Buya Hamka

NAMA lengkap Buya Hamka adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah. Namun ia lebih dikenal dengan Hamka yang merupakan akronim namanya sendiri. Sebutan buya di depan namanya tak lain merupakan panggilan buat orang Minangkabau yang disadur dari bahasa Arab, abi atau abuya, yang berarti ayah kami atau seseorang yang sangat dihormati. Ia lahir di Kampung Molek, Maninjau, Sumatera Barat pada 1908.

Putra Abdul Karim bin Amrullah yang juga dikenal sebagai Haji Rasul dan pelopor Gerakan Islah di Minangkabau sekembalinya dari Mekkah pada 1906 ini mengawali pendidikan di Sekolah Dasar Maninjau hingga Darjah Dua. Ketika ayahnya mendirikan Sumatera Thawalib di Padang Panjang, Hamka yang baru berusia 10 tahun segera pindah ke sana. Di situ, ia mempelajari bahasa Arab. Ia juga belajar ilmu-ilmu agama di surau dan masjid yang diasuh sejumlah ulama terkenal seperti Sutan Mansur, RM. Surjoparonto, Ki Bagus Hadikusumo, Syaikh Ahmad Rasyid, dan Syaikh Ibrahim Musa.

Hamka memulai pengabdian terhadap ilmu pengetahuan dengan menjadi guru agama pada 1927 di Perkebunan Tebing Tinggi, Medan. Selang dua tahun kemudian, 1929, ia juga menekuni profesi serupa di Padangpanjang. Karena karir cemerlang, pada tahun 1957-1958 ia dilantik sebagai dosen di Universitas Islam Jakarta dan Universitas Muhammadiyah Padangpanjang. Jabatan prestisius sebagai rektor juga pernah dijalaninya pada Perguruan Tinggi Islam Jakarta.

Kesuksesan Hamka dalam menuntut ilmu tak hanya diperoleh melalui pendidikan formal. Ia malah sering belajar berbagai bidang ilmu pengetahuan seperti filsafat, sastra, sejarah, sosiologi dan politik, baik Islam maupun Barat, secara otodidak.

Dengan kemampuan bahasa Arab, Hamka menelaah karya ulama dan pujangga besar Timur Tengah. Misalnya, Mustafa al-Manfaluti, Abbas al-Aqqad, Hussain Haikal, Jurji Zaidan, dan Zaki Mubarok. Karya sarjana Perancis, Inggris, dan Jerman semisal Albert Camus, William James, Sigmund Freud, Arnold Toynbee, Jean Paul Sartre, Karl Marx dan Pierre Loti juga tak luput dari perhatiannya.

Di jalur organisasi sosial kemasyarakatan, Hamka aktif di Muhammadiyah. Bahkan ia turut mengikuti deklarasi berdirinya Muhammadiyah pada 1925. Karirnya pun cemerlang. Mulai 1928, ia menjadi Ketua Cabang Muhammadiyah Padangpanjang. Lalu, dua tahun kemudian menjadi konsul Muhammadiyah di Makassar. Pada 1946, ia terpilih menjadi Ketua Majelis Pimpinan Muhammadiyah di Sumatera Barat. Jabatan Penasihat Pimpinan Pusat Muhammadiyah disandangnya pada 1953.

Di jalur politik, ia terdaftar sebagai anggota Sarekat Islam pada 1925. Pada 1947, ia dilantik sebagai ketua Barisan Pertahanan Nasional, Indonesia dan juga dilantik menjadi anggota Konstituante Masyumi. Namun ketika Masyumi diharamkan pemerintahan Soekarno pada 1960, empat tahun kemudian, 1964 hingga 1966 ia dipenjara karena dituduh Pro-Malaysia.

Menulis Tafsir Di Penjara

Hamka memang tokoh yang kaya ilmu pengetahuan. Kiprahnya di dunia politik ternyata juga berbanding lurus dengan aksi pengembangan ilmu pengetahuan. Selain aktif dalam soal keagamaan dan politik, ia juga seorang wartawan, penulis, editor dan penerbit. Sejak tahun 1920-an lagi, Hamka menjadi wartawan beberapa buah akhbar seperti Pelita Andalas, Seruan Islam, Bintang Islam dan Seruan Muhammadiyah.

Pada tahun 1928, Hamka menjadi editor majalah Kemajuan Masyarakat. Pada tahun 1932, ia menjadi editor dan menerbitkan majalah al-Mahdi di Makasar. Ia pernah juga menjadi editor majalah Pedoman Masyarakat, Panji Masyarakat dan Gema Islam.

Dengan bekal pengetahuan tentang tulis-menulis, Hamka mampu menghasilkan banyak karya, terutama dalam bidang sastra (novel dan cerpen), misalnya Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Di Bawah Lindungan Kaabah dan Merantau ke Deli, dan agama (tafsir), yaitu Tafsîr al-Azhâr. Bahkan ditegaskan olehnya sendiri, bahwa Tafsîr al-Azhâr ditulis di penjara.

Tafsîr al-Azhâr telah diakui banyak kalangan sebagai karya monumental Hamka. Ia mencoba menghubungkan sejarah Islam modern dengan studi Al-Qur’an dan berusaha melangkah keluar dari penafsiran-penafsiran tradisional. Ia menekankan ajaran Al-Qur’an dan konteksnya dalam bidang keislaman.

Langkah penafsiran Hamka dengan menuliskan teks Al-Qur’an lengkap, diterjemahkan, kemudian memberi catatan penjelasan. Biasanya, ia menyajikan bagian-bagian pendek yang terdiri dari beberapa ayat—satu sampai lima ayat—dengan terjemahan bahasa Indonesia, kemudian dijelaskan panjang lebar, bisa sampai limabelas halaman. Karena itulah, Tafsîr al-Azhâr lumayan tebal, terdiri atas lima jilid.

Atas jasa dan pengabdiannya dalam dunia keilmuan, Hamka dianugerahi gelar kehormatan Doctor Honoris Causa, Universitas al-Azhar pada 1958, Doctor Honoris Causa, Universitas Kebangsaan Malaysia pada 1974, dan gelaran Datuk Indono dan Pengeran Wiroguno dari pemerintah Indonesia. Ia meninggal dunia pada 24 Juli 1981 di Jakarta.

Sumber: Saiful Amin Ghofur, Profil Para Mufasir Al-Qur’an, (Yogyakarta: Insan Madani, 2007)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s