M. Dawam Raharjo

M. DAWAM Raharjo lahir di Solo, 20 April 1942. Ia tumbuh di lingkungan keluarga yang sederhana. Pendidikannya diawali di sekolah umum, Sekolah Dasar. Namun ia juga mendalami ilmu-ilmu agama di madrasah diniyah. Di madrasah diniyah ini ia belajar ilmu nahw, saraf, balagah, tajwid, dan juga tafsir. Ilmu bahasa Arab juga dipelajari, namun ia mengaku lebih banyak belajar secara otodidak dari buku-buku bahasa Arab yang ia beli di toko buku.

Setelah menamatkan pendidikan di sekolah menengah atas, ia kuliah di universitas tersohor di kota Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada di Fakultas Ekonomi. Ia pernah menjadi ketua redaksi majalah kampus Gelora sebelum menamatkan kuliah pada tahun 1969.

Karir akademik Dawam terus meroket. Sejak tahun 1993 ia diangkat menjadi Guru Besar Ekonomi Pembangunan di Universitas Muhammadiyah Malang, dan menjadi Rektor Universitas 45 Bekasi. Di samping itu, ia juga tercatat sebagai salah satu ketua ICMI se-Indonesia, ketua yayasan Lembaga Studi Agama dan Filsafat (ELSAF), dan pemimpin Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur’an.

Dawam termasuk ilmuwan yang produktif. Sejumlah buku telah ia tulis. Misalnya, Esai-Esai Ekonomi dan Politik (1983), Transformasi Pertanian, Industrialisasi dan Kesempatan Kerja (1985), Perekonomian Indonesia: Pertumbuhan dan Krisis (1986), Perspektif Deklarasi Makkah: Menuju Ekonomi Islam (1993), Etika Bisnis dan Manajemen, Kapitalisme Dulu dan Sekarang (1986), Intelektual, Intelegensia, dan Perilaku Politik Bangsa (1992), dan Ensiklopedi Al-Qur’an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci (1996).

Menerobos Aturan

Selama ini Dawam memang lebih dikenal sebagai seorang pengamat ekonomi, di samping kolumnis untuk masalah sosial-keagamaan di pelbagai media massa, ketimbang seorang mufasir. Meski ia mendalami dasar-dasar ilmu agama sejak kecil, namun dengan sangat rendah hati ia tidak mengklaim dirinya sudah memenuhi syarat untuk bisa menjadi mufasir Al-Qur’an. Ia hanya ingin mengatakan bahwa dirinya cukup akrab dengan Al-Qur’an dan memiliki cukup kemampuan untuk memahaminya.

Dawam sadar betul bahwa Al-Qur’an bisa didekati dengan berbagai disiplin keilmuan. Persyaratan seorang mufasir yang dituntut harus benar-benar pandai dan menguasai ilmu-ilmu tafsir seperti diyakini oleh ulama kebanyakan, sementara ia tanggalkan. Ibarat melawan arus, ia kemudian menulis Ensiklopedi Al-Qur’an, Tafsir Sosial Berdasarkan Konsep-konsep Kunci.

Awalnya, buku Ensiklopedi Al-Qur’an berasal dari artikel-artikel serius yang ditulis Dawam di Jurnal Ulumul Qur’an yang ia pimpin pada tahun 1990-an di setiap edisi dalam rubrik “Ensiklopedi Al-Qur’an”. artikel-artikel tersebut bersifat ensiklopedis dengan merujuk pada kata kunci tertentu yang dikaitkan dengan tema-tema Al-Qur’an, misalnya taqwâ, amânah, hanîf, dan sebagainya.

Model yang ditempuh Dawam ini bisa dibilang sebuah fenomena baru yang unik dan menarik. Meski beberapa kalangan merasa keberatan jika artikel-artikel itu disebut sebuah tafsir, namun Dawam sendiri dengan tegas menyebutnya sebagai tafsir Al-Qur’an. Tak kurang Quraish Shihab, seorang mufasir kenamaan Indonesia, menilai artikel-artikel Dawam tak lebih sebagai sebuah pemahaman terhadap Al-Qur’an yang ditulis oleh seorang sarjana ilmu-ilmu sosial.

Terlepas dari polemik yang mengitari Ensiklopedi Al-Qur’an, Dawam telah menyajikan sebuah gaya baru dalam menafsirkan Al-Qur’an. Walhasil, tema-tema yang ditulis Dawam enak dibaca dan mudah dimengerti.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

5 Comments

  1. Bolehlah kita pinjam istilah Syeh Muhammad Abduh ” ilmuwan yang jumud’

  2. Menurut saya Dawam memang seorang cendekiawan yang sholeh juga bersifat ‘avonturis’. Tentu sebagai manusia tidak lepas dari khilaf. Jujur saya sendiri sering mendapat inspirasi dari beliau.

    • tentu, dan dawam mendekati al-qur’an sesuai dengan disiplin keilmuannya.
      salam

      • Akan tetapi sayang main stream Islam khususnya di Indonesia ,tampaknya, tidak mengapresiasi positif pola pendekatan tersebut. Dan bahkan , sekali lagi yang tampak, secara arogan mereka menilai tidak competen atau bahkan menganggap ‘sesat’.

        • di situlah kita bisa memetik pelajaran bahwa di negara ini masih ada orde ilmuwan yang belum sepenuhnya membuka diri bagi sebuah perubahan paradigmatik


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s