Kearifan Mistik di Sudut Pesantren

DUNIA pesantren memang tak pernah sunyi bagi inspirasi. Ibarat intan permata yang setiap sudutnya berkilauan, pesantren senantiasa menyuguhkan orkestra kehidupan yang terus melambai-lambai untuk disambangi. Entah oleh penulis, peneliti, sastrawan, bahkan orang biasa sekalipun. Mereka tentu menghampiri pesantren dengan perspektif yang bijak sesuai dengan eksistensi masing-masing.

Sebut saja misalnya Nurcholis Madjid dengan Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan (Jakarta: Paramadina, 1997).  Cak Nur mengupas historisitas pesantren serta perannya dalam kancah sosial-keagamaan di nusantara. Atau Zubaidi Habibullah Asy’ari dengan Moralitas Pesantren (Yogyakarta: LKPSM, 1996). Karya yang dibukukan dari tesis Zubaidi di Program Pascasarjana MSI UII ini melihat ontran-ontran pesantren di tengah pusara kepentingan zaman. Pesantren acapkali diperebutkan dan terlibat dalam kepentingan tertentu, terutama politik, sehingga tak jarang pesantren mengkhianati khittahnya: dari entitas sosial-keagamaan menjadi lokomotif politik praktis.

Masih ada lagi karya Didik Komaidi, Santri Lelana (Yogyakarta: P_Idea, 2006). Didik memotret ritus keseharian pesantren semisal percintaan di kalangan santri, etika terhadap kyai, dan kesulitan belajar di pesantren menjadi rentengan cerita pendek yang bersahaja. Juga Zulkifli dengan Sufi Pesantren (Yogyakarta: LKiS, 2002). Zulkifli melacak akar genealogis tradisi tasawuf di pesantren hingga menjelmakan aliran tariqat yang beragam.

Itulah sedikit contoh karya yang berkubang dalam kawah candradimuka pesantren. Namun jika diteroka lebih jeli, masih tersisa sejengkal ranah di sudut pesantren yang jarang—untuk tidak mengatakan tidak sama sekali—dijamah, yaitu sesuatu yang magis dan berbau klenik. Ranah ini adalah sudut pesantren yang paling sunyi, namun kehadirannya sungguh terasa. Di sana muncul kisah-kisah keramat, lelaku aneh, ritual yang dianggap melenceng dari kebiasaan alias khariqul adah.

Untunglah ada sosok Fahrudin Nasrulloh. Santri kelahiran Jombang 31 tahun silam (16 Agustus 1976) ini dengan keuletan yang layak diacungi jempol sanggup mengabadikan sisi lain kehidupan pesantren yang kerap diabaikan banyak orang. Tak tanggung-tanggung, ia menempuh laku sunyi sepanjang 15 tahun. Luar biasa! Ia berkelana dari satu pesantren ke pesantren lain, dari satu kyai ke kyai lain di seantero Jawa. Bahkan ia pun rela tenggelam dalam ritual aneh untuk menahbiskan dunia lain pesantren yang sukar dinalar.

Proses pengembaraan Fahrudin itulah yang didapuk menjadi buku berumbul Syaikh Branjang Abang ini. Di sini Fahrudin dengan gegap gempita mewartakan “sisi gelap” pesantren. Dengan tekun ia mencatat satu demi satu peristiwa aneh baik yang dialami sendiri maupun dikisahkan oleh kyai dan orang-orang linuwih yang ditemui semasa pengembaraan nan hening itu.

Simaklah catatan tentang “Pertemuan Rahasia Di Ploso Kuning”. Kisah nyata ini diunduh pada 2004 dari Kyai Abdullah Nglaren Condongcatur Sleman Yogyakarta. Pada November 1973 Kyai Abdullah bermimpi bertemu gurunya, Kyai Muhsin, yang wafat pada 1969. Kyai Abdullah diwejang agar pukul 12 malam keesokan harinya menyusuri kawasan wingit alas manik setan geni menuju masjid Patok Nagari di Ploso Kuning untuk menemui seorang lelaki tua. Berbekal mimpi ganjil ini, Kyai Abdullah berjalan ke Ploso Kuning yang berjarak sekisar 5 kilometer dari Nglaren.

Sepanjang perjalanan yang mencekam, Kyai Abdullah terus dikuntit segerombolan lelembut yang merangsek hendak menjamahnya. Serupa cerita sinetron, di ujung perjalannya muncul seorang lelaki tua berjanggut putih panjang terpekur sendiri. Siapakah gerangan? Ternyata ia adalah iblis yang menyaru. Tapi uniknya, iblis itu justru mewisik Kyi Abdullah tentang laku sejatinya hidup (hlm. 64-69).

Kisah menegangkan lain tampak pula dalam “Ziarah Ke Makam Giri Klitren”. Seorang santri bernama Brodin pada malam Jumat Pon pertengahan 2004 turut ziarah Kyai Siroh ke makam Santri Muda yang konon tak lain adalah Patih Gajah Mada di Kampung Giri Klitren Prambanan. Beberapa saat sewaktu lantunan tahlil bergema, Brodin merasa tersedot oleh pusaran gaib yang membawanya kembara ke dunia antahberantah. Di sana Brodin bertemu dengan tokoh purba seperti Ken Arok, Tunggul Ametung, Hayam Wuruk, Mpu Tantular, dan Gajah Mada. Brodin baru kembali ke mayapada ketika doa Kyai Siroh memecah keheningan malam (hlm. 150-154).

Bagi sebagian kalangan, kisah-kisah itu mungkin saja dianggap tahyul. Tapi percaya tidak percaya, inilah adanya. Bukankah ada sisi lain kehidupan di mana menjadi area terlarang bagi kepongahan akal untuk menepi di sana?

Fahrudin dengan segugus peristiwa yang dijabarkan dalam buku ini hanyalah pewarta. Soal diyakini atau tidak, semua terserah kita. Hanya saja, ia berhasil melampirkan nilai-nilai moral, kebijaksanaan, kearifan, dan hikmah dari setiap peristiwa yang ditangkapnya di sudut pesantren.

Namun sayang, Fahrudin terkesan tergesa-gesa meracik peristiwa demi peristiwa itu, sehingga diceritakan dengan landai dan nyaris tanpa daya kejut. Tak ubahnya air yang mengalir, walau bergemericik tapi tak ada pusaran arus yang menyedot kita sampai hanyut di dalamnya. Ia tak lincah mengawinkan imajinasinya dengan peristiwa aneh itu. Walhasil, tidak tertampik bila kesan reportase perjalanan sekonyong-konyong timbul sekhatam membaca buku ini. []

Judul Buku : Syaikh Branjang Abang
Penulis : Fahrudin Nasrulloh
Penerbit : LKiS, Yogyakarta
Cetakan : Pertama, 2007
Tebal : xix + 155 halaman

*) Saiful Amin Ghofur, Kerani Taman Bacaan Matahati Krapyak Yogyakarta.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s