Memoar Pahlawan Kesepian

LELAKI itu kini terhempas di atas kursi roda. Di usia yang semakin petang, ia kian merasa sepi dan sendiri di tengah keramaian. Lebih dari tiga seperempat abad, ia menjejakkan kaki di bumi pertiwi. Ia menjadi saksi sekaligus korban dari jaman yang terus bergejolak tidak karuan.

Dialah Pramoedya Ananta Toer. Tak banyak yang sanggup dilakukan Pram saat ini. Bahkan untuk menulis pun Pram tak sanggup lagi. Sebuah aktivitas yang mengantarkannya menjadi orang terkenal di seantero jagad kini telah dipetimatikan. Pram mengaku tidak akan menulis lagi. Sungguh, Pram telah pensiun menjadi seorang penulis!

Keputusan tragis itu dibeberkan kepada André Vltchek dan Rossie Indira dalam sekapur sirih buku ini. “Saya tidak akan pernah menulis lagi. Saya tidak bisa! Saya tidak bisa menulis lagi. Buku terakhir saya hanyalah kumpulan surat-surat yang saya kirimkan bertahun-tahun lalu kepada beberapa tokoh-tokoh politik dan budaya,” kata Pram (halaman xxv).

Tapi jangan dikira Pram benar-benar lunglai tak berdaya. Sisa-sisa keperkasaannya masih tampak ketika Pram berbicara. Pram tetap kritis membaca kenyataan. Kadang dengan bahasa yang santun, tapi tak jarang dengan semangat sarkastik yang menyala berapi-api dan bahasa meledak-ledak. Kepenatan hidup seperti ikut membumbung mengiringi gelembung asap rokoknya yang terbang ke awang-awang.

Begitulah Pram. Seorang tokoh Indonesia nomor wahid itu menuturkan kesaksian yang jujur dalam buku ini. Dengan blak-blakan, Pram berkisah tentang perjalanan bangsa Indonesia serta hidupnya yang sangat dramatis dan menyentuh perasaan. Di sini, Pram berusaha memobilisir kita untuk memasuki relung-relung kehidupannya—sama seperti ia melibatkan pembaca ketika membaca karya-karyanya.

Pada mulanya Pram enggan menyatakan kesediaannya dalam proses kreatif penerbitan buku ini. Hal yang baru pertama kali dilakukan dan dianggapnya tabu ketika menerbitkan buku dengan meminjam tangan orang lain. Apalagi André Vltchek berasal dari Amerika Serikat—negara mana yang dituduhnya sebagai biang kerok pembusukan bangsa Indonesia dalam segala lini kehidupan.

Namun mengingat “jasa-jasa” Amerika terutama semasa di kamp pengasingan Pulau Buru, Pram pun terpaksa mengabaikan keyakinan tersebut. Pasalnya, ke negara adikuasa itulah karya-karya yang dihasilkan selama masa pengasingan di Pulau Buru diselundupkan saat di negeri sendiri diburu-buru hendak dibabat habis-habisan. Meski malu mengakui, Amerika telah membesarkan namanya sebagai seorang pahlawan batu karang yang tegar menahan amuk badai tantangan negerinya sendiri.

Dalam buku ramping ini, Pram bercerita banyak hal. Mulai soal situasi sebelum 1965, kudeta G30S, masa-masa penahanan dirinya pascakudeta, pelarangan buku-bukunya, rezim Soeharto yang zalim, krisis kepemimpinan nasional, budaya Jawanisme, hingga konflik berdarah-darah di sejumlah daerah seperti di Timor Leste dan Aceh dengan mencurigai keterlibatan Amerika sebagai dalangnya. Menutup cerita, Pram mengajukan beberapa solusi alternatif untuk mengentaskan bangsa Indonesia dari keterpurukan peradaban.

Mengikuti penuturan Pram di sini kita bisa menyaksikan betapa Pram masih menunjukkan dirinya sebagai figur yang membangkang, menolak, menantang, tak kenal kompromi menyangkut kebebasan dan nalar, serta individualisme yang kerap disebut “Pramisme”.

Soal kudeta G30S, misalnya. Pram menuturkan kisah yang sedikit berbeda dengan versi yang diamini publik. Walaupun terdapat banyak penelitian yang berusaha mengungkap siapa dalang kudeta G30S, namun versi dominan tetap menuduh PKI sebagai aktor utama yang berniat menggulingkan pemerintahan Soekarno. Menurut Pram, pelakunya bukanlah PKI, tapi pihak militer (Angkatan Darat) sendiri.

Militer dan Soeharto melakukan kudeta, kemudian menuduh pihak lain sebagai pelakunya. Tragedi serupa ini pernah terjadi dalam sejarah kerajaan Majapahit dahulu, yaitu cerita tentang Kebo Ijo, Ken Arok, Tunggul Ametung, dan istrinya, Ken Dedes. Ken Arok menginginkan Ken Dedes. Ia pun membeli sebilah keris dan dipinjamkan kepada Kebo Ijo yang suka pamer. Diam-diam Ken Arok mengambil kembali keris itu dan membunuh Tunggul Ametung. Ken Arok lantas mengambil alih kekuasaan dan mengeksekusi Kebo Ijo yang dituduh pelaku pembunuhan terhadap Tunggul Ametung (halaman 24-25).

Penuturan Pram tentang Jawanisme tak kalah penting untuk disimak. Jawanisme oleh Pram diartikan dengan taat dan setia kepada atasan yang akhirnya menjurus kepada fasisme. Jawanisme telah menjadikan rakyat berpikir individualistik tanpa mau peduli terhadap yang lain. Karena itu, Jawanisme menjadikan rakyat terkotak-kotak secara konfrontatif dan memandang yang lain di luar kelompoknya dengan penuh kecurigaan (halaman 45).

Buku ini memang sangat menarik. Melalui penuturan yang ekspresif, sejatinya kita bisa menyelami kadar pemikiran Pram sekaligus menguji premis-premis yang diajukannya. Pram di sini tak lebih sebatas tokoh yang melihat sejarah kelam dari perspektif dirinya sendiri. Jadi, kita boleh saja tidak sepakat dengan penuturan Pram.

Umpamanya pemikiran Pram soal agama (halaman 52-55). Pram menuduh agama telah menyuntikkan kesadaran semu dengan janji-janji surga. Persis Karl Marx yang mengganggap agama sebagai candu, Pram melihat aksi-aksi kontraproduktif yang dilakukan di bawah panji-panji agama di mana tujuan akhirnya adalah meraih tiket ke surga. Di mata Pram, Tuhan tak lebih dari sosok yang diciptakan alam pikiran manusia akibat ketidakberdayaan dalam mengarungi kehidupan. Pandangan ini serupa dengan pemikiran Hegel. Maka Pram pun tak mau mengemis kepada Tuhan dalam menciptakan kreasi-kreasi produktif dalam hidupnya. Secara tidak langsung, keyakinan ini menggemakan seruan Nietzshe untuk membunuh Tuhan.

Penerbitan buku yang juga saat ini dalam proses penerjemahan oleh sebuah penerbit di Amerika ini boleh dibilang telat. Sebab sepertiga bagian terakhir mengisahkan penuturan Pram tentang suksesi kepemimpinan nasional. Wajarlah, wawancara untuk buku ini dilakukan pada akhir 2003 dan awal 2004. Seandainya bisa mengejar momentum, niscaya banyak pemikiran Pram perihal suksesi kemimpinan tidak terlewatkan begitu saja. Sebab Pram bisa menelanjangi para kandidat dalam suksesi kala itu seperti sosok Wiranto, Yudhoyono, dan Megawati.

Buku ini juga menggambarkan Pram yang mulai terasing dari dunianya. Dalam konteks mikro, kebiasaan Pram gila membaca dan menulis tidak diwarisi anak-anak dan cucu-cucunya. Sangat ironis! Sang maestro merasa terasing dalam keluarga sendiri. Dalam konteks makro, keprihatinan Pram semakin mengkristal saat melihat angkatan muda tak banyak yang produktif menulis. Padahal, di tangan angkatan mudalah sejarah baru bakal dilahirkan lewat revolusi dan tulisan.

Secara implisit, pesan yang patut dicatat dari buku ini adalah sudah saatnya angkatan muda memimpin dan mendobrak. Seluruh kedudukan enak harus direbut kembali dari orang-orang tua. Padahal mereka bisanya cuma korupsi. Angkatan tua benar-benar bobrok. Maka angkatan muda harus melakukan revolusi. []

Judul Buku: Saya Terbakar Amarah Sendirian! (Pramoedya Ananta Toer dalam Perbincangan dengan André Vltchek & Rossie Indira)
Penyunting: Candra Gautama dan Linda Christanty
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta
Cetakan: Pertama, Januari 2006
Tebal: xxix + 131 halaman (tanpa indeks)

*) Saiful Amin Ghofur, Kerani Taman Bacaan Matahati Krapyak Yogyakarta

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s