Kejujuran Ahmad Wahib

AHMAD  Wahib meninggal pada 31 Maret 1973 di usia yang masih muda, 31 tahun (lahir 9 Nopember 1942) ketika tengah menekuni masa training profesinya sebagai reporter majalah Tempo. Satu-satunya warisan intelektual yang ditinggalkannya adalah serpihan catatan harian—beberapa bagian merupakan hasil diskusi secara intensif dalam Limited Group yang dipromotori oleh Mukti Ali dan sebagian lainnya adalah pergolakan Wahib sebagai pribadi yang selalu gelisah dalam pencarian identitas—yang telah diterbitkan pertama kali oleh LP3S pada tahun 1981 di bawah judul Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib.

Buku yang terbit setelah rentang delapan tahun kematiannya ini sempat menggemparkan panggung intelektual Indonesia dan menyulut reaksi pro-kontra yang cukup luas. Tak kurang H.M Rasjidi menyatakan bahwa buku itu adalah sebuah tragedi besar yang dapat meracuni (bahkan menyesatkan?) pemikiran umat Islam kebanyakan sekaligus menganjurkan agar berhati-hati membacanya. Tetapi jika mencermati latarbelakang Wahib berikut pergaulannya yang trans-kultural selama di Yogyakarta, kitapun semestinya maklum.

Wahib dilahirkan di Madura. Ada sementara penilaian bahwa orang Madura memiliki sifat keras dan ulet. Bisa jadi hal ini dikarenakan kondisi alam yang panas, tanah yang tandus dan dikepung oleh gelombang lautan. Di sanalah Wahib dibesarkan dan dididik untuk tegar menghadapi kehidupan. Nuansa pikiran Wahib keras seperti cadas. Wahib senantiasa menggelindingkan pikiran-pikiran itu agar kita segera sadar dari mimpi. Gejolak hati Wahib seumpama gelombang lautan yang ia lihat dan ia gumuli. Kegelisahannya merupakan pasang surut yang tak dapat ia hindari.

Di Yogyakarta ia hidup satu atap dengan komunitas Kristiani-Katolik di Asrama Mahasiswa Realino. Dari sini Wahib mempertentangkan doktrin-doktrin keagamaan yang telah diterima sejak kecil terutama yang memojokkan umat beragama selain agama yang dianutnya (Islam). Wahib merasakan doktrin-doktrin itu tak adil sebab mengklaim mereka celaka (baca: masuk neraka). Padahal, dalam berinteraksi sosial justru mereka sangat apresiatif. Karena itulah hati Wahib bergejolak meronta dan memberontak kepada Tuhan. Ya, tiap-tiap manusia menempuh cara-caranya sendiri dalam mendekati Tuhan…aku tak tahu, apakah Tuhan sampai hati memasukkan dua orang bapakku itu ke dalam api neraka. Semoga tidak (PPI, hlm. 40-41).

Perbedaan Pemikiran

PERBEDAAN pemikiran pada dasarnya merupakan khazanah intelektual yang menguntungkan.dalam sejarah Islam, perbedaan pemikiran itu sendiri menjadi sesuatu yang niscaya sebab masing-masing orang sangat dipengaruhi oleh latar belakang dan kepentingan dirinya. Karenanya, Islam dan pemikiran tentang Islam patut dibedakan. Menurut Moeslim Abdurrahman (1989) pemikiran Islam lebih berorientasi pada ide dan pemahaman yang subjektif untuk menangkap pesan-pesan Tuhan yang objektif.

Sebagai kebenaran yang subjektif pemikiran Islam senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan sesuai dengan kapasitas seseorang baik pada tingkat pengetahuan ataupun pengalaman. Untuk itu setiap pemikiran Islam selayaknya disikapi secara terbuka sebagai suatu kesungguhan usaha seseorang dalam menggapai kehendak Tuhan.

Pada ruang ini Wahib banyak mengkritik sikap keberagaman umat Islam yang takut untuk mengevaluasi pemikiran Islam yang terlanjur dimapankan. Wahib berani mengampanyekan tradisi berpikir merdeka yang oleh sementara kaum ortodoks dipandang sebagai kegiatan terlarang. Sebab mereka beranggapan bahwa kemerdekaan berpikir tentang agama tak lain merupakan indikasi akan kelemahan Tuhan dalam bertindak. Kemerdekaan manusia dalam berpikir dipagari oleh norma-norma agama, jika apabila ada orang yang melakukan hal itu niscaya terjerumus ke dalam kubangan dosa yang tak terampunkan.

Kemerdekaan berpikir Wahib inilah yang sepatutnya kita refleksikan untuk merenungkan kembali pemikiran Islam yang kontekstual dengan masa kekinian. Mafhumlah sekiranya Wahib termenung dalam-dalam. Aku belum tahu Islam yang sebenarnya. Aku baru tahu Islam menurut Hamka, Islam menurut Natsir, Islam menurut Abduh, Islam menurut ulama kuno…yang aku cari belum ketemu, yaitu Islam menurut Allah. Tapi biar yang penting adalah keyakinan dalam akal sehatku bahwa apa yang kupahami adalah Islam menurut Allah (PPI, hlm. 27).

Subjektivisme pemikiran Islam biasanya dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal mencakup, di antaranya, perbedaan dalam isi ajaran dan adanya teks al-Quran yang terbuka bagi banyak pemahaman (multi-interpretable). Sementara faktor eksternal mengacu pada kondisi sosial-politik yang terjadi, aspek geografis, budaya dan sejarah. Dengan demikian, persoalan keagamaan adalah masalah yang sangat privasi tanpa ada kemampuan apapun yang bersifat memaksa.

Wahib Bukan Apa-Apa

BERAGAM gejolak hati yang tertuang dalam catatan hariannya sama sekali tidak identik dengan diri Wahib. Bahkan…aku bukan Wahib. Aku adalah me-Wahib. Aku mencari dan terus-menerus mencari, menuju dan menjadi Wahib. Ya, aku bukanlah aku. Aku adalah meng-aku yang terus menerus berproses menjadi aku (PPI, hlm. 55).

Maka tentu menjadi sangat naif bilamana kita menghakimi Wahib dengan kapasitas kedisinian kita yang padahal dipisahkan oleh perbedaan persoalan yang dihadapi serta oleh semangat jaman juga. Tentu Wahib bukanlah apa-apa di mata kita. Wahib hanya seorang pemuda yang kini telah terkubur dan hampir terlupakan. Wahib bukanlah seorang ilmuwan yang sangat ilmiah. Wahib cuma segenggam emosi sebentuk cemeti yang membangunkan kita sebagai generasi muda dari keterlenaan dan kemapanan pemikiran. Wahib berusaha membongkar otak kita sebagai generasi pembaru yang anti-kemapanan dan terus merindukan perubahan konstruktif. Sehingga kelak Wahib-wahib baru akan muncul di tengah-tengah masyarakat yang merindukan keadilan, kasih sayang dan pembaruan.

Wahib, sekali lagi, bukanlah apa-apa. Tapi ia merupakan apa-apa yang kita pikirkan, kita gelisahkan, kita renungkan dan kita cita-citakan. Kejujuran pemikirannya dalam mengungkapkan emosi kehidupan dan kegelisahannya untuk berkomunikasi dengan Tuhan telah mengantarnya menjumpai Tuhannya. Kejujuran pemikiran itulah yang menjadikan Wahib terus menimba banyak pertanyaan dari dalam dirinya sebagaimana laiknya seorang filsuf. Seorang filsufkah Wahib? Jawabannya tergantung dari cara kita masing-masing dalam menilainya.

Perlu kita camkan kegusaran Wahib. Saya tidak tahu apakah saya sudah berpikir terkutuk untuk terlibat dalam pertanyaan-pertanyaan yang tidak pernah selesai. Mungkinkah semua itu akan membenamkan aku dalam pengembaraan abadi? Ah, beribu-ribu soal timbul di hati, ratusan pertanyaan bergejolak di kepala tak diketahui jawabannya. Sayang sekali, tak seorangpun bisa mengerti bahwa pergulatan jenis ini mustahil terjawab dalam forum intern (PPI,  hlm. 54).

Wallahu A’lam.

*) Penulis adalah Saiful Amin Ghofur, Pengagum Wahib, tinggal di Krapyak Yogyakarta.

2 Comments

  1. Ya, aku bukanlah aku.
    Aku adalah meng-aku
    yang terus menerus berproses menjadi aku

    Aku punya artikel ttg “Aku 1 s/d 3”. Intinya:

    Tadi aku daging,
    Nanti aku roh, dan
    Kini aku adalah jiwa.

    Salam!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s