Keteladanan Kiai Panutan

KETIKA KH. Arief Hasan wafat pada 20 Rabiul Awal 1409 H/31 Oktober 1988, para pelayat berbiak hingga ribuan. Mereka tertumpah ruah di pelataran rumah duka hingga mengular sepanjang jalan. Airmata pun menetes teriring selaksa doa mengiringi kepergian kiai yang amat bersahaja. Kiai Arief mangkat meninggalkan segala apa yang dicintai dan semua yang mencintainya.

Nama KH. Arief Hasan bisa jadi masih asing terdengar di telinga kebanyakan. Popularitas kiai kelahiran Beratkulon, sebuah desa sebelah utara bantaran Kali Brantas Mojokerto, pada 20 Rabiul Awal 1337 H/1917 M sekaligus pendiri Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in ini memang tidak semencuat sejumlah kiai sepuh NU lainnya. Namun jika menilik lebih jauh sketsa kehidupannya, akan diperoleh sebuah keteladanan yang begitu memesona.

Inilah kontribusi buku Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan karya Saiful Amin Ghofur ini. Dalam buku ini diungkap dengan begitu lengkap narasi kehidupan Kiai Arief, sejak kelahiran hingga kematian. Termasuk lika-liku ketika menimba ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng di bawah asuhan Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari, strategi mendidik para santri, heroisme perjuangan merebut kemerdekaan, kehatian-hatian terlibat dalam kancah politik praktis, hingga kepedulian terhadap agenda pemberdayaan sosial-ekonomi masyarakat.

Karena itu, cukup beralasan bila dalam Pengantar Penerbit buku ini dikatakan bahwa Kiai Arief rasa-rasanya tepat mewakili sosok bocah angon seperti termaktub dalam syi’ir keagamaan (baca: lir-ilir) gubahan Sunan Kalijaga. Sebab, sepanjang hidupnya ia selalu mengayomi masyarakat. Ia memimpin dan mengendalikan perubahan masyarakat dari arah belakang. Meski, sebetulnya bisa saja ia tampil sebagai pemimpin di barisan terdepan, tapi dengan segala kearifan yang bijak, kesempatan itu tidak diambil.

Kiai Arief adalah sebuah fenomena. Sikapnya yang sederhana, bersahaja, kharismatik, dan fatwa-fatwa keagamaan yang menyejukkan membuat siapapun yang sempat bersentuhan dengan kehidupannya tentu akan selalu merasakan rindu yang terus bertalu-talu.

Maka, setidaknya buku ini bisa menjadi semacam obat penawar rindu. Sebab, buku ini ditulis dengan bahasa yang cair serupa air mengalir. Struktur kalimat yang dipindai Saiful telah terhembalang jauh dari kekakuan normativitas berbahasa seperti lazimnya buku-buku otobiografi serupa, sehingga pembaca seakan-akan terlibat langsung dalam serentetan peristiwa penting bersama Kiai Arief.

Kiai Arief tak pernah mengenyam pendidikan formal kecuali nyantri kepada Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Tapi di kelak kemudian hari ia mendirikan institusi pendidikan lengkap dari jenjang Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Lanjutan Atas (MA/SLTA) yang dipayungi Yayasan Pendidikan dan Pondok Pesantren Roudlotun Nasyi’in. Hal ini tentu tak terlepas dari ketekunan belajar dan berkah dari Kiai Hasyim. Salat malam tak pernah ia tinggalkan.

Semasa di Tebuireng, Kiai Arief sangat patuh dan memiliki kedekatan emosional dengan Kiai Hasyim. Bahkan ia sempat menjadi tukang pijat andalan Kiai Hasyim. Oleh pendiri Jamiyyah Nahdlatul Ulama ini Kiai Arief kerap dipanggil dengan nama thowil karena postur tubuhnya yang kurus lagi tinggi (hlm. 58).

Metode pendidikan yang diperoleh dari Kiai Hasyim kelak juga diterapkan ketika Kiai Arief mendidik para santri. Dalam mendidik, Kiai Arief memang sangat tegas. Namun di sisi lain, ia pun penyayang dan amat dekat dengan para santri. Kerapkali Kiai Arief makan bersama para santri. Dengan cara ini kedekatan emosional dan spiritual dapat selalu terjaga (hlm. 103-108).

Metode pendidikan Kiai Arief mirip seperti konsep pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang terkenal dengan sistem among, yaitu menjaga, membina dan mendidik dengan kasih sayang, serta konsep Trilogi Kepemimpinan: Ing Ngarso Sung Tulodho, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

Yang pasti, melalui buku ini kita bisa menimba keteladan dari seorang kiai panutan. Secara runtut keteladanan tersebut bisa disisir dalam lima bab. Bab pertama, berkisah seputar kelahiran hingga seluk-beluk menimba ilmu. Bab kedua, bertutur tentang pesantren dan hiruk-pikuk perjuangan. Bab ketiga, menjelaskan tentang kearifan Kiai Arief selaku kepala rumah tangga yang sangat bijak. Bab keempat, berbicara tentang kiprah Kiai Arief dalam agenda besar memberdayakan potensi sosial-ekonomi masyarakat. Dan bab kelima, berupa refleksi teladan moral Kiai Arief.

Yang tak kalah menarik, Kiai Arief benar-benar mampu mengendalikan emosi dan hasrat politik. Ini terbukti ketika sempat menjadi anggota DPRD Mojokerto, belum sampai purna ia meletakkan jabatan itu untuk lebih fokus terhadap agenda pemberdayaan masyarakat. Hal ini sekaligus menjadi kritikan pedas di tengah ambisi para kiai yang sekarang berduyun-duyun terjun ke kancah politik praktis sembari mengabaikan agenda pemberdayaan kultural.

Maka dari itu, kehadiran buku ini patut disambut dengan penuh apresiatif. Bila diibaratkan, Kiai Arief tak ubahnya serupa intan yang tiap ujungnya memancarkan kilau-kilau cahaya kebajikan yang laik ditapaktilasi untuk merenda kehidupan. Inilah kontribusi konkret yang telah ditorehkan Saiful melalui buku ini.

Selamat membaca. []

Judul Buku : Jejak Keteladanan KH. Arief Hasan
Penulis : Saiful Amin Ghofur
Penerbit : Kaukaba Dipantara Yogyakarta
Cetakan : Pertama, Maret 2009
Tebal : 224 halaman

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s