Memberi Serasa Menerima

PENDIDIKAN Indonesia masih mengutamakan kulit, belum menyentuh isi.  Bagaimana rancangan pendidikan ideal masa depan untuk merumuskan kesejahteraan kehidupan berbangsa-bernegara? Lantas, darimana pendidikan ideal masa depan itu mesti dimulai? Untuk membabar hal ini, Saiful Amin Ghofur, koresponden JENDELA SANTRI di Yogyakarta, menjumpai Prof. Dr. Husain Haikal, MA, Guru Besar Universitas Negeri Yogyakarta. Berikut petikan wawancaranya: Prof, sebelum mengurai masalah pendidikan bisa cerita sedikit tentang keluarga Anda?

Ya, saya lahir dalam keluarga yang cukup terdidik. Tanggal 9 September 1944 di Semarang. Keluarga saya sangat heterogen. Multietnis dan multikultural. Sebagian besar keturunan Tionghoa etnis Gang Fen. Tapi beberapa di antaranya sudah memeluk Islam. Sehingga, nama pun diganti dengan nama islami.

Apa pengaruh heterogenitas dan multikultural keluarga terhadap kepribadian Anda?

Banyaklah. Saya selalu berusaha untuk memahami perbedaan. Sekecil apapun. Semasa saya belajar di Sekolah Rakyat tahun 1950-an, teman-teman saya lebih besar. Maklumlah. Saat itu kan masa revolusi sehingga banyak anak tidak sekolah. Tapi saya beruntung, karena orangtua sangat memperhatikan pendidikan saya. Dalam masa sulit itu, kami belajar bersama dalam kemajemukan. Walau tak bisa belajar di sekolah negeri,  tapi untung masih dapat buku bacaan gratis. Sehingga, kami belajar lebih giat lagi walaupun belajar dalam keterbatasan.

Menurut pengamatan Profesor, bagaimana perkembangan pendidikan kita dewasa ini?

Pendidikan di Indonesia ini aneh. Kenapa saya bilang aneh? Sebab, pendidikan kita membebek ke Barat, ke Amerika Serikat. Pendidikan kita kurang memberdayakan sistem local genious seperti yang dikembangkan di pondok pesantren. Lihat saja, untuk menjadi guru SD seseorang dituntut memiliki ijazah S1. Padahal untuk menjadi walikota, anggota DPR, bahkan presiden tidak usah S1. Ini kan dagelan namanya. Dan, makin lama kesejahteraan guru terabaikan. Padahal dalam Islam dijelaskan, kadal faqru ay yakuna kufron; nyaris kefakiran membawa kekufuran. Guru itu banyak yang sekadar guru sapi atau guru kerbau. Maaf, bukan berarti saya menjelekkan guru. Maksud saya, banyak orang yang menjual sapi atau kerbau bisa agar diangkat menjadi guru.

Lho Prof, bukankah sekarang kesejahteraan guru mulai diperhatikan sejak ditetapkan UU Guru dan Dosen?

Yang namanya sertifikasi itu tidak jelas. Sertifikasi hanya menambal kebutuhan. Ya, dengan program sertifikasi kesejahteraan guru dan dosen bakal meningkat. Tapi lihatlah, banyak penipuan di sana-sini demi untuk kepentingan lolos sertifikasi. Ada yang memalsukan sertifikat, ada yang menerbitkan buku oplah terbatas dengan sistem cetak digital printing. Ini kan akal-akalan namanya.

Lalu, apa artinya fenomena itu, Prof?

Sederhana saja, banyak guru (dan juga dosen) sebenarnya tidak siap menghayati peran sebagai guru. Dorongan menjadi guru bukan murni dari hati nurani, tapi karena dorongan materi. Sehingga karena dorongan materi ini, mereka bisa melakukan apa saja, termasuk perbuatan tercela yang sangat tak pantas dilakukan. Kalau murid tahu kan bisa jatuh wibawa guru.

Kalau demikian, dampak negatif dorongan materi itu apa saja, Prof?

Wah, banyak sekali. Sifat manusia itu kan sering kurang puas dengan apa yang sudah diperoleh. Terus merasa kurang. Kalau seseorang punya jabatan penting, maka dia akan berlaku aji mumpung. Mumpung masih jadi ini, mumpung masih jadi itu. Sehingga, ia memanfaatkan segala fasilitas yang diberikan, bahkan untuk kepentingan pribadinya. Sikap ini yang jelas-jelas saya tolak. Makanya, ketika saya menjadi rektor Universitas Pekalongan, saya memperkenalkan dan mempraktikkan ngurus bukan nguras. Saya tak tertarik dengan fasilitas. Saya selalu menolak diantar pulang ke Jogja dengan mobil kantor. Saya memilih naik bus kota atau travel. Bagi saya, rezeki bukan semata-mata materi. Saya memandang rezeki itu barakah. Kita sehat, itu rezeki. Kita bernafas, itu rezeki. Jadi, bukan melulu soal materi.

Itu berarti perlu ada revolusi mental?

Jangan revolusilah. Kedengarannya kok gimana. Memang, mental seperti itu harus diubah. Segalanya harus dikembalikan kepada diri sendiri. Ya itu tadi, ngurus bukan nguras. Anda lihat, saya tadi kan buang sampah sendiri. Bisa saja saya menyuruh mahasiswa, atau petugas cleaning service. Tapi saya tak mau. Saya konsisten dengan ngurus bukan nguras. Dulu, guru masih merasa bertanggung jawab terhadap murid walaupun telah lulus dari sekolah. Ini contoh guru yang ngurus. Sekarang kan tidak begitu. Sekarang ini murid baru diberi ilmu, baru taklim bukan tarbiyah, baru pengajaran bukan pendidikan.

Maksudnya, Prof?

Dulu semasa saya sekolah SR, ujian selalu dilakukan di tempat lain. Tidak di sekolah sendiri. Pengawas dan gurunya beda. Jadi, obyektifitasnya tinggi. Lulusan terbaik SR digadang-gadang dicalonkan masuk Sekolah Guru Bantu (SGB) selama 4 tahun. Mereka dibina dengan serius untuk menjadi guru yang profesional. Kalau sekarang? Kebanyakan orang sekolah mencari ilmu atau nilai? Nilai! Dari SD sampai Perguruan Tinggi. Karena cari nilai, mereka sering melupakan proses mengembangkan potensi diri. Ini yang saya maksud baru taklim bukan tarbiyah. Kalau begini terus kita menuju pada proses penghancuran pendidikan.

Apa artinya pendidikan kita berjalan mundur?

Bukan mundur, tapi penghancuran. Nah, hancurnya Indonesia kalau berbicara pendidikan, itu amburadul karena banyaknya mata pelajaran. Dan, guru juga tidak tahu. Dulu berhitung diubah menjadi matematika, tapi tidak dipersiapkan. Kita hancur karena kita diberi ilmu-ilmu yang tidak diperlukan. Jadi, ilmu-ilmu yang bagus itu hilang, masuk ilmu-ilmu sampah. Dulu tak ada biologi, adanya ilmu manusia, botani (ilmu tumbuh-tumbuhan), zologi (ilmu hewan). Sekarang biologi kan satu. Berarti, kemampuan sainsnya rendah. Matematika dulu ada aljabar, ilmu prosedur, ilmu ruang, ilmu mekanik.

Menurut Profesor, alternatif solusinya bagaimana?

Sekali lagi, semuanya harus kembali kepada diri sendiri. Ngurus bukan nguras. Dan satu lagi, memberi serasa menerima. Ini yang harus kita tanamkan dalam diri kita. Semakin banyak kita memberi, semakin banyak kita menerima. Percayalah, kita takkan kekurangan dengan memberi. Sebab, dengan memberi pada hakikatnya kita memberi kepada diri kita sendiri. Jika falsafah ini dihayati dan diterapkan, saya yakin akan tercipta kedamaian dan kesejahteraan dalam kehidupan ini. []

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s