pendidikan Agama Islam di IPB. Selain itu juga mengampu matakuliah Tafsir Al-Qur’an di Fakultas Agama Islam Universitas Ibnu Khaldun (UIK) Bogor. Di universitas ini, Didin sempat menjabat sebagai Dekan Fakultas Syariah periode 1983-1986, rektor periode 1987-1991, lalu Dekan Fakultas Agama Islam universitas yang sama. Jabatan lain yang disandangnya adalah Sekretaris Majelis Pimpinan BKSPPI dan Anggota Pimpinan Pusat Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDI).

Didin memiliki kepedulian yang sangat tinggi terhadap dunia mahasiswa. Hal ini mengantarnya menjadi pemimpin Pesantren Ulil Albab, yakni lembaga pendidikan di bidang ilmu-ilmu keislaman bagi mahasiswa umum. Pesantren ini terbentuk oleh gagasan Muhammad Natsir dan AM Saefuddin.

Selain memimpin pesantren, Didin kerap menggelar pengajian rutin di berbagai majelis taklim. Misalnya, pengajian bulanan yang diselenggarakan Badan Kerjasama Pondok Pesantren Indonesia (BKSPPI). Di sini ia membacakan kitab Tafsîr Jalâlain dan Sahîh Bukhari. Juga pada pengajian Mu’allimin Bogor. Ia membacakan kitab Tafsîr Jalâlain, Mukhtâr al-Ahâdîŝ, dan Kifâyah al-Akhyâr.

Meski Didin disibukkan dengan beragam aktivitas jabatan yang disandangnya, namun ia juga produktif menulis dan menerjemah. Beberapa kitab yang telah ia terjemahkan seperti Fiqh az-Zakât dan Daur al-Qiyâmi wa al-Akhlâq al-Iqtisâdi al-Islâmi karya Yusuf al-Qardhawi, Minhâj al-Muslim karya Muhammad Abu Bakar al-Jaziri, Isrâiliyyat fî at-Tafsîr wa al-Hadîŝ karya Muhammad Husein az-Zahabi. Sedangkan buku-buku yang ditulis antara lain Dakwah Aktual (1998), Panduan Praktis Zakat, Infaq, dan Shadaqah (1998), Zakat dalam Perekonomian Modern (2002), Membentuk Pribadi Qur’ani (2002), Solusi Islam atas Problematika Umat (karya bersama AM Saefuddin, 2001), Islam Aplikatif (2003), dan Tafsir al-Hijri (2000).

Berawal dari Pengajian

Tafsir al-Hijri adalah karya monumental Didin yang menjadikannya salah seorang mufasir Indonesia. Tafsir ini merupakan hasil pengajian Didin yang dilaksanakan secara berkala di Masjid Kampus UIK. Pada 1993, Ahad pagi mulai pukul 05.30-06.30 pengajian Didin dimulai. Syahdan, sambutan masyarakat luar biasa. Pengajian itu dihadiri tak kurang dari 800 jamaah.

Sejak awal Didin sebenarnya tidak bermaksud membukukan pengajian itu. Niatnya tak lebih sekadar mengaji. Apalagi hasil pengajian di masa-masa awal tidak terekam dengan baik, terutama kajian tafsir Surah al-Fâtihah, al-Baqarah, dan Âli Imrân. Hal ini terbukti karena Tafsir al-Hijri dimulai dengan kajian tafsir Surah an-Nisâ.

Atas prakarsa M. Lukman M. Baga, kajian tafsir mulai Surah an-Nisâ’ lantas direkam. Hasil rekaman itu kemudian ditulis ulang oleh Dedi Nugraha, santri Pesantren Ulil Albab. Adapun nama “al-Hijri” diambil dari nama Masjid Kampus Universitas Ibnu Khaldun—persis seperti HAMKA yang menamai tafsirnya, Tafsir al-Azhâr, diambil dari nama Masjid al-Azhar Jakarta di mana pengajian yang dipimpinnya dilangsungkan.

Dalam Tafsir al-Hijri pertama kali dimunculkan tema-tema tertentu dalam beberapa ayat. Tema-tema tersebut terkadang dikupas dengan panjang lebar, terkadang juga pembahasannya sedikit. Pembahasan ini disandarkan pada keterangan ulama dan kreatifitas pemikiran Didin sendiri. Dengan cara demikian, jelas terlihat metode tematik dipakai dalam Tafsir al-Hijri. Gaya penulisan Tafsir al-Hijri menggunakan bahasa populer, sehingga enak dibaca dan mudah dipahami. []

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s