Kekerasan dan Potret Buram Pendidikan

KEKERASAN akibat bullying terhadap seorang siswa di SMA 34 Pondok Labu, Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu membuat kita terhenyak. Muhammad Fadhil, salah satu siswa di SMA tersebut disiksa sampai tulangnya patah oleh seniornya yang tergabung dalam geng Gazper. Kejadian itu merupakan bukti bahwa kekerasan terus merebak di tengah-tengah kita (Kompas, 1/11).

Bullying adalah penggunaan agresi dengan tujuan untuk menyakiti orang lain, baik secara fisik maupun mental, yang dilakukan secara berulang-ulang. Bullying dapat berupa tindakan fisik,verbal dan emosional. Sebenarnya bullying (intimidasi) merupakan masalah klasik yang berkesinambungan, dan kompleks. Bullying terjadi di hampir semua area kehidupan, politik, ekonomi, olahraga, keluarga, tempat kerja, termasuk dunia pendidikan (sekolah).

Soal kekerasan di sekolah bukan cerita awal. Peristiwa-peristiwa ini hanya puncak gunung es. Tawuran kronis yang sudah berjalan belasan tahun dan meminta banyak korban jiwa masih terlihat hingga kini. Bahkan pada tahun 1960-an di Jakarta dikenal geng-geng yang melegenda, seperti Siliwangi dan Berlan. Aksi mereka selalu meminta korban jiwa atau luka. Fenomena ini bukan tidak mungkin juga ditemukan di kota-kota lain.

Penelitian yang digelar Yayasan Semai Jiwa pada periode 2006-2007 terhadap berbagai kasus bullying di sekolah-sekolah di Indonesia memaparkan bahwa kasus-kasus bullying sebenarnya sudah mengakar dan membudaya di lingkungan pendidikan di Indonesa pada semua jenjang pendidikan.

Sayangnya, guru dan pendidik di Indonesia belum menyadari dampak negatif bullying yang bisa berbentuk penggencetan, olok-olok antarteman, dan sebagainya. Guru masih menganggap bullying sebagai hal biasa dalam kehidupan remaja, bahkan dalam format acara tertentu sudah dianggap legal oleh instansi pendidikan yang bersangkutan. Kalaupun ada yang peduli, tapi peran guru seolah-olah tidak kuasa untuk meredam tindakan-tindakan bullying yang dilakukan oleh muridnya pada acara-acara yang dikelola muridnya sendiri.

Sebagai contoh, acara rutin yang resmi dilaksanakan di lingkungan pendidikan tapi berbau bullying adalah acara rekrutmen organisasi ekstrakurikuler, masa orientasi siswa, atau bentuk-bentuk acara lainnya yang berbau perploncoan dari jenjang sekolah menengah hingga jenjang perguruan tinggi.

Tak hanya di Indonesia, kasus bullying pun menimpa sekolah-sekolah di beberapa negara. Penelitian Junifrius Gultom (2007) menyebutkan, Selandia Baru (15 persen-SMA), di Inggris (27 persen-SMP dan 10 persen-SMA), Australia (25-30 persen bahkan tiap hari), dan secara internasional (23 persen-SMP dan 10 persen-SMA).

Kegagalan Pendidikan

Maraknya kasus bullying yang bersifat destruktif dilihat dari sudut pandang lain juga merupakan potret buram kegagalan pendidikan kita. Betapa para pelajar kita tidak cukup hanya diajari mata pelajaran tertentu, atau hanya didorong untuk lulus ujian. Pelajar dan remaja membutuhkan sesuatu yang lebih dari itu: moral dan etika secara practical.

Karenanya, pendidikan harus kembali benar-benar diarahkan untuk tidak sekadar menggenjot capaian-capaian pada aspek kognitif semata, namun harus diseimbangkan dengan aspek afeksi dan psikomotorik. Nilai bagus memang penting, namun tentu tidak hanya itu. Pengajaran dan pemantauan terhadap budi pekerti pelajar juga tidak kalah penting untuk dilakukan secara intensif.

Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang seharusnya mampu mencetak generasi yang siap menghadapi tantangan zaman. Kesiapan itu tentu bukan semata pada wilayah capaian nilai formal. Karenanya, sekolah harus mampu melihat dan memperlakukan pelajar sebagai pribadi yang utuh. Tidak pas kalau sekolah hanya menuntut siswanya belajar dan belajar untuk memenuhi target angka-angka.

Para pelajar harus dikenalkan untuk mempelajari kehidupan yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin dalam kondisi tertekan akan lahir generasi yang cerdas dan tanggap lingkungan. Kalau ini tetap dipertahankan, maka kita patut khawatir bila geng motor dengan aura kekerasannya akan semakin marak.

Untuk mengantisipasi sejak dini maraknya aksi kekerasan, maka langkah pertama adalah membersihkan budaya bullying di lingkungan pendidikan, baik yang dilakukan oleh pelaku internal maupun eksternal sekolah. Peranan guru dan para orangtua sangat diperlukan.

Orangtua perlu secara sungguh-sungguh memberikan kepedulian dan kasih sayang kepada putra-putrinya. Anak yang sudah telanjur terlibat anggota geng, perlu mendapat terapi orangtua. Kerja sama dengan psikolog bisa saja dilakukan, sehingga secara psikologis sedikit demi sedikit anak akan mendapatkan kembali kenyamanan berada dalam kasih sayang orangtua.

Selain itu, perlu upaya penanaman nilai-nilai agama, terutama tentang akhlak (moral dan etika). Dengan begitu anak akan mengetahui mana yang layak dilakukan dan mana yang tidak boleh dilakukan. Sehingga pada saat mereka sudah mulai berinteraksi dengan masyarakat, mereka tahu batasan-batasan dan aturan yang harus dipatuhi.

Perlu pula diupayakan adanya berbagai program kreatif yang mampu mewadahi aktivitas anak-anak muda agar mereka bisa mengekspresikan diri dalam koridor yang benar. Dalam hal ini tentu menjadi tantangan yang harus dijawab oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga dan berbagai organisasi pemuda. Anak-anak muda itu perlu diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, membuka ruang publik seluas-luasnya bagi anak muda untuk berkarya dan berkreasi.

Misalnya memberikan kegiatan dan pendidikan yang lebih relevan dengan kebutuhan anak muda zaman sekarang yang mengarah pada pengembangan potensi anak muda. Kita perlu memberikan bekal yang cukup bagi mereka untuk menyongsong tahap berikutnya sebagai manusia dewasa yang nantinya akan terjun ke dalam kehidupan bermasyarakat. []

*) Saiful Amin Ghofur, Guru Luar Biasa Ponpes Roudlotun Nasyi’in Beratkulon Mojokerto

2 Comments

  1. guru luar biasa atau biasa diluar? hehe…

    • yang benar memang guru-luar-biasa sebab ronas kuwi ponpes luar biasa [PLB]–sih sedulur dengan sekolah luar biasa [SLB]..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.