Hasbi ash-Shiddieqy

HASBI ash-Shiddieqy lahir di Loukseumawe, Aceh Utara di tengah keluarga berstrata sosial ulama-umara, tepatnya pada 10 Maret 1904. Ayahnya, Tengku Muhammad Husein ibn Muhammad Su’ud, adalah salah seorang loyalis rumpun Tengku Chik Di Simeuluk Samalanga. Sementara Ibunya, Tengku Amrah adalah putri Tengku Abdul Aziz, seorang pemangku jabatan Qadli Chik Maharaja Mangkubumi.

Hasbi yang lahir dalam lingkungan keluarga ulama, pendidik dan pejuang sekaligus jika ditelusuri nasab leluhurnya diyakini dalam dirinya mengalir campuran darah Aceh-Arab. Bahkan Hasbi sendiri bertemu nasab dengan Abu Bakar ash-Shiddiq pada tingkatan yang ke tigapuluh tujuh. Inilah sebabnya di belakang namanya ditambah dengan ash-Shiddieqy lantaran menisbahkan diri pada nama Abu Bakar ash-Shiddiq.

Kendati ia lahir di saat ayahnya menjabat sebagai Qadli Chik tidak serta merta masa kanak-kanaknya begitu dimanjakan, ia juga ditempa berbagai macam penderitaan. Betapa tidak, cuma enam tahun ia mengecap belaian kasih seorang ibu sebab pada tahun 1910 ibu tercintanya pamit dari ruang kehidupannya. Setelah itu, Hasbi diasuh oleh Tengku Syamsiyah, lebih akrab disebut Tengku Syam, yakni saudara lelaki ibunya yang tidak dikaruniai putra.

Karena lahir di lingkungan agamis wajar bila Hasbi telah mengkhatamkan al-Qur’an pada usia delapan tahun. Setahun berikutnya ia belajar qirâ’at dan tajwîd serta dasar-dasar tafsir dan fiqih kepada ayahnya sendiri. Ayahnya menghendaki Hasbi agar nantinya ia menjadi seorang ulama. Karena itu ia lantas dikirim ke salah satu dayah di kota kelahirannya.

Delapan tahun lamanya Hasbi belajar dari satu dayah ke dayah lainnya. Tahun 1912 ia tercatat sebagai santri pada dayah Tengku Chik Di Piyeung guna memperdalam gramatika bahasa Arab, terutama ilmu nahwu dan sharaf. Setahun di sana Hasbi melanjutkan ke dayah Tengku Chik sDi Bluk Kayu. Setahun kemudian pindah ke dayah Tengku Chik Di Blang Kabu Geudong. Lalu ke dayah Tengku Chik Di Blang Manyak Samakurok selama setahun.

Setelah ilmu yang diperolehnya dirasa cukup pada tahun 1916 Hasbi merantau ke dayah Tengku Chik Idris di Tanjungan Barat, Samalanga. Dayah ini merupakan dayah terbesar dan terkemuka di Aceh Utara yang memfokuskan kurikulum pendidikannya pada ilmu fiqih. Dua tahun di sana Hasbi pindah ke dayah Tengku Chik Hasan di Kruengkale. Di sini ia mendalami disiplin ilmu hadits dan fiqih sekaligus selama dua tahun. Pada tahun 1920 oleh Tengku Chik Hasan ia diberi syahâdah (semacam ijazah) yang karenanya ia berhak membuka dayah sendiri.

Semangat Hasbi membaca tidak hanya terbatas pada buku-buku yang ditulis dalam bahasa Arab tetapi juga buku-buku yang ditulis dalam bahasa Latin, selain Arab dan Melayu, utamanya berbahasa Belanda. Kemahirannya berbahasa Latin diperoleh dari pengajaran kawannya yang bernama Tengku Muhammad. Sementara bahasa Belanda ia pelajari dari seorang warga Belanda sebagai imbal balik atas pengajaran bahasa Arab yang telah diberikan kepadanya.

Di tahun 1926 bersama dengan al-Kalali, Hasbi berangkat ke Surabaya untuk belajar di di al-Irsyad. Hasbi mengonsentrasikan diri dalam studi bahasa Arab yang memang merupakan pelajaran istimewa dalam kurikulum pendidikan al-Irsyad.

Setamat dari perguruan al-Irsyad, Hasbi justru secara otodidak menempa dirinya dengan belajar berbagai disiplin keilmuan. Ia tidak pernah sekalipun belajar di perguruan ternama di luar negeri. Tetapi sungguh menakjubkan, berkat kejeniusannya yang luar biasa ia malahan mampu menelorkan lebih dari seratus judul karya intelektual dari beragam disiplin keilmuan, belum lagi artikel yang tidak sempat dibukukan. Karena itu, pantas ia mendapat anugerah Doctor Honoris Causa (H.C) dari Unisba dan IAIN Sunan Kalijaga sekaligus pada tahun 1975.

Karir akademik Hasbi terus meroket. Mulai dari menjadi staf pengajar sekolah persiapan PTAIN lalu menjadi direkturnya. Ia dipercaya mengampu matakuliah Hadits. Tahun 1960, ia dipromosikan sebagai Guru Besar dengan pidato pengukuhan berjudul Syariat Islam Menjawab Tantangan Jaman. Pidato ini disampaikan lewat orasi ilmiah dalam acara peringatan setengah tahun peralihan nama PTAIN menjadi IAIN pada tanggal 2 Rabiul Awal 1381 H/1961 M.

Ketika di Darussalam, Banda Aceh dibuka Fakultas Syariah yang berinduk pada IAIN Yogyakarta, Kolonel Syammun Gaharu (Panglima Kodam I Iskandar Muda) dan Ali Hasjmy (Gubernur Propinsi Daerah Istimewa Aceh) mengusulkan agar Hasbi diijinkan menjadi Dekannya. Jabatan rangkap ini akhirnya diterima Hasbi sejak September 1960 hingga Januari 1962. Setelah melepas jabatan rangkap ini, tahun 1963-1966 Hasbi merangkap lagi sebagai Pembantu Rektor III di samping masih tetap sebagai Dekan Fakultas Syariah di IAIN Yogyakarta.

Dalam pada itu Hasbi juga mengajar dan memangku jabatan-jabatan struktural di berbagai Perguruan Tinggi Swasta.  Tahun 1961-1971 ia menjabat sebagai Rektor Universitas al-Irsyad Surakarta di samping memangku jabatan yang sama di Universitas Cokroaminoto di kota yang sama pula. Sejak tahun 1964 ia mengajar di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta. Di tahun 1967 hingga wafatnya, 19 Desember 1975, ia mengajar dan menjadi Dekan sekaligus pada Fakultas Syariah Universitas Islam Sultan Agung (UNISSULA) Semarang.

Melawan Arus

Di bidang tafsir Al-Qur’an, Hasbi menulis dua tafsir, yaitu Tafsîr an-Nûr (1956) dan Tafsîr al-Bayân (1966). Tafsîr an-Nûr ditulis di tengah perdebatan tentang boleh-tidaknya menerjemah sekaligus menulis Al-Qur’an dengan bahasa selain bahasa Arab. Bagi Hasbi, Al-Qur’an bersifat universal. Karena itu, demi suksesnya misi transformasi maka penggunaan bahasa pembaca yang terkotak-kotak dalam suku dan bangsa masing-masing untuk menafsirkan Al-Qur’an menjadi sebuah kebutuhan mendesak, tidak terkecuali menggunakan bahasa Indonesia.

Hasbi sepenuhnya menyadari bahwa pendapatnya ini berseberangan dengan pendapat majelis ulama-ulama besar Saudi Arabia dalam keputusan No. 67, 21 Syawal 1399 H/1978 M. Keputusan itu berisi fatwa haramnya menulis (menafsirkan) Al-Qur’an dengan menggunakan selain bahasa Arab. Namun ia jalan terus dengan menulis Tafsîr an-Nûr.

Tafsîr an-Nûr merupakan karya monumental Hasbi. Ia berhasil merampungkan penafsiran seluruh isi al-Qur’an, 30 juz. Kadangkala tafsirnya diterbitkan perjilid sejumlah juz Al-Quran. Setiap jilidnya mencapai kurang lebih 200 halaman. Kadangkala diterbitkan menjadi 10 jilid di mana perjilidnya masing-masing memuat 3 juz. Dalam tiap jilidnya biasanya berjumlah kurang lebih 3 x 200 halaman, yakni 600 halaman. Tafsir ini diperkirakan ditulis mulai tahun 1950-1970, menghabiskan waktu selama kurang lebih 20 tahun.

Dalam menyusun kitab tafsirnya, Hasbi banyak menggunakan sumber-sumber seperti ayat Al-Qur’an, riwayat Nabi, riwayat sahabat dan tabi’in, teori-teori ilmu pengetahuan, pengalaman dan juga pendapat para mufasir. Ia menyusun Tafsîr an-Nûr dengan sistematika pembahasan tertentu yang diharapkan mampu menggugah minat pembaca sekaligus memudahkannya dalam memahami dan mendapat penjelasan yang relatif lengkap. Tafsîr an-Nûr bahkan menjadi salah satu kitab tafsir rujukan Lembaga Penyelenggara Penerjemahan Kitab Suci Al-Qur’an dalam tugasnya menerjemahkan Al-Qur’an.

Kendatipun begitu, Hasbi merasa belum puas dengan Tafsîr an-Nûr. Ia pun menulis Tafsîr al-Bayân. Dalam tafsir ini ia melengkapi segala lafal bahkan terjemahan lafal menurut pendapat sejumlah ahli tafsir kenamaan yang diletakkan pada catatan kaki. Ia juga menyertakan komentar, kadang ringkas dan kadang panjang, yang menjelaskan maksud ayat yang memerlukan penjelasan. Ia menerangkan ayat-ayat yang sebanding dengan ayat yang sedang ditafsirkan dan ayat-ayat yang memiliki hubungan dengan tafsir ayat.

Tafsir ini terbit pertama kali pada 1974 sebanyak empat jilid/juz. Jilid pertama berjumlah kurang lebih 362 halaman dan dimulai dari Surah al-Baqarah (2) sampai an-Nisâ’[4]: 23. Diteruskan dengan jilid kedua sejumlah 730 halaman diawali Surah an-Nisâ’ [4]: 24 sampai Yûsuf [12]: 111. Kemudian  jilid ketiga dari Surah Yûsuf [12]: 112 sampai Fussilat [41]: 40 setebal 849 halaman. Terakhir jilid keempat setebal 1749 halaman, mulai Surah Fussilat [41]: 41 hingga al-Nâs.

Setelah sempurna menafsirkan sebuah surah, Hasbi selalu menutup dengan memberi catatan berupa kesimpulan yang menunjukkan apa saja kandungan surah tersebut. Bahkan pada akhir jilid keempat Hasbi memberi catatan penutup panjang, yaitu menggali kandungan makna substansial dari seluruh surah Al-Qur’an yang telah disebutkan dalam jilid kesatu hingga keempat.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s