Misi Terselubung Penerbit

BENARKAH setiap penerbit memiliki misi terselubung? Memang susah untuk menjawab secara pasti. Namun sejumlah peristiwa berikut yang sempat membuat wajah perbukuan kita koyak-moyak agaknya dapat membantu merangkai jawaban pertanyaan itu.

Tepat setahun silam pada 15 November 2006, Paguyuban Guru Ulak Karang Sumatera Barat (Sumbar) menulis somasi terhadap beberapa penerbit buku pelajaran (semisal Cempaka Putih, Erlangga, dan Remaja Rosyda Karya) kepada Kepala Daerah Tingkat II Padang, Gubernur Sumbar, MUI Kota Padang, Ketua Lembaga Kerapatan Adat Nagari, Ketua DPRD, Kapolda, Kepala Dinas Pendidikan, dan Kepala Departemen Agama kota Padang. Tuntutannya, pemakaian buku-buku sejumlah penerbit tersebut dihentikan dan segera ditarik dari peredaran.

Apa gerangan yang terjadi? Buku-buku penerbit tersebut dinilai bermasalah. Misalnya, buku Pendidikan Agama Islam (PAI) kelas II terbitan Erlangga materinya dianggap mengandung unsur pembodohan, penyesatan, pelecehan dan penghinaan agama Islam, banyak menggunakan pernak-pernik ilustrasi yang menyerupai tanda salib.

Hal serupa juga dituduhkan pada majalah anak, Nabila, yang diterbitkan Cempaka Putih. Tokoh pada majalah itu menggunakan busana islami, tetapi memakai lambang yang biasa dipakai agama selain Islam. Setali tiga uang, buku Bahasa Indonesia kelas II terbitan Remaja Rosyda Karya materinya pun dituduh membodohkan serta mengenalkan simbol-simbol yang bertendensi negatif.

Baru-baru ini ditemukan pula kesalahan fatal pada dua buku terbitan Pustaka Insan Madani yang tak lain adalah “anak emas” sebuah penerbit babon di Klaten. Buku tersebut adalah Amalan yang Dicintai Allah dan Juz Amma dan Terjemahannya yang terbit pada minggu terakhir bulan Oktober 2007.

Pada Juz Amma terdapat pengulangan ayat ke-43 di ayat ke-39 Surat an-Naziat. Dengan kata lain, ayat ke-43 ditulis dua kali. Adapun pada buku Amalan yang Dicintai Allah terdapat kekeliruan penulisan doa masuk dan keluar masjid, serta doa sesudah azan. Doa masuk masjid tertulis doa di tengah-tengah makan teringat belum berdoa, doa sesudah azan tertulis doa keluar rumah, dan doa keluar masjid tertulis doa yang dibaca ketika keluar WC. Busyet!

Barangkali kekeliruan itu bukanlah kesengajaan. Tetapi pembaca bisa saja berpikir sebaliknya. Di sini hukum “Kematian Pengarang” yang disuluh Roland Barthes bisa berlaku. Bahwa makna teks sudah keluar dari tanggung jawab pengarangnya.

Dalam konteks inilah martabat penerbit tengah dipertaruhkan. Serentetan kekeliruan itu pada gilirannya akan menggumpalkan opini pembaca pada sebuah pertanyaan: tidakkah terjadi penodaan dan pelecehan agama sebagai efek domino kekeliruan itu? Pada skala yang lebih luas, misi pencerahan sebuah buku akan sirna oleh siluet kebencian berbasis agama yang membayangi kekeliruan itu.

Sinergi Tiga Elemen

Saya tidak ingin terjebak untuk menebak adanya misi terselubung penerbit. Biarlah pembaca sendiri yang menentukan. Tapi agak melebar dari permasalahan ini, kiranya akar kekeliruan itu perlu diusut agar penerbit-penerbit yang lain bisa mengevaluasi dan instrospeksi diri.

Menurut saya, kekeliruan itu merupakan akumulasi dari lemahnya mekanisme kerja dan daya kontrol penerbit. Selama ini ujung tombak dari kualitas buku adalah editor. Naskah yang awalnya acakadut, mendadak baik setelah disentuh oleh tangan ajaib editor. Karena itulah, muncul adagium bahwa baik-buruk suatu buku sebenarnya bergantung atas kinerja editor, bukan penulisnya.

Adagium ini tidak sepenuhnya keliru. Editor nyata-nyata memanggul beban yang sungguh berat. Bila ada kekeliruan dalam buku, yang dilirik pertama kali memang penulisnya. Namun justru tanggung jawabnya dimampatkan kepada editor.

Berpijak pada fenomena ini, beban editor perlu dibagi dengan penulis buku itu sendiri. Laiknya pepatah berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Dalam posisi ini, editor semestinya membuka lebar-lebar kanal komunikasi dengan penulis. Setiap menemukan logika yang musykil dalam buku, patut dikonfirmasikan kepada penulis.

Hingga sedemikian rupa, penulis juga memiliki hak untuk menelaah naskah sebelum masuk ke mesin cetak. Penelaahan ini sekaligus menandai keterlibatan langsung penulis dengan proses editing naskahnya. Namun aneh, selama ini proses kroscek kepada penulis jarang dilakukan oleh penerbit. Dengan dalih dikejar momentum, acapkali penulis diabaikan, sehingga naskah dari editor langsung meluncur ke mesin cetak.

Tahap akhir setelah editor dan kroscek oleh penulis adalah tugas korektor naskah (baca: quality control/QC). Fungsi korektor naskah adalah mem-back up seluruh kinerja editor dan penulis. Artinya, korektor naskah merupakan terminal terakhir kualitas naskah mulai dari aspek kebahasaan—bahkan sampai titik-koma—hingga substansi naskah sebelum berangkat ke percetakan. Keberadaan korektor naskah dapat mendeteksi dini potensi kekeliruan, entah dari kerancuan logika berpikir atau kemungkinan data yang diprediksi bakal menyulut amarah pembaca berkenaan dengan segala sesuatu yang sensitif.

Jadi, bisa ditarik benang merah betapa pentingnya sinergi antara editor, penulis, dan korektor naskah. Optimalisasi sinergi ketiga elemen ini selain menghasilkan buku bermutu, juga bisa menghindari prasangka pembaca terhadap adanya misi terselubung penerbit. Di atas semua itu, yang jelas adalah hak pembaca untuk mendapatkan pencerahan intelektual dari buku tidak boleh dikalahkan oleh kepentingan apapun. []

*) Saiful Amin Ghofur, Kerani Taman Bacaan Matahati Krapyak Yogyakarta.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s