Mahmud Yunus

MAHMUD Yunus dilahirkan di Sungayang, Batusangkar, Sumatera Barat pada hari Sabtu, 30 Ramadan 1316 H atau 10 Februari 1899. Ia tumbuh dalam keluarga terpandang dan taat beragama. Ayahnya, Yunus bin Incek, adalah seorang pengajar surau. Sementara ibunya, Hafsah binti Imam Samiun adalah anak Engku Gadang M Tahir bin Ali, pendiri serta pengasuh surau di wilayah itu.

Yunus sejak dini telah dididik dalam lingkungan agamis. Menginjak usia tujuh tahun (1906), ia mulai belajar Al-Qur’an dan praktik ibadah lain kepada kakeknya sendiri. Ia sempat masuk Sekolah Rakyat, hanya betah sampai kelas tiga. Tahun 1908 ia memutuskan keluar dengan alasan pelajaran terlalu sering diulangi. Lalu ia masuk madrasah di Surau Tanjung Pauh yang dibina HM Thaib Umar—seorang tokoh pembaru Islam di Minangkabau.

Melalui Thaib Umar, Yunus digembleng pelbagai disiplin ilmu. Karya-karya Thaib Umar dipelajarinya dengan serius hingga ia mampu mencerap semangat pembaruan yang digaungkan Thaib Umar. Maka tak heran bila dalam waktu empat, ia telah mumpuni mengajarkan kitab Mahalli, Alfiyah, dan Jam’ul Jawâmi’. Bahkan ketika Thaib Umar sakit dan berhenti mengajar, Yunus tampil untuk menggantikannya.

Kedekatan Yunus secara pribadi dengan Thaib Umar membawanya ke forum rapat akbar ulama Minangkabau pada 1919 di Padang Panjang. Ia datang sebagai wakil Thaib Umar. Setelah itu, ia membentuk perkumpulan pelajar Islam di Sungayang bernama Sumatera Thawalib pada 1920. Kegiatan perkumpulan ini beragam, di antaranya menerbitkan majalah al-Basyîr di mana Yunus didaulat sebagai pemimpin redaksinya.

Pada tahun 1924, Yunus mendapat kesempatan belajar di Universitas al-Azhar Kairo. Di sana ia mempelajari ilmu ushul fiqh, ilmu tafsir, fikih Hanafi dan sebagainya. Karena kecerdasannya, hanya dalam tempo setahun, ia berhasil mendapatkan syahâdah alimiyah dari al-Azhar dan menjadi orang Indonesia kedua yang memperoleh predikat itu.

Namun itu belum cukup sebab Yunus merasa pengetahuan umumnya belum meningkat pesat. Ia pun melanjutkan studi ke madrasah Dar al-Ulum yang memang mengajarkan pengetahuan umum. Ia masuk di kelas bagian malam (qiyâm al-lail). Di Dar al-Ulum semua mahasiswa berasal dari Mesir, kecuali dirinya. Karena itulah, ia tercatat sebagai orang Indonesia pertama yang masuk Dar al-Ulum. Kuliahnya dirampungkan pada tahun 1929 kemudian kembali ke Sungayang Batusangkar.

Meniupkan Pembaruan

Sekembalinya dari Mesir, Yunus mendirikan dua lembaga pendidikan Islam pada tahun 1931, yaitu al-Jami’ah Islamiyah di Sungayang dan Normal Islam di Padang. Namun sayang, karena kekurangan tenaga pengajar, al-Jami’ah Islamiyah gulung tikar pada tahun 1933. Sementara Normal Islam hanya menerima tamatan madrasah 7 tahun dan dimaksudkan untuk mendidik calon guru. Ilmu yang diajarkan berupa ilmu agama, bahasa Arab, pengetahuan umum, ilmu mengajar, ilmu jiwa dan ilmu kesehatan.

Pada bidang pengajaran bahasa Arab, pembaruan Yunus tak hanya menekankan penguasaan bahasa Arab, namun juga menunjukkan bagaimana secara didaktis-metodis modern para siswa menguasai bahasa tersebut dengan cepat dan mudah. Ia memimpin Normal Islam selama 11 tahun, mulai 1931-1938 dan 1942 dan 1946. Pada tahun 30-an, dia juga aktif di organisasi Islam antara lain menjadi salah satu anggota Minangkabau Raad. Lantas tahun 1943 dipilih menjadi Penasehat Residen mewakili Majelis Islam Tinggi. Demikian pula di kementerian agama yakni dengan menjabat selaku Kepala Penghubung Pendidikan Agama.

Awal tahun 1970 kesehatan Mahmud Yunus menurun dan bolak balik masuk rumah sakit. Tahun 1982, dia memperoleh gelar doctor honoris causa di bidang ilmu tarbiyah dari IAIN Jakarta atas karya-karyanya dan jasanya dalam pengembangan pendidikan Islam di Indonesia. Pada tahun 1982, Mahmud Yunus meninggal dunia.

Sepanjang hidupnya, Yunus menulis tak kurang dari 43 buku yang ditulis bukan hanya dalam bahasa Indonesia, tetapi juga bahasa Arab. Dari sekian karya tulisnya, yang terpenting adalah Tafsir Al-Qur’an al-Karim yang penulisannya diselesaikan pada tahun 1938. Tafsir ini sudah mengalami cetak ulang berkali-kali.

Tafsir Al-Qur’an al-Karim ditulis dengan menggunakan metode global. Ia memberi ruang yang cukup lebar untuk menggali latar belakang ayat (asbâbun nuzûl), memberi penjelasan singkat, namun runtut sesuai bentuk penyajian Al-Qur’an. Oleh sebab itu, tafsir Al-Qur’an amat dimudah dipahami.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s