Buku Biografi Kiai Pesantren

KH. MUSTOFA Bisri suatu ketika saat orasi pernah menguarkan kegelisahan: kenapa budaya tulis, khususnya menulis sejarah kehidupan tokohnya sendiri, tidak berkembang di kalangan pesantren, padahal semua menyadari betapa pentingnya hal ini. Gerundelan kiai-budayawan Rembang yang akrab disapa Gus Mus itu tentu bukan isapan jempol semata. Apalagi gurauan. Meski diujarkan dengan tergelak, namun serasa sindiran getir nan satir itu mengena dengan telak.

Kegelisahan Gus Mus itu saya alami sendiri ketika menghimpun data terserak tentang KH. Arief Hasan, pendiri Pesantren Roudlotun Nasyi’in Beratkulon Mojokerto. Padahal Kiai Arief belum terlalu lama wafat, tahun 1988. Tapi kisah kehidupannya berpendar secara lisan di antara karib-kerabat yang terpencar-pencar. Sayangnya, kebanyakan mereka telah menyusul Kiai Arief mangkat. Untuk mengurai keriangan masa kanak-kanak Kiai Arief saja, tinggal seorang teman sepermainan. Itu pun sudah sangat uzur. Bincang pelan ia tak mendengar, bicara keras disangka membentak. Aduh! Tapi untunglah, setelah berbulan-bulan gerilya data, buku Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan berhasil dikhatamkan.

Peristiwa serupa terulang lagi ketika kini Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Mojokerto hendak membukukan sosok kiai-pejuang Mojokerto. Sampai saat ini data yang terhimpun belum separuhnya dari target yang ditentukan. Padahal, buku tersebut akan di-launching Habib Lutfi bin Yahya, Said Aqil Siraj, dan Gus Mus akhir bulan ini (Desember 2009–red.) bersamaan dengan sarasehan menghikmati haul Syekh Jumadil Kubro di Trowulan.

Bila diurai, penyebab berlarut-larutnya penulisan buku biografi kiai pesantren tersebut akibat beberapa faktor. Misalnya, minim data tertulis, kisah beredar secara lisan yang terpendar, banyak saksi kunci yang mati, tanggapan keluarga kiai yang nonkoperatif, serta lemahnya budaya tulis pesantren.

Harus diakui bahwa akar persoalan dari kerumitan pembukuan biografi kiai pesantren adalah lemahnya budaya tulis pesantren. Ini sekaligus mengamini sepenggal kegelisahan Gus Mus di atas. Sebagian besar pesantren masih menitikberatkan tradisi oral-aural, budaya bicara-dengar, dalam proses pembelajarannya. Budaya tulis masih belum mendapat tempat yang layak dalam iklim pendidikan pesantren.

Tentu saja, dengan tidak bermaksud menggeneralisasi seluruh pesantren, tapi mengingat jumlah pesantren yang begitu membiak, jelas pesantren yang memberi ruang bagi kreatifitas tulis-menulis masih amat sedikit. Di Jawa Timur saja, menurut Data Statisitik Direktorat Pendidikan Keagamaan Dan Pondok Pesantren Departemen Agama, pada tahun 2007 tercatat 4.404 pesantren, Jawa Tengah 2.187 pesantren, Jawa Barat 3.561 pesantren, Jakarta 87 pesantren. Dalam skala nasional, berdasarkan kategori pesantren, jenis pesantren salaf (tradisional) di Indonesia sebanyak 8.905 pesantren, pesantren khalaf (modern) sebanyak 878 pesantren, dan pesantren terpadu sebanyak 4.284 pesantren. Total keseluruhan tak kurang dari 14.000 pesantren di Indonesia.

Sekarang persoalannya, dari belasan ribu pesantren tersebut berapa banyak buku biografi kiai pesantren yang telah diterbitkan. Buku-buku biografi kiai pesantren yang sudah meruyak pasar perbukuan jumlahnya masih dalam hitungan jari. Lagipula, para kiai pesantren yang jejak keteladanannya direkam dalam buku baru sebatas kiai yang kharisma dan ketokohannya diakui secara nasional. Sebut saja, Kiai Hasyim Asy’ari Jombang, Kiai Abdullah Hamid Pasuruan, Gus Mik Kediri, Kiai Arwani Kudus, Kiai Munawwir Krapyak, dan sebagainya. Sementara kiai pesantren yang ketokohannya masih taraf lokal-regional ibarat gugusan pasir yang menghampar di pantai, jumlahnya susah ditaksir dengan lentik jemari.

Karut-marut proses pembukuan kiai pesantren Mojokerto oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan setempat seharusnya menjadi pelajaran berharga sekaligus otokritik bagi pesantren secara keseluruhan. Insan pesantren mesti berani mendobrak, meminjam istilah Paulo Freire, budaya bisu (silent culture) yang sekian lama menggelayuti urat nadi kehidupan pesantren. Budaya bisu inilah yang menihilkan kreatifitas, sehingga pesantren acap terbuai sekaligus terbelenggu oleh bayang-bayang mitos kebesaran dan kejayaan masa lalu.

Adalah KH. Zainal Arifin Thoha yang semasa hidupnya terobsesi untuk mengangkat kembali kreatifitas kepenulisan di pesantren dengan mendirikan Pesantren Hasyim Asy’ari di Yogyakarta bersama “Si Celurit Emas” D. Zawawi Imron. Pesantren ini lebih difungsikan untuk mengasah nalar kreatif santri dalam hal tulis-menulis. Sebab Gus Zainal sendiri adalah seorang penulis, maka menulis di pesantren itu menjadi sebuah keniscayaan.

Obsesi Gus Zainal diejawantahkan pula dalam kampanye kepenulisan ke pelbagai pesantren. Ketika menyertainya road show ke berbagai pesantren yang tersebar di sejumlah kota di Jawa Timur bersama Ahmad Munif, Evi Idawati, dan Ahmad Tohari saya tahu persis betapa menggeloranya Gus Zainal membakar semangat para santri untuk menekuni lagi tradisi menulis yang mulai dikremasi. Dengan kesadaran penuh, Gus Zainal merekam seluruh proses kreatif kepenulisannya dalam buku Aku Menulis Maka Aku Ada. Keteladanan, semangat, dan kearifan menekuni tulisan hingga kini masih terjaga meski Gus Zainal telah menanggalkan kesementaraan dunia pada 14 Maret 2007 silam.

Apa yang telah diperbuat Gus Zainal semestinya bisa menjadi cermin dan digandakan di pesantren lain. Setidaknya, pesantren mau membuka diri dan memberi ruang materi tulis-menulis dalam kurikulum pendidikannya. Pelan-pelan tradisi menulis di pesantren akan menguat. Hatta, problem penulisan buku biografi kiai pesantren bisa diurai sejak dini.

Memang, butuh waktu relatif lama untuk menuntaskan agenda penulisan buku biografi kiai pesantren. Apalagi kiai pesantren lokal-regional yang tergerus dan berada di tubir sejarah popularitas, perlu keterlibatan banyak pihak termasuk instansi pemerintah. Kebijakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Mojokerto untuk membukukan kiai pejuang di wilayah tersebut pantas diapresiasi dan, semestinya, menimbulkan reaksi serupa pemerintah daerah lain. Sebab, mereka adalah aset kultural yang tak ternilai jasa dan pengabdian sepanjang hidupnya untuk mengayomi umat.

Bahwa mengenang para kiai yang telah wafat tak cukup sekadar menggelar haul secara rutin saban tahun.  Mengabadikan keteladanan mereka menjadi buku justru merupakan bentuk khidmat yang membawa manfaat nyata. Selama keteladanan itu masih terekam dalam ingatan yang cuma sepercik, kelak akan pudar dan aus oleh gerusan waktu. Hingga yang tersisa adalah batu nisan yang terus disambangi tanpa makna yang berarti.

Sebelum benar-benar terlambat, mari memulai mengabadikan keteladanan para kiai pesantren menjadi buku dengan segenap perasaan cinta dan rindu. []

*) Saiful Amin Ghofur, Redaktur Jurnal Millah, MSI UII Yogyakarta.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s