Buku Lawan Kekerasan

SEPERTI dikhawatirkan banyak orang, tayangan smackdown yang diputar secara intens oleh Lativi akhirnya meminta tumbal. Seorang anak di Bandung menjadi martir bagi sebuah pengorbanan yang sia-sia. Puluhan anak lainnya yang tersebar di berbagai kota, meski tak mengalami nasib serupa, mereka harus rela kehilangan kesempatan emas mencecap ilmu di sekolah sebab babak belur dan terbaring lunglali di rumah sakit.

Orang pun ramai-ramai mengecam smackdown sebagai biang kerok tragedi berdarah-darah itu. Hingga akhirnya Lativi selaku pemegang hak siar terpaksa memangkas tayangan sportainment—meski karenanya harus menanggung rugi milyaran rupiah. Angan-angan menangguk untung besar pun terpaksa harus bubar.

Walau begitu seberkas pertanyaan perlu dilesapkan: benarkah smackdown yang nota bene tayangan bernuansa kekerasan menjadi motivator tunggal mengerasnya aksi kekerasan pada anak hingga meminta tumbal? Memang, harus diakui bahwa gempuran informasi media, baik visual maupun cetak, ikut menggiring imajinasi anak dan mendorongnya agar (seolah-olah) terlibat langsung dengan apa yang dilihat. Maka saya pun memaklumi kegelisahan Satmoko Budi Santoso (JP, 2/4/2006) tentang siapa yang memantau aktivitas seorang anak yang sendirian di rumah sambil nonton televisi karena ayah dan ibunya kebetulan sedang pergi, siapa yang dapat menyensor apa yang ia tonton seandainya ia menemukan remote control.

Namun jarang kita berpikiran mengenai—meminjam bahasa Arkoun—apa yang tidak terpikirkan (unthinktable). Dalam konteks ini, buku-buku yang dikonsumsi anak sejatinya turut andil menjerumuskan perilaku anak ke dalam kubangan kekerasan. Buku-buku yang saya maksud di sini adalah buku cerita fiktif, terutama yang menonjolkan gambar sebagai unsur penguat cerita. Lihat saja, buku cerita fiktif Jaka Sembung, Si Buta dari Gua Hantu, Gundala Putra Petir, dan Wiro Sableng dengan menampilkan tokoh lokal, atau juga beragam cerita dan tokoh-tokoh impor seperti Crayon Shinchan, Doraemon, Kungfu Boy hingga Harry Potter adalah sedikit tamsil dari sekian banyak buku fiktif yang menyuguhkan kekerasan sebagai seting cerita.

Ketika anak membaca cerita fiktif tersebut, maka siapa yang sanggup menghadang imajinasi anak untuk tidak bersetubuh dengan alur cerita. Imajinasi anak akan menyusup jauh ke relung cerita. Berbaur dengan beragam konflik dan kekerasan yang bersembunyi di lekuk-lekuk halaman. Tamat membaca, imajinasi anak terisi oleh libido baru dan berharap muncul kesempatan agar gairah imajinasi bisa segera terlampiaskan. Persis ketika kita selesai menonton film laga, sekonyong-konyong imajinasi menjadikan kita seorang jagoan yang bawaannya ingin bertengkar melulu karena terpengaruh oleh karakter tokoh utama.

Daya serap pemahaman yang rapuh menjadikan anak sasaran empuk bagi beragam faktor eksternal yang saling berebut mengisi karakter kepribadian anak yang tengah dalam proses pembentukan. Hurlock (1991) menegaskan bahwa pada tahap ini anak memiliki kecenderungan-kecenderungan alami (natural tendencies) dan bermacam-macam minat spontan (spontaneous interests) untuk mencari jenis-jenis pengalaman dan kegiatan tertentu dalam mengisi hari-harinya.

Maka timbullah kelekatan anak terhadap faktor tertentu yang intens berinteraksi dengan anak. Terjalinlah ikatan afeksional pada anak yang ditujukan kepada figur lekat—meskipun tidak selalu tampak secara fisik—yang dimanifestasikan menjadi sebuah tindakan. Anak akan mengidolakan sosok figur dan meniru segala bentuk atribut yang melekat padanya.

Dalam konteks buku-buku bernuansa kekerasan, anak mendapat kesempatan bermimpi menjadi figur lekat idolanya yang dirasa jagoan dan selalu menang meski dilakukan dengan cara yang tidak sportif. Inilah fenomena yang jarang kita insafi.

Momentum hari HAM yang jatuh pada hari ini (10/12) perlu kita jadikan refleksi bersama. Bahwa menyuguhkan buku-buku yang mengandung nuansa kekerasan secara implisit pada dasarnya merupakan bentuk pelanggaran hak asasi anak. Oleh karena itu, merumuskan langkah strategis guna menyelamatkan anak dari segala bentuk kekerasan, bahkan yang terselubung sekalipun, merupakan kebutuhan yang sangat mendesak.

Pertama, perlu adanya seleksi ketat terhadap bacaan anak. Kita mesti jeli memilihkan buku bermutu, baik fiksi maupun nonfiksi, sebagai penunjang utama perkembangan karakter anak. Buku itu, kata Ali Syariati (1995), seperti makanan, tetapi makanan untuk jiwa dan pikiran. Buku adalah obat untuk luka, penyakit, dan kelemahan-kelemahan perasaan dan pikiran manusia. Jika buku mengandung racun, akan timbul bahaya kerusakan yang sangat besar.

Kedua, penerbit harus meneguhkan kesadaran akan pentingnya buku bagi konstruksi kepribadian anak. Penerbitan buku serial how to serta tokoh-tokoh teladan yang dikemas apik serta disuguhkan dengan teknik gambar visual yang menarik bisa memagut simpati anak untuk segera membacanya. Dengan sendirinya minat baca anak terhadap buku-buku  bernuansa kekerasan perlahan-lahan menguap. Dan yang pasti, dengan demikian fungsi buku terkondisikan sebagai salah satu media untuk meredam kekerasan. Semoga!

*) Saiful Amin Ghofur, Kerani Taman Bacaan Matahati Krapyak Yogyakarta

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s