Bunuh Diri sebagai Solusi

DI tengah bencana yang tak kunjung henti di sejumlah wilayah Indonesia, genderang duka mengalun dari Lowokwaru Malang pada Minggu malam (11/3) lalu. Ibu Junina Mercy membuat keputusan tragis mengakhiri hidup dengan menenggak racun potasium setelah sebelumnya meracuni empat anaknya hingga meregang nyawa. Tak urung, bukan hanya sang suami sekaligus ayah keempat anak itu, Hendri Suwarno, yang bermandikan airmata, sisi kemanusiaan kita pun tersayat-sayat.

Dari informasi yang dihimpun Surya (12/3), diperoleh keterangan bahwa beban ekonomilah yang menjadi faktor dominan motivasi bunuh diri berjamaah itu. Tentu saja, peristiwa di Kota Apel itu bukanlah hal baru. Laiknya fenomena gunung es, kasus bunuh diri juga terjadi di banyak daerah di Indonesia. Kini bunuh diri dipandang sebagian masyarakat sebagai solusi atas masalah yang membelitnya. Maka wajar bila bunuh diri kemudian menjelma sebagai sebuah potret masyarakat gagal (failed society).

Fakta ini telah membukakan mata kita bahwa ada yang tak beres dalam paradigma berpikir sebagian masyarakat. Hal ini tentu tak terlepas dari melemahnya fungsi sosialisasi, tata nilai, dan relasi antarpersonal. Sehingga manusia akhirnya dinilai dengan kekayaan, martabat, dan status sosial, bukan oleh nilai-nilai kemanusiaan (humanity values). Pada gilirannya, menguapnya penghargaan personal ini memantik situasi di mana orang tidak lagi berharga di mata orang lain.

Di samping itu, tatanan sosial dalam skala makro dianggap kacau balau. Iklim kompetisi dalam pusaran arus globalisasi tidak menyediakan banyak pilihan mapan sebagai sandaran hidup yang terus dihantam badai kemiskinan. Dalam bahasa Paulus Mujiran (2006) corak kapitalisme global yang semakin memiskinkan mereka yang lemah dan terus memperkaya mereka yang berdaya agaknya semakin memojokkan mereka sebagai kelompok sosial yang termarjinalkan. Nilai-nilai kejujuran dan keutamaan etis seolah-olah mengalami peminggiran. Bukankah kapitalisme global secara struktural semakin memperkaya mereka yang serakah dengan semboyan serakah adalah bagus (greedy is good)?

Dalam keadaan semacam inilah hidup dirasakan begitu absurd, mustahil, tak masuk akal, yang bermakna sebagai sesuatu yang tidak sepantasnya terjadi dan layak dijalani, serta sulit untuk dijelaskan dan dihadapi dengan hati nurani yang jernih. Bahkan realitas absurd itu pada akhirnya menjadi semacam irasionalitas. Sebabnya adalah keputusan yang dianggap terbaik justru tidak mempunyai kesesuaian dengan tuntutan serta situasi yang tersedia. Apa yang dipikirkan serta dinilai secara moral sebagai kebaikan justru sama sekali tidak ditemukan dalam dunia yang serba chaos semacam ini. Bunuh diri pun dianggap sebagai pilihan terbaik.

Tipologi Bunuh Diri

Emile Durkheim (1858-1917) melalui bukunya yang berjudul Suicide yang terbit pada tahun 1897, mendefinisikan bunuh diri sebagai “kematian yang secara langsung atau tidak langsung merupakan hasil dari tindakan positif atau negatif dari sang korban itu sendiri”.

Durkheim mencoba untuk melakukan analisis terhadap bunuh diri yang selama ini secara eksklusif didasarkan pada sudut pandang psikologis dan individualistik. Ini berarti bunuh diri merupakan gejala sosial yang dikerangkai oleh kondisi atau struktur kemasyarakatan yang melingkupinya.

Menurut Durkheim ada empat tipe bunuh diri yang didasarkan pada dua kekuatan sosial sekaligus, yakni integrasi sosial (kemampuan individu untuk terikat pada tatanan masyarakat) dan regulasi moral (aturan-aturan atau pun norma-norma yang mengatur kehidupan individu).

Tipe pertama adalah bunuh diri egoistik (egoistic suicide). Inilah corak bunuh diri akibat terlalu sedikitnya integrasi sosial yang dilakukan individu. Maksudnya, individu tidak cukup untuk melakukan pengikatan diri dengan kelompok sosial. Akibatnya adalah nilai-nilai, berbagai tradisi, norma-norma serta tujuan-tujuan sosial pun sangat sedikit untuk dijadikan panduan hidupnya.

Kedua, bunuh diri altruistik (altruistic suicide) sebagai hasil dari integrasi sosial yang terlalu kuat. Individu sedemikian menyatu dengan kelompok sosial, sehingga kehilangan pandangan terhadap keberadaan individualitas mereka sendiri. Puncaknya mendorong untuk berkorban demi kepentingan kelompoknya. Contoh, bunuh diri yang dilakukan kalangan anggota militer. Fenomena ini sering dilakukan tentara Jepang pada PD II dengan melakukan aksi kamikaze untuk menghancurkan kekuatan musuh.

Ketiga adalah bunuh diri anomik (anomic suicide) yang berarti bunuh diri yang dilakukan ketika tatanan, hukum-hukum, serta berbagai aturan moralitas sosial mengalami kekosongan. Terdapat empat jenis bunuh diri yang disebabkan situasi anomik ini, yakni, satu, anomi ekonomis akut, yang berarti kemerosotan secara sporadis pada kemampuan lembaga-lembaga tradisional (seperti agama dan sistem-sistem sosial pra-industrial) untuk meregulasikan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan sosial.

Dua, anomi ekonomis kronis, yang maknanya adalah kemerosotan regulasi moral yang berjalan dalam jangka waktu lama. Misalnya saja Revolusi Industri yang menggerogoti aturan-aturan sosial tradisional. Tujuan untuk meraih kekayaan dan milik pribadi ternyata tidak cukup untuk menyediakan perasaan bahagia. Tidak aneh misalnya, jika saat itu angka bunuh diri lebih tinggi terjadi pada orang yang kaya daripada orang-orang yang miskin.

Tiga, anomi domestik akut, yang dapat dipahami sebagai perubahan yang sedemikian mendadak pada tingkatan mikrososial yang berakibat pada ketidakmampuan untuk melakukan adaptasi. Misalnya saja keadaan menjadi janda merupakan contoh terbaik dari kondisi anomi semacam ini.

Empat, anomi domestik kronis yang dapat dirujuk pada kasus pernikahan sebagai institusi atau lembaga yang mengatur keseimbangan antara sarana dan kebutuhan seksual dan perilaku di antara kaum lelaki dan perempuan. Seringkali yang terjadi adalah lembaga perkawinan secara tradisional sedemikian mengekang kehidupan perempuan, sehingga membatasi peluang-peluang dan tujuan-tujuan hidup mereka.

Tipe keempat adalah bunuh diri fatalistik (fatalistic suicide) yang merupakan akibat dari regulasi atau pengaturan yang berjalan secara kontinyu dan berlebihan terhadap kehidupan individu. Di sini individu merasakan hidupnya tidak berharga karena sedemikian tertindas atau dibatasi ruang geraknya.

Fenomena banyak orang yang mengakhiri hidupnya secara tragis tak terlepas dari fakta bahwa masyarakat di kota-kota besar mengalami tekanan sosial atau tekanan kelompok yang sangat serius (Triyono Lukmantoro, 2005). Tekanan hidup bersumber dari banyaknya beban hidup karena hidup sebagian besar orang kian berorientasi pada materi. Celakanya, masyarakat tidak pernah dididik untuk mengembangkan kecerdasan emosi (emotional intelligence). Sebab hal itu tidak termasuk bagian dari proses pendidikan masyarakat Indonesia. Padahal, dari pendidikan kecerdasan emosi itulah diharapkan memecahkan masalah hidup yang riil. Karena tak ada materi itu, mereka tidak punya life skills, rapuh jiwanya, sehingga mudah terguncang.

Di sisi lain, masyarakat mestinya mempunyai katup pengaman masalah sosial, yakni keluarga. Akan tetapi, konsep ini tidak berjalan maksimal karena keluarga sudah tidak lagi dapat berfungsi sebagai tempat yang aman. Penderitaan hidup sepertinya ditanggung sendiri. Fungsi sosialisasi dengan masyarakat dan tetangga juga mengalami kemacetan.

Mestinya, jika ada orang dewasa yang yang mengalami problem psikologis, tetangga-tetangganyalah yang menolong. Namun, pola ini pun macet. Baik di perkotaan dengan masyarakat individualis maupun pedesaan yang sama-sama orang miskin, solidaritas semacam ini sudah menghilang.

Pasalnya, meski tetangga tahu ada sebuah keluarga terbelit masalah, yang muncul hanya ketidakpedulian. Perasaan tidak peduli ini, bisa terjadi karena beberapa hal. Misalnya, takut dianggap mencampuri masalah rumah tangga lain, atau mereka sendiri bermasalah. Sebagai contoh, ada keluarga terbelit utang dan tiap hari ribut. Tetangga sebelahnya yang juga punya masalah ekonomi, enggan membantu, karena mereka juga terjerat problem yang sama. Sedangkan tetangga yang lebih kaya, hampir pasti lebih banyak tidak peduli.

Terbatasnya ruang publik yang dapat menjadi sarana hiburan murah, membuat masalah ini makin kronis karena jarang ada keluarga yang dapat mengonsolidasikan kehidupan keluarganya. Dengan demikian, kasus bunuh diri Junina Merci tersebut merefleksikan kondisi masyarakat kita secara keseluruhan. Manajemen hidup bermasyarakat perlu dikelola lebih baik. Pada sisi ini, juga lunturnya sosok keteladanan merupakan salah satu penyebab mengapa bunuh diri kian marak.

Di samping itu, terjadi kemerosotan lembaga keluarga. Sebagai unit terkecil sosial, lembaga keluarga tak bisa memberikan rasa aman. Masyarakat tak memiliki tempat berlabuh dalam menghadapi himpitan sosial. Pada sisi lain, fungsi sosialisasi dalam keluarga tak berjalan efektif. Banyak orang kehilangan pegangan tata nilai. Juga terjadi anomali dalam lingkungan sosial. Individualisme, korupsi, hedonisme, materialisme, dan merosotnya keteladanan hidup.

Ketika ada sebagian orang menderita kemiskinan, kekurangan, sementara sekelompok lain menikmati hidup hidup dengan gelimang kemewahan, meski dengan korupsi. Padahal secara formal dan verbal soal-soal kebersamaan, kesahajaan, kerja keras, dan kepatuhan masih coba ditanamkan. Masyarakat pun dihadapkan pada ambiguitas. Dalam kondisi demikian, sajian televisi makin memperburuk keadaan. Tayangan televisi lebih banyak menyuguhkan acara dengan seting kehidupan serba mewah.

Pertanyaannya adalah, apakah semua ini adalah fenomena deviasi belaka atau sebetulnya kita ini sedang dihadapkan pada persoalan yang lebih besar lagi. Kita khawatir kasus bunuh diri itu bukan sekadar satu butir kegagalan dari satu tandan kelapa. Kita cemas terhadap sebuah anomali yang tidak kita sadari sedang terjadi. Kita bisa terjebak dalam lumpur kesusahan. Kita menyaksikan keterpurukan ekonomi tak kunjung usai. Pendapatan perkapita kita terus merosot, sedangkan biaya hidup terus meningkat. [*]

*) Saiful Amin Ghofur, Dosen Tamu STAI Daruttaqwa Gresik.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s