Kebangkitan Hijriyah

SLOGAN tentang kebangkitan Hijriyah, kerap kita dengar. Tetapi apakah hal tersebut memang benar-benar nyata, ataukah sekadar jargon klise yang tak pernah terwujud dalam kenyataan? Lalu apakah dengan semangat Hijriyah, bisa mengatasi pelbagai problematika yang tengah menimpa bangsa ini? Untuk mengungkap lebih jauh persoalan tersebut, Choirul Musthafa dan Saiful Amin Ghofur dari MIMBAR PEMBANGUNAN AGAMA bertandang ke UII Yogyakarta menemui Prof. DR. Amir Mu’allim, MA, Ketua Program Pascasarjana Magister Studi Islam UII Yogyakarta.

Berikut petikan wawancaranya:

Apakah slogan kebangkitan Hijriyah itu memang memiliki akar kesejarahannya?

Istilah kebangkitan hijriyah, sebenarnya mempunyai akar sejarahnya. Dan ini riil. Dalam peristiwa hijrah tersebut, Nabi Muhammad menghadapi kenyataan situasional yang teramat berat. Itu terjadi secara fisically. Sehingga perlu suatu perwujudan baru yang bisa mencerahkan, bisa membuat semacam enlightenment pada diri Nabi SAW. Dan, itu mengandung makna yang sangat besar.

Tapi sekarang ini istilah hijrah kan mengalami perubahan makna…

Betul. Bahkan istilah tersebut bisa dicantolkan ke dalam segala aspek kehidupan. Hijrah kini juga dimaknai sebagai perpindahan dari sesuatu yang batil menuju kepada sesuatu yang baik. Namun pada intinya, ruh hijrah itu adalah terletak pada perpindahan minadh-dhulumati ilan nur; dari kegelapan menuju pencerahan. Artinya, jika kondisi masyarakat sudah menjadi serba gelap, maka diperlukan adanya suatu peradaban baru, suatu perwajahan yang baru. Sehingga di manapun diri Nabi berada, selalu membentuk performa kewilayahan. Sehingga di setiap tempat beliau selalu memproduk adanya perubahan-perubahan yang menuju ke arah yang lebih baik.

Artinya dalam konteks sosial, kebangkitan hijriyah itu memang merupakan sesuatu yang sangat konkret?

Tepat. Itu memang  ada bentuknya dalam dimensi sosial. Semisal kalender hijriyah. Setiap kali kita melakukan sesuatu dalam artian ibadah, selalu memakai hitungan kalender tersebut. Sebab dalam hijriyah itu mengandung aspek kepercayaan, aspek teologis, yang sangat erat kaitannya dengan Islam.

Lalu adakah prototipe yang bisa digunakan sebagai acuan bentuk…

Pada zaman Nabi, jelas. Begitupun pada masa-masa Khulafaur Rasyidin, kepemimpinannya juga memiliki bentuk sebagai pewaris Nabi. Lalu dalam pengertian sosial-politik, kita mengenal daulah Abasiyah, daulah Umayah, serta daulah Fatimiyah. Sebagai simbol, model dan corak mereka telah tampak jelas. Pembentukan karakter pada masa-masa itu sangatlah tampak sekali. Tetapi setelah itu, sudah nggak ada yang muncul lagi. Jadi ada semacam garis putus dari generasi pelanjutnya. Padahal sebagai garis perjuangan, maka haruslah sustainable, berkesinambungan dan berkelanjutan.

Lantas apa yang bisa kita lakukan, sehingga bisa menyambung kembali garis sejarah yang telah terputus-putus tadi?

Kita harus bisa membuat sebuah komunitas percontohan. Jadi ketika kita mengambil rujukan sebagai negara Islam umpamanya, ada sebuah percontohannya secara bulat. Tetapi hingga kini hal itu belumlah muncul, sehingga kita kesulitan ketika harus menyebut satu negara yang benar-benar sesuai dengan tatanan Islam. Terjadinya tindak kriminal, pelecehan seksualitas dan penganiayaan fisik di negera Timur tengah, menandakan  bahwa memang beulm ada performance wilayah yang bisa mewakili seperti pada zaman Nabi Muhammad dulu. Begitupun secara ketokohan, kita sulit untuk menentukan siapa tokoh yang berkaliber dunia dan pantas kita sebut sebagai representasi sebagai tokoh Islam; yang bisa kita jadikan sebagai ikon uswatun hasanah.

Kalau dalam konteks dan dimensi kultural?

Peradaban hijriyah belum memasyarakat. Kita masih gagal untuk membumikannya. Padahal pada tahun 80-an semangat hijriyah itu sudah muncul ke permukaan, hingga bisa menjadi perimbangan dari maraknya peradaban lain. Corak hijriyah itu akhirnya tenggelam lagi, karena tak banyak generasi penerusnya yang sanggup untuk menirunya. Sehingga kini yang tampak justru kebudayaan masehinya. Masyarakat luas justru lebih terserap pada simbol-simbol yang non-hijriyah; seperti globalisasi, modernisasi, internetisasi atau yang semacamnya.

Barangkali generasi sekarang ini tak begitu suka memunculkannya secara vulgar?

Lho.. peradaban itu kan ditampakkan melalui simbol-simbol. Kebangkitan hijriyah itu maknanya adalah memunculkan bentuk simbol-simbol yang menuju ke arah yang lebih baik. Yaa… namanya orang pindah, dia pasti mencari sesuatu yang lebih baik dari yang sebelumnya. Jadi kita tetap harus memunculkannya pada tataran simbolisasi tersebut. Semisal melalui produk unggulan madrasah, pondok pesantren atau perguruan tinggi, yang tak hanya unggul pada wilayah ilmu semata. Mereka haruslah memiliki corak tersendiri, yang model tersebut mengacu pada semangat hijriyah.

Atau lewat jalur lainnya.. seperti melaui bidang hukum peradilan misalnya?

Tentu saja. Cuma kata adil dalam konteks hijriyah maknanya jauh lebih luas, lebih komprehensif. Bahkan terhadap diri sendiri, kita juga harus berlaku adil. Kasih porsi hak sehat, hak tidur, hak makan dan sebagainya. Seperti yang tertera dalam al-Qur’an, “Hendaknya engkau berlaku adil. Sebab adil itu akan mendekatkanmu pada ketaqwaan.” Ayat ini menginspirasikan bahwa keadilan itu akan berimbas pada aspek lain; ekonomi, sosial-kemasyarakatan, lingkungan hidup dan seterusnya. Artinya bahwa prinsip keadilan itu berkaitan erat dengan kemiskinan, kesejahteraan sosial dan kemakmuran. Makanya Nabi sangat menekankan pada sosok imam yang adil. Sehingga seorang pimpinan harus menampilkan sosoknya sebaga figur yang dapat diteladani. Kalau adil dalam konteks lembaga peradilan, Rasulullah pernah bersabda bahwa dua dari tiga hakim itu akan masuk neraka. Jadi, adil itu memang sangat sulit sekali untuk ditegakkan. Sebab kalau sudah jadi jaksa, pengacara, hakim dan polisi, sikap egonya masing-masinglah yang lebih dikedepankan…

Atau juga dengan sabdanya yang lain, “Jika saja Fatimah binti Muhammad mencuri, maka aku sendiri yang akan memotong tangannya…

Betul. Itu menunjukkan objektivitas dalam peradilan, bahwa hukum itu benar-benar nggak pandang bulu. Jadi kalau salah, ya salah. Nggak peduli siapa saja. Pengaruh-pengaruh eksternallah yang membuat keberadaan dunia peradilan kita semakin rapuh. Solusinya, baik dari sisi perundangan dan para penegak di lembaga peradilan harus sama-sama dibenahi.

Jadi intinya, untuk bisa membangkitkan peradaban hijriyah itu kita harus bagaimana?

Mulailah dari diri sendiri; ibda’ binafsik. Masing-masing kita harus jadi pemain di bidangnya masing-masing. Harus punya peranan. Jangan hanya jadi penonton. Oleh sebab itu, setiap kita harus memiliki potensi yang bisa disumbangkan untuk kebaikan masyarakat dan bangsa. Sebab tegaknya suatu bangsa itu bermuara pada akhlak. Apabila moralitas suatu bangsa sudah nggak ada, maka hanya tinggal menunggu keruntuhannya. Jadi.. mari kita bertanya pada diri sendiri: apa yang harus saya berikan bagi masyarakat dan bangsa ini… []

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s