Menulis Buku dengan Cinta

SELUBUNG asap terasa menyesakkan dada ketika pertengahan Februari lalu sekerumunan massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Kiai (AMPK) dengan amarah yang meradang membakar buku Kiai Di Tengah Pusaran Politik: Antara Kuasa dan Petaka karya Ibnu Hajar di Alun-alun Sumenep. Saya yang mengunjungi serambi kota itu beberapa waktu lalu masih merasakan geram yang mencekam.

Tragedi pembakaran itu disulut oleh kontroversi substansi buku Ibn Hajar yang dinilai mendiskreditkan eksistensi kiai hanya gara-gara terjerumus ke dalam kubangan politik. Tapi setelah menelaah sendiri, sebenarnya buku itu tak terlalu frontal. Jika ditimbang dengan saksama, buku itu tak lebih kritis dari buku Runtuhnya Singgasana Kiai karya Zainal Arifin Thoha atau Menabur Kharisma Menuai Kuasa, Kiprah Kiai dan Blater sebagai Rezim Kembar di Madura karya Muhammad Rozaki. Tapi yang jelas, kejadian ini tentu kian memperpanjang gejolak sosial yang disuluh selonjor buku.

Belum lekang dari ingatan ketika Ilung S. Enha, seorang sastrawan gaek Surabaya, dihujani caci maki dalam acara bedah bukunya, Sangkar Besi Agama, di gedung PCNU Sumenep pada 2005 silam. Pangkal mulanya sederhana, dalam sebagian ulasan buku itu ia menguarkan wejangan moral-spiritual terhadap peran kiai yang mulai terjun ke kancah politik praktis. Namun dengan rendah hati ia berujar, “Saya menulis buku dengan cinta, mengapa Anda menanggapi dengan benci? Saya adalah anak kiai. Maka mustahil saya menjelek-jelekkan ayah saya sendiri.”

Hal serupa juga pernah dialami Muhidin M. Dahlan pada tahun 2005. Novelnya, Adam Hawa, disomasi Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) dengan tuntutan ditarik dari peredaran. MMI melarang novel itu karena dianggap melecehkan akidah umat Islam.

Pada kesempatan lain, saat berlangsung bedah buku Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur! Memoar Luka Seorang Muslimah, di kampus UIN Malang pada Mei 2004, Muhidin didamprat dan dihujat habis-habisan. Bahkan seorang ustad menghakimi Muhidin telah murtad.

Sejujurnya, saya tak hendak membela mereka. Namun setangkup peristiwa itu perlu ditelisik dengan jeli. Bahwa penulis tetap bertanggung jawab terhadap buku yang ditulisnya merupakan tuntutan mutlak dalam masyarakat kita. Dalam konteks ini teori The Death of Author yang dikukus Roland Barthes tak sepenuhya matang.

Dalam masyarakat kita yang masih didominasi tradisi oral, penulis lebih penting ketimbang buku yang ditulisnya. Tokoh masih saja menjadi sentra perdebatan dalam setiap teks yang diproduksinya. Maka, tak perlu heran bila dalam setiap acara bedah buku, kehadiran penulis selalu menjadi sasaran empuk kritik hingga hujatan dan makian atas pemikirannya yang membiak dan dianggap melawan arus pemikiran dominan.

Jika kritik itu mengarah pada dialektika dan dinamika intelektual yang konstruktif, tentu tak jadi masalah—dan memang ini yang diharapkan. Sebab, ini menunjukkan kearifan dan kejernihan berpikir yang sehat. Namun bila berbuntut anarkisme sosial, jelas dari perspektif apapun tidak bisa dibenarkan.

Soal buku diterima atau tidak, semestinya diserahkan kepada publik pembaca. Meminjam teori Darwinian, biarlah buku itu menjulur dalam jaring-jaring struggle for life dan survive of the fittes. Intinya, seleksi alamiahlah yang menentukan hidup-mati sebuah buku. Tak ada yang berhak mengantongi kriteria benar atau salah terhadap sebuah buku. Pada titik ini melarang suatu karya untuk mengunjungi alam pikiran pembaca, apalagi sampai memberangusnya, sama halnya mempertontonkan kepongahan yang berlebihan.

Seandainya disikapi secara arif dan dewasa, masih banyak cara manusiawi yang bisa ditempuh untuk menimbang buku. Misalnya, memfasilitasi penulis buku yang dianggap ‘bermasalah’ untuk mengemukakan argumentasinya dalam sebuah forum. Di situ, pendapat dan gagasan saling dijual-belikan dengan segenap daya pikir untuk mencari titik temu yang saling menguntungkan, sehingga terbukalah kran dialektika yang harmoni dan menjumbuhkan wacana-wacana baru yang simpatik.

Kalaupun dalam forum tersebut belum juga ketemu jalan keluarnya, alternatif lain adalah membuat buku tanggapan. Tradisi demikian sebetulnya telah berkembang sejak zaman keemasan Islam. Sekadar contoh, al-Ghazali menulis buku Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Filsafat) yang kemudian ditanggapi oleh Ibn Rusyd dengan buku Tahafut at-Tahafut (Rancunya Kitab Kerancuan); Imam Samudra menulis buku Aku Melawan Teroris dengan begitu garang, tapi tak lama lantas muncul buku tanggapan Mereka adalah Teroris karya Luqman bin Muhammad Ba’abduh; Harun Nasution menulis buku Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya dan ditanggapi H.M. Rasjidi dengan sangat kritis dalam buku Koreksi terhadap Dr. Harun Nasution tentang `Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya`.

Begitulah, dengan budaya menanggapi buku sesungguhnya merupakan cerminan kebajikan dalam menyikapi sebuah persoalan. Seturut konsepsi tesis-antitesis-sintesis, budaya tersebut akan menumbuhkan iklim intelektual yang humanis. Sebaliknya, jika penolakan terhadap sebuah buku disertai aksi anarkisme, bukan tak mungkin akan menjadi momok yang menakutkan. Inspirasi dan imajinasi tak lagi bebas berkeredap. Sudah tentu, dengan begitu buku yang digadang-gadang sanggup membungakan hal-hal baru akan layu. Dan, dunia perbukuan menjadi miskin inovasi dan improvisasi. Sayang sekali, bukan?

Saya tak berani membayangkan bila peristiwa tragis sebagaimana yang dialami para penulis radikal seperti Mohammad Shahrur, Abid al-Jabiri, Fazlur Rahman, Faroug Fouda, dan Fetima Mernisi juga terjadi di negara kita. Mereka menulis buku yang kritis-dekonstruktif terhadap status quo pemahaman keberagamaan warisan ilmuwan Islam klasik. Selain dihujani makian, sebagian mereka ditakfirkan, dipaksa bercerai, diusir dari negaranya, bahkan dibunuh sebagaimana yang terjadi pada Faroug Fouda.

Tentu, saya yakin, masyarakat kita tidaklah sampai setega itu. Sebab, sejatinya mereka menulis buku dengan cinta, bukan benci. []

*) Saiful Amin Ghofur, Kerani Taman Bacaan Matahati Krapyak Yogyakarta.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s